Longsor (Lagi) di Ponorogo Terjang 4 Rumah Warga

Bangunan rumah milik Jawan hacur diterjang longsor.(08/04/2015) foto by: sudarmawan/surya
Warga Desa Bendi Wetan, Kecamatan Bungkal tewas tenggelam di tengah persawahan akibat bencana alam banjir yang menerjang Desa Ketonggo, Kunti, Bancar, Bediwetan, Bedi Kulon, dan Desa/Kecamatan Bungkal serta beberapa desa lain di Kecamatan Balong dan Kecamatan Jetis,.

Tak hanya itu, bencana yangdi akibatkan hujan deras mulai Selasa (07/04/2015) hingga malam mengakibatkan longsor yang merusak 4 rumah warga dan menutup jalan antar dusun dan antar desa karena tertutup longsor. Diantaranya membuat 3 rumah warga terancam rusak diterjang longsor dan satu rumah warga Dusun Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, hancur diterjang longsor dari tebing yang ada di samping rumah.

Selain berdampak rusaknya tiga rumah dan hancurnya satu rumah warga, bencana tanah longsor juga menimbun jalan poros di Dusun Bungur. Akibatnya, warga harus berjalan kaki melalui tepian rumah warga agar bisa melintasi puing longsoran tebing itu.

Kondisi kerusakan parah akibat longsor menimpah rumah milik Jawan (49) warga RT 02, RW 05, Dusun Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal. Karena diterjang longsor dari tebing setinggi 20 meter dengan lebar longsoran 10 meter dan tebal longsor 1,5 meter di samping rumah korban.

"Longsornya bersamaan (turunnya) hujan. Makanya longsor dari tebing itu tidak terdengar. Padahal kami sekeluarga berada di dalam rumah. Akibat desakan material longsor tembok rumah sepanjang 5 meter jebol. Bahkan lumpur masuk ke kamar tidur saya dan anak saya. Untung semua belum masuk ke kamar. Selain itu lumpur masuk ke ruang tengah," terang korban longsor, Jawan, Rabu (08/04/2015).

Malam itu, paska mengetahui rumahnya rusak diterjang longsor, Jawan sekeluarga langsung membongkar rumahnya. Karena tebing setinggi 20 meter tersebut masih bergerak dan dikhawatir rumahnya terbenam longsor susulan.

"Kami sekeluarga harus pindah karena tebing itu masih bergerak bisa memicu longsor susulan. Tapi, mau kemana pindahnya kami belum tahu. Kami tidak punya tempat lain. Jika diperbolehkan kami mau menumpang di tanah milik perhutani. Tapi kalau tidak boleh saya akan serumah dengan mertua. Karena kerugian akibat longsor ini sudah mencapai puluhan juta rupiah," imbuhnya

Oleh karenanya, warga setempat, Rabu (08/04/2015) pagi masih bekerja bakti membongkar rumah korban longsor itu.

disadur dari : suryaonline

Tanam Pohon di Jalan, Warga Berharap Jalan Segera Diperbaiki

Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek ini jadi kebun pisang.  foto by:suryaonline/sudarmawan

BERITA PONOROGO | Tak kunjung ada perbaikan, Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek dijadikan 'kebun pisang' oleh warga Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo (6/4/2015).

Kondisi jalannya berlubang menganga cukup lebar dan dalam ini tatkala hujan tiba lubang jalan ini berubah menjadi kubangan air bercampur lumpur. "Itu memicu berbagai penyakit dan merusak kendaraan yang terjebak lubang, terutama shock dan terod kendaraan bisa cepat patah dan mati" ujar warga setempat.

Pohon pisang, batu, dan palawija ini di tanam pada lubang-lubang jalan yang cukup lebar dan dalam. Tujuannya untuk memberi tanda pada pengguna jalan serta sebagai bentuk protes kepada pemerintah agar jalan tersebut segera di perbaiki.

"Seharusnya mandor Jalan Provinsi segera melaporkan kerusakan jalan itu ke kantornya agar segera diperbaiki. Warga pasti akan diam meski perbaikannya hanya tambal sulam agar tidak menelan korban pengendara motor terjatuh," terang Andri salah seorang warga setempat, senin (6/4/2015)

Sudiarto (30) warga Desa/Kecamatan Bungkal, yang sehari hari bekerja sebagai sopir mengaku, setiap kali keluar rumah, dirinya sudah disuguhi pemandangan yang tidak sedap yakni kondisi jalan yang rusak dan amburadul.

"Makanya kami berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mendengarkan aspirasi masyarakat, mengecek lokasi dan memperbaiki kerusakan jalan itu. Karena jalan provinsi ini merupakan akses darat semua kendaraaan dari Ponorogo ke Trenggalek dan sebaliknya," imbuhnya

Sementara Kasi Jalan UPT Dinas PU Bina Marga Pemprov Jatim di Madiun, Marijatoel Kittijah menegaskan, pihaknya sudah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan berlubang di Jetis itu dan akan dikerjakan pekan depan.

"Sudah kami anggarankan, Insyaallah minggu depan diperbaiki karena ada kontraknya. Kami minta warga bersabar," pungkas perempuan yang akrab dipanggil Ketty ini

Disadur dari : suryaonline.co.id

Telat, Mbok Tumi Belum Dapat Bantuan

Bangunan rumah milik Mok Tumi ambruk, foto by:surya/sudarmawan
BERITA PONOROGO | Hujan deras disertai angin kencang, yang menerjang wilayah Ponorogo Kamis (02/04/2015) malam, selain menyebabkan 10 desa di 4 kecamatan terendam banjir, mengakibatkan satu rumah warga roboh rata dengan tanah milik pasangan suami istri Katimen (45) dan Nami (35) warga Dusun Sawahan, Desa Pulosari, Kecamatan Jambon, akan tetapi juga merobohkan rumah Mbok Tumi (65) warga RT 02, RW 01, Dusun Depok, Desa Jarak, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo.

"Saat itu hujan deras sekali, angin kencang tiba-tiba menerjang rumah. Tiba-tiba rumah bagian dapur milik saya ambruk karena temboknya ambrol," terang Mbok Tumi, Sabtu (04/04/2015).

Bangunan rumah yang bagian dapur ambruk rata dengan tanah itu, sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Ponorogo. Hal ini di sebabakan laporan dari desa yang baru di kirimkan dan didata kemarin.

Pemilik rumah yang sstatusnya seorang janda tersebut harus mengalami kerugian materiil sekitar Rp 5 sampai 10 jutaan.

Selain itu, kata Tumi, meski kerusakan rumahnya hanya di bagian dapur, akan tetapi dirinya tidak memiliki anggaran untuk membangun kembali bangunan rumahnya yang ambruk itu.

Sementara Kepala Desa Jarak, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Dakwatul Solikah menegaskan bencana rumah roboh milik warganya itu memang telat dilaporkan. Oleh karenanya, laporannya ke Camat dan BPBD Pemkab Ponorogo telat.

"Sebenarnya saya sudah langsung melaporkan ke Camat dan BPBD. Akan tetapi, kenapa belum dapat bantuan kami tak tahu. Padahal, bangunan rumah yang ambruk itu ukurannya 5 X 13 meter. Kami minta Camat dan BPBD Pemkab Ponorogo segera memberi bantuan karena laporan sudah kami sampaikan. Sampai hari ini janda tua itu belum dapatn bantuan dari BPBD sama sekali," tegasnya.

Selain itu, Dakwatul mengimbau kepada seluruh masyarakat melalui para perangkat di desanya agar segera melaporkan jika terjadi bencana baik puting beliung, banjir maupun longsor di desanya.

disadur dari : suryaOnline.co.id

Banjir Bandang Gerus Pondasi Jembatan Ketonggo


Jembatan Desa Ketonggo di tutup oleh warga Desa Ketonggo. foto by : surya/sudarmawan
BERITA PONOROGO | Para pengguna jalan harus memutar arah melalui Desa/Kecamatan Bungkal sejauh 2 hingga 3 kilometer. Karena jalur antar desa yang melalui jembatan Desa Ketonggo, Kec. Bungkal, Kabupaten Ponorogo telah di tutup oleh warga setempat.

Warga menutup akses jalan melalui jembatan itu untuk roda empat. Waga khawatir jembatan tak kuat menahan beban bila dilalui kendaraan roda empat, alasannya akibat pondasi jembatan Ketonggo ambrol di gerus banjir bandang bercampu lumpur.

"Ambrolnya tiang penyangga jembatan ini bersamaan hujan deras dan banjir bandang kemarin. Karena saat banjir banyak bambu hanyut dan berhenti di tiang penyangga jembatan yang tengah," terang Tuji warga setempat , Sabtu (28/03/2015)

Warga juga menghimbau pengendara roda dua agar berjalan hati-hati dan pelan pelan."Kami takut, jika tak ditutup ada kendaraan roda empat melintas di atasnya jembatan malah putus karena tak ada penyangganya. Khusus roda empat harus memutar melalui Pasar Bungkal," imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Ketonggo, Nur Ahmadi mengaku menyayangkan jembatan antar desa yang berada di jalan poros desanya itu rusak di bagian pondasi dan tiang penagga jembatannya. Apalagi jembatan yang berada di tengah-tengah desa ini merupakan akses satu-satunya menuju ke sejumlah desa di sekitar Ketonggo. "Di selatan sungai masih Desa Ketonggo dan utara jembatan masuk Desa Ketonggo dan pemukiman warga. Setelah itu masuk masuk ke Desa Kunti yang utara dan Desa Nambak yang selatan," paparnya.

Kini dia berharap, jembatan itu segera diperbaiki Pemkab Ponorogo. "Kami sudah melapor ke Camat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Ponorogo jembatan rusak karena bencana alam," ungkapnya.

Akan tetapi, sampai kini, belum ada dinas terkait yang mau mengecek kondisi kerusakan jembatan yang ambrol pada bagian tiang penyangga jembatan itu. "Laporan sudah, tetapi belum ada tindak lanjutnya sama sekali," pungkasnya.

Disadur dari : Suryaonline.co.id

Ponorogo, 18 Rumah Tertimbun Longsor


Pembersihan longsoran di jalan, foto by: surya/sudarmawan
BERITA PONOROGO : Sejumlah warga dan anggota Koramil Sawoo membersihkan material longsoran di jalan antar desa dan antar kecamatan di Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo yang tertutup tanah longsor, Jum'at (27/03/2015).

Hujan deras beberapa jam mulai siang hingga tengah malam Mengakibatkan bukit setinggi 3 meter ambrol dan menerjang jalan dan perumahan penduduk setempat, serta 18 rumah warga tertimbun longsoran. Diantaranya Dusun Ngengor menimbun 1 rumah, Dusun Duwet 1 rumah, Dusun Gondang 1 rumah, dusun Sumber 5 rumah, serta Dusun Salam ada 10 rumah warga yang rusak diterjang longsor.
 
Kepala Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, Murniati menjelaskan ke 18 rumah warganya yang rusak diterjang longsor itu ada berbagai tingkat kerusakan yakni mulai ringan, sedang dan berat. Alasannya, ada yang temboknya jebol, bangunan rumah miring (doyong) hingga ambrol. 

"Tetapi, kondisi rumah terparah milik Pak Manis dan Pak Sumarji, warga Dusun Salam. Rata-rata kerugian yang di alami ke 18 KK yang rumah nya diterjang longsong variatif hingga 15 juta." imbuhnya

Longsoran yang juga menutup jalan antar desa dan antar kecamatan, mengakibatkan arus lalu lintas tertutup total. Material longsor yang cukup padat dan tinggi, menyusahkan proses pembersihan.

Sementara itu, peristiwa bencana tanah longsor itu, kata Muniati sudah dikoordinasikan langsung ke Camat, Polsek, dan Koramil Sawoo sekaligus ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Ponorogo agar membawa bantuan untuk 18 KK rumah warga yang diterjang longsor.


Disadur dari: suryaonline.co.id

Petani Ponorogo Mulai Panen Padi

Para petani melakukan pemanenan menggunakan DOS, foto by: setenpo

BERITA PONOROGO : Pertengahan Maret (2015) ini para petani di Kab. Ponorogo mulai memasuki masa panen, seperti yang terjadi di Timur terminal Seloaji, Ponorogo. Petani mulai memanen padi mereka (pagi, 15 Maret 2015).

Mereka memanen padi secara tradisional dengan menggunakan arit, ada juga yang menggunakan mesin pemanen padi seharga 360 jutaan, yang akrab mereka sebut sebagai mesin DOS, sehingga pemanenan lebih cepat.
Mesin pemanen padi atau DOS, foto by: setenpo

Cuaca yang mendukung dirasakan petani kualitas padi mereka lumayan baik. Dengan rata-rata padi yang di hasilkan lebih dari 1 ton/kotak.

Namun harga padi kali ini turun, karena bertepatan dengan panen raya.
"Sak iki gabah garing sekitar 470.000/kwintal gabah teles 360.000/kwintal. Sesasi kepungkur gabah garing tau teko 570.000/kwintal, gabah teles 460.000,kui sing menangi rego duwur yo petani sing panen disik koyo daerah Ngawi karo Madiun” . Ujar salah satu petani yang ditemui SETENPO saat panen.

read:
"sekarang harga padi kering sekitar 470.000/kwital, (harga) padi yang masih basah 360.000/kwintal. Satu bulan yang lalu padi kering mencapai 570.000/kwintal, padi basah 460.000, itu yang dapat harga tinggi ya petani yang sudah panen duluan seperti daerah Ngawi dan Madiun." 

Dikutip dari : setenpo

.

Ponorogo, Polres Gulung Komplotan Curanmor

surya/sudarmawanAKBP Iwan Kurniawan memamerkan para tersangka kasus pencurian dengan kekerasan dan pencurian motor di halaman Polres Ponorogo sebagai hasil operasi Sikat Semeru 2015, Senin (02/03/2015)
BERITA PONOROGO - Satuan Reskrim Polres Ponorogo berhasil menggulung sejumlah tersangka dalam berbagai kasus pencurian.
Diantaranya dua kasus pencurian dengan pemberatan, empat kasus pencurian dengan kekerasan serta 16 kasus pencurian motor. Selain mengamankan para tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya motor dan mesin motor hasil curian.
Iwan mengungkapkan para tersangka yang berhasil diringkus itu merupakan Target Operasi (TO) petugas Polres Ponorogo selama ini.
Diantaranya, HN (33) warga Desa Sukosari,Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorgo karena tersangka sudah beraksi di 14 Tempat Kejadian Perkara (TKP), AF (28) warga Desa Kresikan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, ST (46) warga Desa Kareng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo yang keduanya pelaku pencurian di satu TKP yang sama.
"Meraka semua kami amankan dalam operasi Sikat Semeru yang dilaksanakan selama 2 pekan kemarin," terang Kapolres Ponorogo, AKBP Iwan Kurniawan kepada Surya, Senin (02/03/2015).
Mantan Kapolres Mojokerto ini menguraikan operasi Sikat Semeru 2015 sangat penting karena belakangan kasus kejahatan para pelakunya semakin berani menggunakan senjata tajam (sajam) dan senjata api (senpi).
Kendati demikian, pihaknya tidak berhasil mengamankan sajam dan senpi yang menjadi target operasi itu, meski berhasil mengungkap sebanyak 22 kasus pencurian beserta pelaku dan barang buktinya.
"Semua tetap akan kami proses dan akan kami kembangkan, karena tidak menutup kemungkinan masih ada jaringan dari para tersangka spesialis pencurian motor ini," tegasnya.

Disadur dari : suryaonline

Pansus Ingin Melestarikan Reog di Malang


Paguyuban Sutrisna Seni saat di Car Free Day, Kota Malang, Minggu (1-3-2015)
Malang | – Atraksi Reog yang disuguhkan Paguyuban Sutrisna Seni (Pansus) menambah semarak Car Free Day (CFD) di Malang. Warga yang datang di (CFD) Jalan Ijen Kota Malang, Minggu (1/3/2015) pagi, terhibur dengan adanya atraksi reog ini.
Paguyuban yang di ketuai oleh Randa Arinta Nugraha ini berkeinginan melestarikan reog di Kota Malang. "Dengan sering-sering mengadakan pertunjukan reog, diharapkan masyarakat Kota Malang tidak melupakan seni tarian tradisional Reog seiiring dengan kemajuan jaman" ujar Randa.
Mereka rutin mengadakan even setiap tiga minggu sekali, dan sering aktif diberbagai acara pagelaran seni tahunan di Malang.
Tak hanya menyuguhkan petunjukan-petunjukan seni tradisional, Pansus juga memberikan pelatihan tari tradisional. Pihaknya juga akan sering menggelar diskusi mengenai kebudayaan Indonesia yang sempat diklaim oleh Malaysia ini.

Gelar Perkara Korupsi RSUD Harjono

RSUD Harjono, Ponorogo.
BERITA PONOROGO | Kemarin (26/02/2015), Polres Ponorogo menggelar gelar perkara terkait dugaan korupsi proyek pembangunan RSUD Harjono, Ponorogo.
Gelar perkara yang di pimpin langsung oleh Kapolres Ponorogo AKBP Iwan Kurniawan di Ruang Pesat Gatra Polres Ponorogo, mengatakan pengecekan secara detail harus dilakuan agar bisa dibuktikan peranannya dalam korupsi ini. “Itu yang masih kita dalami dan kita pilah-pilah,” ungkap AKBP Iwan Kurniawan dikonfirmasi Jumat (27/2/2015).
Akan ada 12 orang jadi bakal calon tersangka baru, ungkap AKBP Iwan Kurniawan. Mereka menyusul empat orang lainnya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi RSUD Harjono. Tapi AKBP Iwan masih enggan mengungkap nama empat orang yang sudah jadi tersangka.
Calon tersangka baru ini berasal dari berbagai dinas dan memiliki berbagai peran dalam korupsi ini. Ada yang terbukti melawan hukum, merugikan negara tapi tidak memperkaya diri sendiri dan malah hasil korupsi itu dinikmati oleh orang lain. “Ada juga yang sudah memperkaya diri sendiri dan jelas melawan hukum. Kita harus hati-hati untuk itu,” ujarnya.
AKBP Iwan menambahkan, pekan depan pihaknya akan masih melakukan gelar perkara lagi setelah dari proses pemilahan ini. Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan.
Pada penanganan kasus korupsi proyek RSUD yang telah ditangani Polres Ponorogo alias kasus RSUD episode I, polisi telah menetapkan dua orang tersangka. Mereka adalah mantan Direktur RSUD Harjono Yuni Suryadi sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan stafnya, Kusnowo sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Untuk berkas korupsi RSUD episode I, berkasnya telah dinyatakan P21 atau sempurna oleh Kejaksaan Negeri Ponorogo. Bahkan sejak akhir pekan lalu, penanganan kasus RSUD episode I telah masuk tahap 2 atau telah dilimpahkan berkas dan tersangkanya dari Polres Ponorogo kepada Kejaksaan Negeri Ponorogo. Oleh BPKP, pada proyek ini telah terjadi kerugian negara sebesar Rp3,5 miliar.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Ponorogo AKP Hasran menyatakan, para calon tersangka ini bukan hanya mereka yang ikut terlibat secara langsung dalam proyek pembangun rumah sakit senilai Rp118 miliar itu saja, tapi juga mereka yang hanya ‘penggembira’ dalam proyek tersebut.

“Siapa yang terlibat kita libas, yang jelas ada lebih dari satu satker (dinas) yang terkait dengan proyek itu,” kata AKP Hasran
Disadur dari : lensaindonesia

Kerugian Puting Beliung Belum Bisa Ditaksir

Petugas dibantu warga evakuasi rumah roboh. foto by : surya.co.id
BERITA PONOROGO - Kerugian akibat bencana amukan angin puting beliung dan hujan es yang melanda 5 desa di Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo yang ada di lereng Gunung Masjid dan Gunung Rajekwesi hingga kini belum bisa ditaksir total nilai kerugiannya.
Tidak ada korban jiwa dalam bencana yang melanda Desa Pandak, Bulak, Sumberjo, Ngendut, dan Desa Kaarangpatihan ini. Dan nilai kerugiannya belum juga bisa ditaksirkan "Untuk kerugian materiil masih didata terus oleh perangkat dan Kades. Kami lebih mengutakan bantuan gergaji mesin ini untuk memotong pohon agar akses jalan kelima desa bisa dibuka," ujar Joko saat tanya.

Dari Kapolsek Balong sendiri lebih mendahulukan membuka akses jalan masuk kelima desa itu agar petugas dan BPBD Pemkab Ponorogo yang hendak membawa bantuan bisa masuk ke dusun-dusun.

"Sementara kami masih evakusi akses jalan dahulu termasuk evakuasi dua rumah roboh yang rata dengan tanah. Untuk puluhan rumah rusak berat dan ratusan rusak ringan di lima desa masih dilaksanakan kerja bakti warga. Khusus di Desa Pandak anggota dikonsentrasikan di kampung yang kondisinya parah ini," ujar AKP Sukamto

Ponorogo, Angin Puting Beliung Terjang 5 Desa di Kecamatan Balong

Salah satu bangunan warga yang rubuh terkena sapuan angin puting beliung. foto by: prayitno
BERITA PONOROGO | Selasa (24/02/2015) malam sedikitnya 5 desa yang ada di Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo porakporanda diterjang angin puting beliung disertai hujan es.
Bencana tersebut mengakibatkan dua rumah warga ambruk dan rata dengan tanah, serta puluhan rumah warga rusak berat dan ratusan rumah rusak ringan dan juga pohon bertumbangan.
Warga kian resah saat jaringan listrik dipadamkan oleh PLN. Sedangkan sebagian lagi jaringan listrik putus akibat tertimpa pepohonan yang ambruk menutup jalan antara desa dan dusun itu. Akibatnya, proses evakuasi tak bisa dilakukan pada malam itu juga melainkan harus ditunda sampai, Rabu (25/02/2015).
Kelima desa yang disapu angin puting beliung disertai hujan deras dan hujan kristal es itu adalah Desa Karangpatihan, Bulak, Ngendut, Sumberjo dan Desa Pandak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Dari kelima desa tersebut kondisi terparah ada di Desa Ngendut dan Desa Pandak. Kendati demikian, total kerusakan rumah masih dalam pendataan perangkat dan Kades masing-masing.
Salah seorang warga Desa Pandak, Bari mengatakan saat angin puting beliung disertai hujan deras dan kristal es itu kondisinya sangat mencekam. Warga pun tak berani keluar rumah karena kondisinya gelap gulitan. "Seumur-umur saya baru kali ini kejadian bencana puting beliung seperti ini. Kami menganggap mirip mau kiamat," terangnya kepada Surya, Rabu (25/02/2015) mendampingi warganya kerja bakti bersama TNI dan Polri.
Disadur dari : surya.co.id

TKI Ponorogo Jadi Fothografer Profesional

Salah astu Hasil Jepretan Maiya

HONGKONG,- Berita miring kerap ditujukan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bersal dari indonsia. Padahal tujuan mereka salah satunya ingin merubah ekonomi keluarganya. Apakah stigma miring itu akan selalu melekat pada para TKI kita. Apalagi Kota Ponorogo cukup di kenal sebagai pengekspor TKI ke luar negeri.

Mungkin kita tidak bisa menyalahkan kabar miring tersebut. Namun kadang kita jarang atau bahkan tidak tahu, banyak sisi positif dari TKI kita yang luput dari perhatian. Dari pandangan miring masyarakat itu akhirnya di tepis oleh salah satu TKI Ponorogo Hari Nursiti.

Hari Nursiti perempuan yang akrab disapa Maiya, lahir di Desa Bungkal, Ponorogo 29 September 1983 adalah Anak ke 4 dari 5 bersaudara. Sejak tahun 2009 memulai menjalani hidup dengan suatu keadaan yang memaksanya untuk jauh dari suami dan kedua anaknya.


“Karena harus mengadu nasib untuk bekerja ke negeri seberang yaitu Hong Kong untuk menjadi TKW karena keadaan dan kondisi ekonomi," ujarnya.

Sebelum menekuni hobi sebagai Fotografer, disaat liburan Maiya biasanya hanya sebatas duduk-duduk nyantai bersama teman-teman BMI lainnya. Watak perempuan dengan zodiak Libra memang mempunyai naluri yang kuat, mencoba berfikir untuk mengisi liburannya dengan aktifitas lainnya yang positif dan bermanfaat.

“Awalnya hanya sekedar coba-coba, dengan hanya bermodal memiliki sebuah camera untuk jepret sana jepret sini membidik teman-teman sebagai obyek, dan ternyata banyak yang suka dengan hasil foto saya,”terangnya.

Hari Nursiti mencoba menggali bakat dengan mengisi waktu libur, seperti yang dilakukan salah satu Buruh Migran Indonesia (BMI) yang saat ini mengadu nasib di Kota Beton, Hong Kong. Hari Nursiti (29), perempuan yang akrab disapa Maiya ini waktu libur selalu mengisi kesibukan dengan dunia fotografi. Dia bisa dibilang perempuan yang ulet, ditengah kesibukannya sebagai BMI.

“Saya selalu menyempatkan waktu santainya dengan tetap berkarya untuk terus mengasah hobi dan bakat bakatnya di dunia Fothografer,”ujarnya melalui akun media sosial.


Hari Nursiti alias Maiya
Belajar dari kesederhanaan dan otodidak Maiya memulai menganalisa hasil bidikannya dan terus mencoba untuk lebih sempurna lagi. Hingga Maiya mencoba ikut Hunting bersama Fotografer senior yang ada di lingkungan (Hongkong) tempat Maiya bekerja. Nampak perempuan berparas ayu ini lama-kelaman mulai senang dengan hobi jepretan cameranya. Dan pada akhirnya dia merasa telah menemukan dunianya barunya.


“Dari situ saya mulai mendapat pembelajaran dan pengalaman dalam dunia fotografi, para seniornya pun menganggap saya nggak bisa dipandang sebelah mata hasil jepretannya,”jelasnya dengan rasa malu.


Maiya yang punya keinginan untuk membuka Studio Foto di saat pulang kampung nanti, kini mulai dikenal di kalangan BMI dan masyarakat Hong Kong, pada akhirnya hobi nya ini menjadikan tambahan pemasukan karena sering kali di panggil untuk mendukumentasi atau menfoto orang-orang yang mengenal dirinya. Sebuah keinginan dan cita-cita yang maha luhur dari sosok perempuan TKI bernama Hari Nursiti.



Disadur dari : lingkarkota.com

East Java Scout Challenge Ponorogo, Persiapkan Anak-anak SD Untuk ke Amerika

Kegiatan pramuka siswa-siswa SD di Ponorogo (JIBI/Solopos/istimewa)
PONOROGO : Ribuan anak-anak siswa SD perwakilan se-Kabupaten Ponorogo tumplek blek mengikuti kegiatan kepramukaan di lapangan Makodim Ponorogo, Selasa (17/02/2015). 
Dalam acara yang bertema East Java Scout Challenge, penanggungjawab acara, Purbo, diselenggarakan untuk mencetak generasi bangsa yang berkualitas melalui kegiatan kepramukaan setingkat SD.
Tak hanya berkemah, sejumlah perlombaan dan permainan edukatif pun diadakan dalam acara tersebut. Kegiatan itu antara antara lain lomba halang rintang, Dasa Dharma, peraturan baris berbaris (PBB), serta pentas musik.“Kegiatan berlangsung dari pagi sampai larut malam,” katanya saat ditemui Madiunpos.com, Selasa (17/2/2015).
Kegiatan tersebut, imbuh Purbo, akan menjadi media menjaring siswa-siswa SD yang berkualitas. Melalui sekian perlombaan yang dilombakan tersebut, akan terlihat para siswa yang berprestasi . 
Dari sini diharapkan siswa berprestasi yang terjaring dari kegiatan dan pelombaan yang diadakan di East Java Scout Challenge lebih siap untuk mewakili daerahnya untuk lomba tingkat Nasional.
Nah, anak-anak SD yang terpilih itulah, nantinya akan dikirim ke Amerika Serikat guna mengikuti perlombaan yang lebih bergengsi lagi.
“Program perdana ini sebagai wujud membidik muda-mudi serta wadah penggerak anak SD,” kata Purbo


Disadur dari : madiunpos.com

Ponorogo, Longsor Terjang Rumah Warga

Koramil tengah melakukan pembersihan pasca Longsor. foto by arso/lensaindonesia
BERITA PONOROGO : Kamis (19/02/2015) di Kab. Ponorogo kembali terjadi bencana, Ngebel, areal dekat Obyek Wisata Telaga Ngebel diterjang tanah longsor.
Tanah yang tak mapu menahan banyaknya air dari derasnya hujan yang terjadi sejak sore hingga malam mengakibatkan bencana tanah longsor. Longsoran tanah menerjang dua belas bangunan rumah, termasuk juga markas Komando Rayon Militer (Koramil) Ngebel.
“Hujan sangat deras semalam, sungai yang berada di atas (wilayah pegunungan, red) tidak mampu menampung air dan material longsoran,” ucap Sersan Hambali, anggota Koramil Ngebel kepada
Material longsor merusak semua peralatan kantor yang menimbun markas Koramil hingga ketinggian 1,5 meter. Beruntung dalam bencana ini tidak menelan korban jiwa.
Material longsor juga menerjang sebagian wilayah Desa Wagir Lor,”untuk di wilayah kami ada sekitar enam rumah yang rusak diterjang material tanah longsor.” Ujar Suprapto, Kepala Desa Wagir Lor,
Dari pantauan SETENPO, Lokasi yang terkena banjir bandang paling parah adalah sekitaran dermaga / lapangan kecamatan Ngebel, sedangkan longsor terjadi di beberapa titik seputar Telaga hingga desa Ngrogung kecamatan Ngebel.
longsor selain merusak rumah dan Koramil, material longsor juga menutup akses jalan menuju obyek wisata Telaga Ngebel.
"Saat ini 20 anggota Polsek Ngebel ditambah 30 personel dari Polres bersama-sama dengan warga, anggota TNI dan BPBD bahu membahu memberishkan longsoran,” kata Kapolres Ponorogo, AKBP Iwan Kurniawan.
Dari Informasi yang dihimpun SETENPO tidak ada korban Jiwa ataupun luka dalam peristiwa ini namun banyak kerugian materil di alami warga seperti rusaknya toko dan warung milik warga.
_________________________________________________________________________________
Disadur dari : LENSAINDONESIA & SETENPO

Penutupan Lokalisasi Kedung Banteng 9 Juni

Rapat Koordinasi Persiapan Penutupan Lokalisasi. foto by Argo/lensaindonesia.com 



BERITA PONOROGO : Pada 9 Juni mendatang Lokalisasi Kedung Banteng di Kecamatan Sukorejo, Ponorogo akan resmi ditutup .
Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi diruang Bantarangin, gedung Graha Krida Praja, Pemkab Ponorogo, Selasa(17/02/2015) “Jadwalnya 9 Juni mendatang akan ada deklarasi penutupan. Saya yakin tidak mundur lagi dari rencana. Sebab semuanya sudah kami susun dengan baik dengan berbagai pertimbangan,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Agus Pramono usai Rakor Penutupan Kedung Banteng.
Penutupan yang awalnya di rencanakan bulan April, namun dengan melihat kondisi yang ada, maka jadwal ini diundur sekitar dua bulan. Bulan Juni di ambil bertepatan pada salah satu tradisi para penghuni lokalisasi yang selalu mudik setiap menjelang puasa dan lokalisasi tutup selama satu bulan penuh selama bulan puasa. “Agar lebih mudah maka dipaskan di waktu-waktu itu. Agar lebih kondusif,” ujarnya Agus Pramono.
Lebih lanjut dijelaskanya, pusat sudah menyetujui dan sudah clear, tinggal pelaksanaan saja. Draf kepanitiaan dan draf SK penutupan sudah diajukan ke bupati tinggal tanda tangan saja. “Tadi kan ada usul juga dari Kapolres untuk memasukkan soal penegakan hukum,” imbuhnya.
Disadur dari : lensaindonesia

Guru SMKN Jenangan Tolak Mutasi Kepsek


NGLURUK BUPATI - Sejumlah guru SMKN Jenangan meluruk
rumah dinas  Bupati Ponorogo, Amin, Senin (16/02/2015)
BERITA PONOROGO - Paska mutasi besar-besaran di kalangan kepala sekolah (Kasek) pekan kemarin, ternyata tidak semua sekolah menyetujui pemindahan tersebut. Terdapat penolakan akibat mutasi tersebut, salah satu nya penolakan dari guru SMKN 1 Jenangan.
Para guru menolak pemindahan Nurdiyanto  ke SMKN Slahung. Mereka menganggap pemindahan Nuryadiyanto merupakan hukuman dari Bupati dan Badan Pertimbangan Kepangkatan dan Jabatan (Baperjakat) Pemkab Ponorogo.
Bukan hanya itu, mereka juga menolak Mustari (pengganti Nurdiyanto), yang tak lain adalah mantan Kepala SMKN (SMEA Negeri) Ponorogo. Mereka beralasan latar belakang Mustri yang bukan dari kalangan teknik (guru STM) melainkan dari SMEA.
Saat dikonfirmasi masalah keluhan guru tersebut, Amin, Bupati Ponorogo mengaku mutasi Kepala sekolah dilakukan untuk memajukan sekolah pinggiran yang masih baru. Selain itu juga untuk pemerataan. Diharapkan SMKN Slahung diisi Kasek baru untuk memajukan SMKN pinggiran.
Oleh karenannya, dirinya menyangkal pemindahan Nurdiyanto adalah sebagai hukuman atau sanksi.
"Perkiraan para guru Pak Nur (Nurdiyanto) dipindah ke Slahung itu dihukum. Padahal tidak demikian. Saya hanya ingin pemerataan pendidikan agar pendidikan dipinggiran sama dengan sekolah di perkotaan," terangnya.

Disadur dari : SURYA.co.id

Penemuan Relief Pandawa di Ponorogo

Aris Yudi Santoso dari Tim Cagar Budaya Ponorogo : "Penemuan ini luar biasa. Bisa jadi relief wayang yang terukir di atas batu ini satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia. Karena selama ini kami belum pernah menemukan atau mendengar ada penemuan seperti ini," Foto : nur prihantono/bangsaonline.com

PONOROGO - Warga di Dusun Pelem Gurih, Desa Jenagan, Kec Jenangan Kabupaten Ponorogo menemukan sebuah batu yang diduga sebagai cagar budaya. Batu yang terdapat ukiran relief wayang tersebut diperkirakan peninggalan peradaban Mataram Hindu, sekitar abad 9-10 Masehi.

Batu yang kabarnya sempat dijadikan punden yang disakralkan warga setempat sempat menghilang cukup lama.Hingga saat warga melakukan kerja bakti untuk pembuatan jalan batu tersebut di ketemukan kembali oleh salah seorang warga dengan kondisi tertutup semak belukar.

"Temuan akhirnya segera dilaporkan ke dinas terkait,” terang Kepala Desa Jenangan Toni Ahmadi
Menanggapi laporan warga, Kasi Sejarah, Budaya dan Nilai-nilai Tradisional Dinbudparpora Kabupaten Ponorogo yang dipimpin oleh Drs Sugeng Priatmoko langsung melakukan peninjauan kelokasi untuk memastikan kebenaran laporan tersebut. Dia mengatakan, pihaknya masih sebatas melakukan peninjauan.

Untuk melakukan penilitian lebih lanjut Sugeng juga akan segera melaporkan kepada pihak BPCB Trowulan, agar segera menurunkan arkeolog.

”Kalau ada kesepakatan dari pihak Desa akan ada upaya penyelamatan dengan memindahkanya ke Balai Penyelamatan Benda Cagar Budaya Kab Ponorogo di Jalan Ukel, Kelurahan Kertosari, Ponorogo,” kata Sugeng Priatmoko.
_____________________________________________________________________________________________
Disadur dari : bangsaonline

Banjir Rendam Puluhan Rumah di Ponorogo

PONOROGO - Banjir kiriman dari wilayah Kecamatan Sawoo, Sambit dan Kecamatan Sooko yang menerjang sekitar 60 rumah milik warga Dusun III, Desa Ngabar, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo menyebabkan warga dan perangkat setempat kelimpungan.

"Memang hujan tidak deras, tetapi tiba-tiba Sungai Keyang meluap dan merendam puluhan rumah warga," terang Ismail, Rabu (11/02).
Oleh karenanya tebing pembatas sungai di belakang rumah Ismail kini hanya tinggal tanah pasir yang mudah tergerus aliran Sungai Keyang jika meluap setiap saat.

"Aliran sungai deras menerjang samping rumah, menerjang belakang rumah dan merusak tebing. Sehingga tanah 1 meter di belakang rumah habis tergerus hingga masuk ke perkampungan rumah warga semalam," imbuhnya.

Kepala Desa Ngabar, Ebit Misnanto (52) mengaku, prihatin dengan banjir luapan Sungai Keyang ke rumah warganya itu. Selain merendam puluhan rumah warga, adanya banjir menyebabkan tembok rumah Ny Pipin Ernawati (51 Th) jebol, serta 3 rumah warga terancam hanyut lantaran tersapu sisa tanah longsor dari aliran Sungai Keyang yang meluap pemicu banjir itu.

Disamping itu, tanggul setinggi 3 meter yang dibuat warga sebagai pengaman luapan sungai itu, sudah hanyut sepanjang 100 meter lebih. Luapan air sungai mengancam meluap ke Desa Beton dan Desa Madusari, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo.

Ketiga rumah warga yang terancam hanyut karena terus tergerus arus luapan Sungai Keyang itu dalah rumah milik Amin (45), Soimin (72), dan rumah milik Ismail (38) yang berada di RT 3 RW 2, Dusun II, Desa Ngabar, Kecamatan Siman yang pernah diberikan pekan kemarin.

Pihaknya tak pernah mengira banjir akan sebesar itu. Apalagi, tinggi bibir Sungai Keyang masih mencapai 8 sampai 9 meter.

KERCOPAN ART FESTIVAL 2015

 “Kercopan Art Festival” sengaja kami hadirkan, untuk mewadahi ekspresi kelompok-kelompok kesenian di Kabupaten Ponorogo yang sangat beragam (dari yang tradisional, pop, sampai wujudnya yang modern maupun kontemporer). Kelompok seniman dari  Luar Negeri ( Victor Hugo, kelompok seniman dari Meksiko), sengaja kami undang untuk memberi warna spesial pada pergelaran festival ini. Berbagai pertunjukan tersebut akan disajikan di atas panggung spektakuler di area Kercopan.

Untuk memperingati hari Ulang Tahun Padepokan Tari Langen Kusuma Ke – I, yakni tanggal 26 Januari 2015, kami bermaksud mengadakan sebuah pergelaran kesenian yang bertajuk KERCOPAN ART FESTIVAL. Sebuah peristiwa budaya yang melibatkan masyarakat dan pemuda pemudi di lingkungan Kertosari, Cokromenggalan, dan Patihan Wetan dan segenap masyarakat seni di Kabupaten Ponorogo pada umumnya.

Kercopan merupakan sebuah lokasi berkembangnya sebuah kelompok Reyog Ki Singo Kusumo, yakni berada di tiga kelurahan; Kertosari, Cokromenggalan, dan Patihan Wetan. Sepak terjang kelompok Reyog Singo Kusumo di wilayah Kercopan sangatlah membanggakan di era tahun 90-an-hingga awal tahun 2000, hingga lahirlah komunitas Reyog mini Si Buyut Katong, dimana segenap prestasi telah diraih dalam festival. Sekitar satu  dekade dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, perkumpulan reyog masih bisa bertahan, meskipun hanya dari tanggapan (job) yang kecil-kecilan, yang seolah membuat kelompok reyog ini berdiri hanya dengan satu kaki.

Hingga pada akhirnya, sekitar akhir tahun 2013 semangat remaja dan pemuda Kercopan untuk menghidupkan kesenian Reyog Ki Singo Kusumo dan Si Buyut Katong kembali membara, dengan didirikannya sebuah kelompok dengan nama baru, yakni “ Padepokan Tari Langen Kusumo” yang telah diresmikan sejak tanggal 26 Januari 2014. Seiring berjalannya waktu (dalam kurun waktu 1 tahun) Padepokan Tari langen Kusuma mampu berkembang pesat, terbukti anggota kelompok kami tidak hanya berasal dari lingkungan Kercopan, namun banyak seniman lintas disiplin seni dari berbagai wilayah di kabupaten Ponorogo. Pun demikian dengan terbentuknya kelompok baru ini, diharapkan bisa menjadi wadah keratifitas generasi muda dan anak-anak Kercopan dan seluruh seniman-seniwati di kabupaten Ponorogo pada umumnya untuk terus melestarikan seni tradisi Reyog serta pengembangan kreatifitas seni dari berbagai disiplin, baik tari, musik, teater, maupun seni rupa.
-----------------------
Berikut hasil dokumentasi acara Kercopan Art Festival 2015.

Reyog Ponorogo Tidak Akan Punah dari Jatim

Oleh : Muh Nurcholis | 09-Des-2014, 18:09:26 WIB
KabarIndonesia - Ponorogo, Pernyataan Sugiri Sancoko, Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jatim mengenai akan punahnya Reyog Ponorogo menuai sejumlah reaksi. Pemkab Ponorogo langsung bereaksi dan menyatakan reyog Ponorogo akan kekal dan ada sampai kapanpun.
Harimau Sumatera
Kepala Dinas Pariwisata Ponorogo, Sapto Djatmiko angkat bicara menepis keraguan Sugiri akan kemungkinan reyog punah. Mengenai kelangkaan bahan dadak merak dan kulit macan yang sebelumnya menjadi dasar prediksi Sugiri, memang tidak dipungkiri. Namun pihak pemkab, menurut Kadisparta sudah menempuh langkah antisipatif.

Sapto optimis, Reyog Ponorogo dijamin tidak akan punah sampai kapanpun, bahkan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. “Tidak mungkin Reyog Ponorogo akan punah. Bahkan kita akan terus kembangkan,” tegas Sapto.

Bahan dasar pembuatan kesenian asli Ponorogo tersebut saat ini memang kian langka. Untuk mendapatkan bulu merak, sejumlah pengrajin bahkan telah mendatangkan dari India melalui importir dari Ponorogo dan Surabaya.

“Memang merak sudah sangat langka, untuk itu harus impor dari India, walau dengan harga yang lebih tinggi. Untuk itu, kedepan di Ponorogo akan dikembangkan peternakan Merak,” terangnya.

Mengenai kulit macan, lanjutnya, memang saat ini hewan tersebut selain langka juga dilindungi, sehingga sangat sulit mendapatkannya. Untuk itu, berbagai alternatif telah diupayakan dengan jalan menggunakan kulit sapi, bahkan sintetis atau buatan.

Hal itu perlu dipahami oleh sejumlah pihak atas kelangkaan bahan dasar tersebut.

“Soal kualitas sudah bisa setara dengan kulit macan. Hanya saja pelaku seni perlu pemahaman agar menggunakan bahan alternatif tersebut,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya menjamin kesenian reyog tidak akan punah dari Bumi Ponorogo. Selain bahan-bahan alterntif, pengembangan juga terus dilakukan termasuk pada generasi muda atau usia sekolah.

Berbagai even yang digelar, kedepan akan terus diperbaiki agar kesenian Reyog ini semakin berkembang. “Sudah kita pikirkan atas kelangkaan bahannya. Merak juga akan terus dikembangkan di Ponorogo,” lanjutnya.

Sebelumnya, Sugiri Sancoko dihadapan mahasiswa dalam masa resesnya sempat melontarkan pernyataan jika Reyog akan punah seiring semakin langka dan dilindunginya bahan dasar pembuatannya, seperti merak dan kulit macan.

Namun demikian, statemen politisi Partai Demokrat itu semata- mata untuk mendorong pemkab dan warga Ponorogo untuk terus menjaga keberadaan kesenian khas Ponorogo ini. Disamping itu, juga untuk meningkatkan rasa kecintaan dan pengembangan reyog yang menjadi ikon Ponorogo yang juga sangat Ia banggakan tersebut. Hal ini terbukti dalam masa resesnya yang hampir selalu dilakukan dengan pagelaran seni reyog di sejumlah wilayah. ***sumber : kabarindonesia.com

Apakah reyog masih menjadi roh Ponorogo?

Salah satu komunitas reyog Ponorogo di Australia (Singo Sardjono)
Pertanyaan ini tiba-tiba muncul setelah beberapa hari menemani teman-teman sineas Ponorogo saat workshop sinematografi dalam rangka Festival Film Ponorogo (FEFO) 2014. Banyak sekali ide dari teman-teman sineas (mungkin lebih tepatnya calon ya hehehe) yang menyentil ‘keangkuhan’ reyog sebagai identitas Ponorogo. Saya sengaja memakai kata ‘keangkuhan’ karena satu hal, reyog hanya nempel seperti slogan dan tidak sadar sedang ditinggalkan oleh masyarakatnya. Ini satu ‘tuduhan’ serius yang harus dibuktikan dan sayangnya saya hanya bisa menuduh. Tuduhan ini saya lontarkan karena sampai saat ini saya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan seperti : Apakah perempuan boleh jadi bujang ganong? Apakah perempuan berjilbab boleh menjadi jathil? Apakah reyog harus memakai ritual? Apakah boleh reyog tanpa jathil? Dan apakah-apakah lain yang membuat anak-anak muda seperti enggan menyentuh reyog. Dan sangat bisa dimaklumi jika kemudian anak-anak muda lebih tertarik mendalami seni yang lain.
Saya pernah membayangkan Ponorogo menjadi kota karnaval yang besar. Mengapa karnaval? Karena reyog adalah karnaval. Jika kemudian reyog dalam Festival Reyog Nasional ditampilkan dalam format panggung dan sendratari, itu sudah proses kreatifitas yang tidak tertahankan untuk mengikuti jaman. Jember yang tidak punya akar karnaval bisa menjadi salah satu kota karnaval terbesar di dunia. Harusnya ponorogo yang mempunyai reyog sebagai roh kota bisa juga menjadi kota karnaval terbesar di dunia. Namun ada pikiran yang mengganggu saat berjalan menyusuri jalan kota, banyak jalan dibuat double way, jalan yang tentu saja tidak pas untuk sebuah karnaval. Ingatan saya langsung pada kirab pusaka tiap suro yang hasilnya ‘berantakan’ karena satu sebabnya jalan yang doubel way. Jalan double way membuat karnaval berada di pinggir yang tentu saja akan membuat berbagai masalah muncul. Saya hanya bergumam dalam hati, “dulu yang mendesain jalan double way di Ponorogo sepertinya tidak memikirkan arak-arakan reyog”. Jika reyog memang sudah menjadi roh ponorogo, hal pertama yang dipikirkan tentang jalan adalah bagaimana reyog bisa ‘melenggang’ indah di jalan-jalan kota. Namun jika pembuat jalan saja tidak kepikiran hal sekecil ini, saya semakin kuat menanyakan, Apakah reyog masih menjadi roh Ponorogo?
Semoga pertanyaan saya ini bisa terjawab dengan tegas oleh para sineas yang saat ini sedang bekerja keras mengatur waktu antara sekolah dan karya untuk FEFO 2014. Semoga. (Dimas Nur)

Lagu Ponorogo

Song story about our town Ponorogo City, East Java, Indonesia
Songn& Lyric: Muhaeim, Ar, KrisD
Mixing by:Yusuf ProSuck Studio
Music by : TatzBeatz & Yusuf ProSuck
follow :@reyoglandhiphop

Grup Penampilan terbaik Festival Reyog Nasional 2014

Perwakilan grup terpilih sebagai penampilan terbaik
Dari total peserta yang mengikuti FRN ini bakal di ambil 10 besar yang memang layak atau mempunyai penampilan yang luar biasa di hadapan para juri. “dari 39 peserta bakal diambil 10 besar dan untuk peringkat pertama mendapat piala bergilir dari Presiden RI.
Pada FRN ke 21 tahun 2014 ini grub reyog tuan rumah mendapatkan nilai dan perhatian lebih dari juri sehingga mempu memboyong piala presiden dari tangan grup reyog dari Kabupaten Wonogiri yang sebelumnya menjadi juara pertama.
“Grup reyog Gajah Manggolo dari SMAN 1 Ponorogo berhak mendapat juara satu, kemudian grup reyog Singo Manggolo Mudho dari SMKN 2 Wonogiri dan di peringkat ketiga ada grup reyog Bantarangin dari DKI Jakarta,”jelasnya.


PENERIMA PIALA BERGILIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - FESTIVAL REYOG NASIONAL XXI

Kategori: Piala Bergilir “ PRESIDEN RI “
Nomor Penampilan: 11
Nama Group Reyog Dan Alamat:
GAJAH MANGGOLO – SMA NEGERI 1 PONOROGO

10 (SEPULUH ) GROUP REYOG UNGGULAN TERBAIK - FESTIVAL REYOG NASIONAL XXI TAHUN 2014

01) Kategori Piala: RANKING I
Nomor Penampilan: 11
Nama Group Reyog dan Alamat:
GAJAH MANGGOLO – SMA NEGERI 1 PONOROGO

02) Kategori Piala: RANKING II
Nomor Penampilan: 29
Nama Group Reyog dan Alamat:
SINGO MANGGOLO MUDHO – SMKN 2 WONOGIRI

03) Kategori Piala: RANKING III
Nomor Penampilan: 34
Nama Group Reyog dan Alamat:
BANTARANGIN – JAKARTA TIMUR

04) Kategori Piala: RANKING IV
Nomor Penampilan: 13
Nama Group Reyog dan Alamat:
KRIDHA TARUNA – SMAN 2 PONOROGO

05) Kategori Piala: RANKING V
Nomor Penampilan: 26
Nama Group Reyog Dan Alamat:
PURBAYA – KOTA SURABAYA

06) Kategori Piala: RANKING VI
Nomor Penampilan: 36
Nama Group Reyog dan Alamat:
SINGO JOYO JATI – KOTA BALIKPAPAN

07) Kategori Piala: RANKING VII
Nomor Penampilan: 19
Nama Group Reyog dan Alamat:
GALUH SURYO PUTRO ONGGOLONO – EKS. PB SOMOROTO

08) Kategori Piala: RANKING VIII
Nomor Penampilan: 05
Nama Group Reyog dan Alamat:
KRIDHO TAMTOMO – SMK PGRI 2 PONOROGO

09) Kategori Piala: RANKING IX
Nomor Penampilan: 30
Nama Group Reyog dan Alamat:
TARUNO SURYO – SMA MUHAMMADIYAH 1 PONOROGO

10) Kategori Piala: RANKING X
Nomor Penampilan: 09
Nama Group Reyog dan Alamat:
LASKAR REYOG SINGO PURABAYA – KABUPATEN MADIUN

Pembukaan Festival Reyog Nasional XXI


Bupati Amin menabuh gong sebagai tanda pembukaan acara Festival Reyog Nasional XXI

Ponorogo – Pembukaan Festival Reyog Nasional ( FRN ) ke XX1 dan perayaan Grebeg Suro ( 1 Muharram ) tahun 2014 mengambil tema “ Perayaan Grebeg Suro dan Festival Reyog Nasional tahun 2014 sebagai wujud kebersamaan Pemerintah dan mayarakat dalam rangka pelestarian budaya meningkatkan ekonomi masyarakat dan promosi wisata daerah “. Adapun rangkaian kegiatan yang menyertai event ini diantaranya, kegiatan keagamaan, kesenian, ziarah makam, lintas sejarah dan larung risalah doa di Telaga Ngebel. Selain itu ada juga pameran produk unggulan, pemilihan kakang senduk, pameran tanaman hias dan lain – lain.Acara pembukaan yang digelar di panggung utama aloon – aloon Ponorogo Sabtu (18/10/2014) disaksikan ribuan pengunjung dan tamu undangan dari berbagai instansi dan masyarakat Ponorogo serta kota/kabupaten sekitarnya. Menurut laporan ketua Panitia DR.Drs.Agus Pramono, M.M Sekda Kabupaten Ponorogo, Festival Reyog Nasional ke XXI Tahun 2014 diikuti 39 group reyog terdiri dari 13 group dari Kabupaten Ponorogo, 26 group dari luar Kabupaten Ponorogo. Festival Reyog Nasional ini digelar dari tanggal 19 – 23 Oktober 2014. Atas nama panitia Agus Pramono menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada seluruh stakeholder, jajaran masyarakat yang berperan aktif mendukung dan membantu terselenggaranya event nasional ini.

Jadwal Peserta Festival Reyog Nasional XXI

YAYASAN REYOG PONOROGO INDONESIA
Jln. Pramuka 19A Ponorogo, Indonesia. Telp/Fax (0352) 485440
website: www.reyogponorogo.org email: reyogindonesia@mail.com
facebook.com/REYOG.INDONESIA - twitter.com/reyogindonesia

JADWAL PENAMPILAN PESERTA PADA FESTIVAL REYOG NASIONAL XXI
PERAYAAN GREBEG SURO 2014 - PONOROGO INDONESIA

MINGGU, 19 OKTOBER 2014   

19,00-19,25    01    Taruna Adi Luhung - SMAN 1 Babadan
19,25-19,50    02    HIPREJS-1  Singo Yudho Budoyo - Kota Surabaya
19,50-20,15    03    Singo Wilis - EX PB Pulung
20,15-20,40    04    Reyog Universitas Brawijaya - Universitas Brawijaya
20,40-21,05    05    Kridho Tamtomo - SMK PGRI 2 Ponorogo
21,05-21,30    06    Singo Budoyo - Kab. Jember
21,30-21,55    07    Singo Mulyo - Kab. Blitar

SENIN, 20 OKTOBER 2014   
19,00-19,25    08    Manggala Wiyata - SMAN 3 Ponorogo
19,25-19,50    09    Laskar Reyog Singo Purabaya - Kab. Madiun
19,50-20,15    10    Singo Srowo Bantarangin - Gunung Kidul
20,15-20,40    11    Gajah Manggolo - SMAN 1 Ponorogo
20,40-21,05    12    Singo Krido Joyo - Prov. Sumatera Selatan
21,05-21,30    13    Kridho Taruno - SMAN 2 Ponorogo
21,30-21,55    14    Karyo Singo Yudho - Kab. Kutai Kartanegara
22,20-22,45    15    Simo Budi Utomo - UNMUH Ponorogo

SELASA, 21 OKTOBER 2014   
19,00-19,25    16    Singo Ndaru Seto - EX PB Arjowingun
19,25-19,50    17    Singo Manggolo - Kota Balikpapan
19,50-20,15    18    Singo Mulang Joyo - Kota Metro Lampung
20,15-20,40    19    Galuh Suryo Putro Onggolono - EX PB Somoroto
20,40-21,05    20    Bumi Tuah Pepadan - Kab. Lampung Timur
21,05-21,30    21    Singo Manggolo Projo - EX PB Ponorogo
21,30-21,55    22    Barong Samodro - PT. Petro Kimia Gresik
21,55-22,20    23    Singo Taruno Negoro - EX PB Jebeng

RABU, 22 OKTOBER 2014   
19,00-19,25    24    Singa Wira Benteng Tangerang - Kota Tangerang
19,25-19,50    25    Suro Menggolo - Kota Tanjung Pinang
19,50-20,15    26    Purbaya - Kota Surabaya
20,15-20,40    27    Singo Birowo - SH Terate Ponorogo
20,40-21,05    28    Singo Gumboro - Kab. Bintan
21,05-21,30    29    Singo Manggolo Mudho - SMKN 2 Wonogiri
21,30-21,55    30    Taruno Suryo - SMA Muhipo
21,55-22,20    31    Wijoyo Kusumo - KAB. Tanjung Jabung Barat

KAMIS, 23 OKTOBER 2014   
19,00-19,25    32    Singo Budoyo Mudho - DKI Jakarta
19,25-19,50    33    PSRM Sardulo Anurogo - Universitas Jember
19,50-20,15    34    Bantarangin - DKI Jakarta
20,15-20,40    35    Pudak Arum - PT. Semen Gresik
20,40-21,05    36    Singo Joyo Jati - Kota Balikpapan
21,05-21,30    37    Kerta Manunggal - Kab. Lamandau - Prov.Kalimantan Tengah
21,30-21,55    38    Dharmo Manggolo - PT. Indocement Bogor
22,20-22,45    39    Manggolo Mudho Pawargo Yogyakarta - Reyog Komunitas Mahasiswa Ponorogo Di Yogyakarta

Ponorogo, 16 Oktober 2014

DEWAN PENGURUS YAYASAN REYOG PONOROGO
Wakil Sekretaris


 JUDHA S, SE., MS.i



Catatan_____________________________________________
  • Group Peserta FRN XXI wajib hadir 30 menit sebelum tampil, apabila terlambat maka akan ditempatkan pada urutan terakhir pada hari itu.
  • Data ini dikeluarkan oleh www.reyogponorogo.org - website resmi Yayasan Reyog Ponorogo Selaku Panitia Festival Reyog Nasional XXI tahun 2014

Parade Reyog Ponorogo se-Jabodetabek 2014

JAKARTA -Gelar parade Reyog Ponorogo se-Jabodetabek 2014 yang digelar di anjungan daerah Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah(TMII), kemarin Minggu(12/10) nampak begitu meriah, masyarakat dari Jawa Timur khususnya dari Kabupaten Ponorogo yang tinggal di Jabodetabek datang berduyun-duyun ke anjungan Jawa Timur untuk menyaksikan tarian Reyog ponorogo. Parade Reyog ini merupakan satu rangkaian untuk memperingati HUT Jawa Timur.


7 peserta terbaik dari paguyuban Reyog Ponorogo se-Jabodetabek mengikuti parade ini, dan mereka  harus melalui beberapa penilaian untuk menjadi yang terbaik. Diantaranya penilaian dengan kriteria segi penampilan terbaik, pembarong yang terbaik, jatil yang terbaik dan warok yang terbaik.


Kepala Anjungan Jawa Timur TMII Samad Widodo menuturkan, anjungan memberikan fasilitas tempat untuk pembinaan komunitas Reyog Ponorogo yang ada di Jabodetabek. Menurut Samad, kegiatan yang rutin digelar setiap tahun untuk mengevaluasi hasil pelatihan pembarong, jatil, warok yang digelar antara anjungan dan paguyuban Reyog.


“Hasil seleksi parade Reyog Ponorogo akan kita kirim ke Ponorogo,” ujar Samad Widodo ditengah parade Reyog Ponorogo di anjungan Jawa Timur TMII, Minggu(12/10). Samad mengungkapkan, untuk mengembangkan tari Reyog Ponorogo, anjungan terus melakukan pelatihan yang diikuti oleh generasi muda. Karena tugas kantor perwakilan Jawa Timur untuk memberikan pelatihan untuk dikembangkan di paguyuban-paguyuban Reyog Ponorogo yang ada di Jabodetabek.


“Kita akan tetap eksis untuk melestarikan Reyog untuk menjunjung tinggi budaya Indonesia. Selain itu kita berharap masyarakat luas pun turut berperan melestarikannya,” pungkas Samad.


Sementara itu, Ketua Paguyuban Reyog Ponorogo se-Jabodetabek mengatakan, untuk menarik minat generasi muda mau mempelajari tarian tradisional asal Ponorogo ini, dirinya terus mengembangkan Reyog Ponorogo dengan beberapa kreasi yang disukai oleh generasi muda. Diantaranya dengan menampilkan Reyog secara seluas-luasnya namun tetap tidak meninggalkan pakemnya.


“Dahulu Reyog Ponorogo hanya sesuai cerita pakem saja, kini kita tampilkan beberapa cerita yang lebih menarik dan modern. Kan kita lihat saat ini banyak generasi muda yang mau belajar dan manari Reyog,” kata HT Yulianto.


Menurut Yulianto juga, pihaknya terus melakukan pembinaan dan pelatihan rutin di setiap paguyuban Reyog Ponorogo serta ikut kegiatan baik tingkat nasional maupun Internasional agar Reyog terus dikenal masyarakat luas khususnya Indonesia. Yulianto juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah mengajukan permohonan ke UNESCO untuk memperoleh pengakuan.


“Reyog sangat kharismatik, seketika orang akan takjub ketika mendengar tabuhan gamelan Reyog dan itu daya tarik Reyog,” ucap dia lagi.(nas/indopos.co.id)