Logo Resmi "Ethnic Art Of Java"

0

Tema Global
Secara kasat mata dapat kita lihat kontur reyog Ponorogo dominan sekali dalam logo tersebut. Ini memang disengaja agar supaya brand Ponorogo dan reyognya bisa menjadi icon bagi kota Ponorogo itu sendiri. Pengejawantahan dari huruf O menjadi bentuk yang dibuat sedemikian rupa sehingga bentuk tersebut bisa mewakili reyog , budaya dan kearifan lokal Ponorogo.
Tag Line
"ETHNIC ART OF JAVA" sebagai tag line Ponorogo memberikan makna bahwa Ponorogo mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota yang lainnya khususnya dibidang seni budaya. Dimana reyog sudah menjadi icon Ponorogo yang kita tahu sudah menjadi budaya nasional. Dan menjadi kebanggaan tidak hanya masyarakat Ponorogo akan tetapi bangsa Indonesia.


Bentuk Logo
Bentuk logo yang menyambung dari huruf N, O,dan  R diharapkan semua elemen masyarakat Ponorogo bisa menjadi satu visi dan misi untuk Ponorogo yang lebih baik.

Kontur bentuk reyog jelas itu adalah icon Ponorogo dan diharapkan bisa menjadi branding Ponorogo yang mewakili semua aspek seni budaya dan pariwisata Ponorogo.

Bentuk tumbuhan yang menggambarkan kesuburan dan perkembangan, diharapkan bisa menjadi semangat untuk menjadi semangant untuk maju dan berkembang sehingga bisa mencapai cita-cita bersama.

Bentuk logo yang simpel, dinamis, dan tidak kaku menggambarkan bahwa Ponorog itu luwes, ramah, dan up to date terhadap perkembangan jaman.

KRP Siap Mengawal Reyog Segera Mendapat Pengakuan UNESCO

0

Komitmen KRP untuk terus memperjuangkan produk seni budaya Reyog agar diakui United Nations Educational, Scientific adan Cultural Organization (Unesco) disampaikan saat menggelar syukuran Milad ke-1 Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) di kawasan Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat (21/08/2015) kemarin.

Ada puluhan grup reyog dan pegiat reyog yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya yang menghadiri acara tersebut. Dengan tema "Reyog Ponorogo Menuju UNESCO" KRP siap mengawal reyog mendapat pengakuan dari UNESCO.

"KRP siap mengawal Reyog agar segera diakui sebagai warisan budaya dunia. KRP juga meminta pemerintah untuk memfasilitasi proses usulan supaya reyog mendapatkan pengakuan dari UNESCO," kata Suyatno

Untuk memperjuangkan pengakuan reyog sebagai warisan budaya dunia KRP juga telah melakukan road show dengan menemui Bupati Ponorogo, M Amin, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan telah bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo.

"Walaupun KRP baru setahun didirikan, tapi kami sudah mempunyai kelengkapan organisasi, jadi kami bukan organisasi abal-abal atau ilegal. Bahkan Gubernur DKI mengapresiasi kelengkapan administrasi yang KRP miliki," tegas Suyatno

"Semua pejabat yang kami datangi memberikan apresiasi positif dan KRP akan terus mengkampanyekan Reyog Ponorogo menuju UNESCO," papar Suyatno yang juga pimpinan grup Reyog “Bantarangin”.

Sumber : jogjanews.com

Upacara Kemerdekaan di Desa Krebet, Warga Sangat Antusias

0
Warga antusias upacara berlangsung khidmat
PONOROGO | Beginilah semangat warga desa Krebet kecamatan Jambon Ponorogo, saat melaksanakan upacara HUT Kemerdekaan RI ke 70 tahun yang digelar di tanah lapang di desa setempat. Upacara ini diikuti semua warga desa dan uniknya peserta upacara, dibebaskan mengenakan pakaian apapun sesuai dengan kesehariannya, ada yang bawa cangkul, Scrop,semprotan padi, Keranjang rumput. bahkan warga yang idiot pun dengan 2 jempol, ingin menunjukan kegembiraanya dalam ucpara peringatan hut ri ke 70 tahun tersebut. Meski pakaian seadanya dan alas kaki apa adanya, namum para warga desa Krebet ini sangat semangat mengikuti kegiatan upacara yang di gelar di desanya.

Meski upacara yang di lakukan di kampung idiot ini cukup sederhana namum tidak mengurangi kekhidmatan dalam upacara peringatan HUT RI ke 70 tahun tersebut.

Salah satu warga mengaku terharu, bangga dan sangat senang, sehingga sulit diungkapankan bisa ikut upacara di hari kemerdekaan tersebut, karena selama ini, ia tidak pernah melakukan upacara 17 san seperti orang kantor pemerintahan.

Menurut ketua panitia HUT RI ,kegiatan ini dilakukan untuk memberikan semangat kembali kepada warga desa atas kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diraih dengan pengorbanan darah dan nyawa oleh para pejuang kemerdekaan tersebut. Sehingga dengan kegiatan upacara ini, bisa kembali memperkuat rasa nasionalisme yang ada di masyarakat.

Mifrohadi menambahkan untuk menyemarakan peringatan HUT RI ke 70 tahun tersebut, seusai kegiatan upacara akan digelar berbagai lomba, dengan tujuan untuk memupuk kebersamaan dan kegotongroyongan.

Sumber : Pojokpitu.com

Pakai Kostum Khas Pedagang Pasar Songgolangit Mengikuti Upacara HUT RI ke-70

0
Unik. Pedagang Pasar Songgo Langit memakai Kostum khas ponorogo dalam upacara peringatan HUT RI ke-70
PONOROGO : Ratusan pedagang pedagang Pasar Songgolangit Ponorogo menggelar upacara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70 di halaman parkir pasar Songgolangit Selatan(pasar lanang).

Sebelum digelarnya upacara, diawali dengan prosesi dengan membuang sesaji ke empat penjuru berlangsungnya upacara.

Dalam upacara tersebut semua peserta sampai pada petugas upacara mengenakan pakaian khas Ponorogoan, yang juga diikuti dengan penampilan group Reyog Ponorogo. “Ini istimewa buat para pedagang pasar Songgolangit, ini tetap semangat dan optimis banget,” ucap Irianto, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Songgolangit, Senin (17/8/2015).

Dengan mengenakan pakaian ala Ponoragan, Irianto berharap ingin menunjukan bahwa dengan semangat Ponorogo dan para waroknya bisa memberikan penyemangat bagi para pedagang.

Iriyanto yang juga menjadi inspektur upacara dalam pengibaran bendera merah putih tersebut, juga mengkritisi para pejabat. Dirinya berharap adanya perhatian tidak hanya pada fisik bangunan pasar, akan tetapi juga penataan pasar sehingga para pedagangnya.

“Saya gabungkan seni Ponorogo ini dengan budaya dengan acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ini karena rasa nasionalisme rakyat sekarang telah pudar, dalam kemasan ini supaya tampil beda,” ucap Tyas Gunarto ketua panitia. (teg)

Sumber : Lensaindonesia

Cara Polwan Polres Ponorogo Rayakan HUT RI ke-70

0
Polwan Anggota Polres Ponorogo saat meriahkan HUT RI ke-70
HUT RI– Polisi Wanita (Polwan) Kepolisian Resort Ponorogo Jawa Timur memiliki cara unik dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Mereka melakukan pertandingan futsal dengan mengenakan sarung. Hebatnya mereka bertanding melawan polisi laki-laki. Namun, sang polisi laki-laki harus menggunakan daster.

“Kami saat ini memang sedang merayakan Agustusan, dengan mengadakan berbagai lomba, salah satunya adalah lomba futsal ini. Kalau futsal itu kan biasa, tapi ini kami buat luar biasa karena kostumnya adalah sarung dan daster,” paparnya.

Pertandingan futsal antara Polwan bersarung dengan polisi berdaster tersebut digelar di halaman Markas Kepolisian Resort Ponorogo, Jumat (2015-08-14) pagi.

Wakil Kepala Kepolisian Resort Ponorogo Komisaris Polisi Suharnoto mengatakan, pihaknya memang sengaja menggelar perayaan HUT RI dengan cara yang unik.

Dalam laga itu, para wanita polisi yang cantik-cantik menunjukkan perjuangan yang hebat. Sebagai bukti mereka kalah tipis 3-4 dengan polisi laki-laki.[Responorogo]

Sumber : Tribatanews.com

© 2013 iPRESS. All rights resevered. Designed by Templateism