Mencuri RAM di Wanet, Siswa SMA Diamankan POLSEK Ponorogo

Pelaku di amankan polisi usai kepergok mencuri RAM di Warnet, (foto by: kanalponorogo)

Siswa berinisial RWA (17) warga Jln Cipto Mangunkusumo, Keniten, Ponorogo, diamankan polisi lantaran tertangkap tangan tengah melakukan pencurian perangkat computer di Warnet Semeru, Selasa(30/06).

“Petugas mengamankan pelaku pencurian di sebuah warnet yang berada di Jalan Semeru, dengan berpura-pura bermain di warnet, pelaku yang sudah membawa peralatan berupa obeng melakukan aksinya untuk melepas ram computer warnet, namun aksinya diketahui oleh penjaga warnet dan dilaporkan,”ucap AKP Yanto, Kapolsek Kota Ponorogo.

Tertangkapnya pelaku yang masih duduk dibangku kelas 11 sekolah lanjutan atas ini, berawal saat dia melakukan aksinya di warnet Semeru. Saat itu pelaku yang selalu menggunakan obeng untuk melancarkan aksinya terpergok petugas warnet. Mengetahui warnetnya menjadi sasaran pencurian, penjaga warnet langsung melaporkan ke polisi.

Mendapati laporan dari warga, petugas dari Polsek kota langsung menuju TKP dan mendapati pelaku masih berada di TKP beserta barang buktinya. Pelaku yang masih dibawah umur inipun langsung digelandang ke Polsek kota untuk dilakukan pemeriksaan.

Saat diperiksa pengakuan pelaku berbelit-belit, awalnya dia telah melakukan pencurian 24 buah ram computer warnet, namun setelahny pengakuanya berubah lagi yang katanya hanya delapan, ketika pemeriksaan pelaku juga sempat mengaku telah mengambil helm milik tetangganya.

Pelaku juga mengaku bahwa hasil kejahatanya dia pergunakan untuk kebutuhan sekolah dan mengembalikan uang yang dia pinjam dari teman-temanya.

“Uangnya saya pakai untuk keperluan sekolah, karena bapak saya tidak bekerja dan sebagian lagi saya pergunakan untuk mengembalikan hutang saya ke teman-teman,”ucap RWA saat di rung reskrim Polsek kota.

Untuk pelaku yang masih dibawah umur, polisi tidak akan melakukan penahanan, namun proses hukum tetap berlangsung.



Disadur dari : KanalPonorogo

Modus Pembobolan ATM Terungkap

Pelaku saat digelandang ke Mapolsek Jetis, (foto by: kanalponorogo)
Inilah modus yang ZA gunakan untuk membobol kartu ATM milik Pak Samuri, ustadz di Madratsah Tsanawiyah (Mts) Ronggowarsito.

“Awalnya saya nemu kunci motor, dan saya tahu kalau itu kunci motornya Pak Samuri, Ya kemudian kunci itu saya gunakan untuk membuka jok motor dan saya lihat ada dompetnya,” ucap pelaku saat diinterogasi petugas Polsek Jetis.

ZA hanya membuka jok dan tidak mengambil apapun dari dalamnya,sekalipun dilihatnya ada dompet dibawah jok motor milik korban. Lantas pelaku menutupnya lagi namun jok dibiarkan tanpa dikunci. Selanjutnya kunci motor yang sebelumnya ia pegang, ia masukkan kedalam kantong celana korban yang saat itu masih mandi.

Barulah saat korban menjalankan sholat Dzuhur, pelaku kembali mendatangi motor korban yang kondisi joknya tidak terkunci. Kali ini pelaku membuka-buka dompet milik korban yang tersimpan dibawah jok dan mengambil ATM yang ada dalam dompet. Disaat membuka dompet itulah, pelaku melihat ada beberapa deretan angka yang oleh pelaku diperkirakan sebagai nomer PIN ATM BRI yang ia ambil.

Sembari mengingat-ingat angka tersebut, pria yang saat ini dalam proses cerai dengan istrinya warga Jalan Kumbokarno Ponorogo ini, membawa kartu ATM BRI tersebut ke ATM BRI unit Siman, dicobanya dan ternyata bisa. Pertama dia ambil uang tunai Rp 100 ribu kemudian diulangnya menarik uang tunai lagi senilai Rp 100 ribu.

Merasa, kartu ATM yang ia curi itu bisa digunakan untuk menarik uang di mesin ATM, tersangka kemudian menuju ATM BRI yang ada didepan Pasar Songgolangit Ponorogo dan kembali dirinya melakukan penarikan uang tunai sejumlah Rp 1.250.000,-.

Pelaku semakin gelap mata saat melihat isi tabungan masih banyak dan kembali melakukan penarikan uang, di ATM BRI Mlilir sebesar Rp 3.500.000. Sehingga total uang yang berhasil diambil pelaku sebesar Rp 4.950.000. “Sudah saya gunakan Rp 950 ribu,” aku ZA, pada petugas.

Korban yang merupakan ustadz di Madratsah Tsanawiyah (Mts) Ronggowarsito yang berlokasi dikomplek masjid Tegalsari tersebut melaporkan kehilangan kartu ATM miliknya ke Bank, sembari meminta print out tabunganya. Korban terkejut saldo tabungan miliknya berkurang Rp 4,5 juta. Bersama dengan petugas Polsek Jetis, kemudian oleh petugas bank diperlihatkan rekaman CCTV sesuai data penarikan dari print out tabunganya tersebut.

Dari rekaman CCTV itulah korban mengenali pelaku yang sebenarnya juga tinggal di pondok Tegalsari mulai Januari tahun ini.

Bersama petugas Polsek Jetis, korban yang mengenali wajah pelaku, menghadang pelaku di masjid Tegalsari. Pelaku berhasil ditangkap saat ashar setelah dari pagi petugas melakukan penyanggongan. Tersangka dicokok usai mengantar teman ceweknya yang kerja di PCC.


Sumber : KanalPonorogo

Hendak Cari Rambanan, Ketua RW Tewas Terjatuh Dari Pohon Mangga

Warga memadati tempat kejadian perkara. (foto by: Reog.tv/joss)
Hendak mencari rambanan untuk pakan ternaknya Kakek 70 tahun tewas akibat terjatuh dari pohon mangga. Sebuah nasib tragis ini dialami salah seorang ketua RW Lingkungan Krajan, Kelurahan Kadipaten, Babadan, Ponorogo. (Kamis, 25/06/2015)

Sekitar pukul 13.30 WIB, warga RW 2, sekitar SDN Kadipaten 2 Lingkungan Krajan, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Slamet berusia sekitar 70 tahun, warga kelurahan setempat yang tewas akibat terjatuh dari pohon mangga yang ada di halaman SDN Kadipaten 2, sontak mengejutkan warga sekitar.

Menurut seorang wanita saksi di tempat kejadian, saat itu, dirinya yang tengah momong anaknya, melihat Slamet dengan bantuan tangga memanjat pohon mangga untuk mencari rambanan, dedaunan untuk pakan ternaknya. Sampai di salah satu cabang pohon tersebut nampaknya Slamet tidak dapat menjaga keseimbangan, entah karena kencangnya angin, atau karena terpeleset, dan akhirnya jatuh terhempas ke bawah, ke halaman semen sekolah tersebut.


Disadur dari : Reog.tv

Marak Kasus Pencurian Menjelang Fitri

TKP pencurian di kos mahasiswi (foto by: reog.tv/joss)
Waspada !! menjelang Lebaran banyak aksi pencurian, tiga kasus pencurian dalam satu minggu ini.

Pada Rabu (24/6) malam di sebuah rumah kos di kawasan jalan Pramuka, kelurahan Ronowijayan, Siman, Ponorogo.

Saat sebagian penghuni rumah kos milik Bu Yuli ke masjid untuk Tarawih,sementara sebagain lagi pulang ke daerah asalnya, pencuri beraksi dan menggondol beberapa barang milik penghuni kamar kos yang mahasiswi.
Pencuri pun menggondol beberapa barang elektronik milik korban seperti komputer laptop dan handphone, kejadian ini pun dilaporkan ke petugas polisi Polsek Siman, yang segera datang dan melakukan penyelidikan.

Sebelumnya, pada Selasa (23/6) juga terjadi pencurian, kali ini kendaraan bermotor roda dua Vario nopol AE 3629 VM, milik seorang pelajar SMK, lenyap sekitar pukul 19. 30 WIB saat diparkir di pondok pesantren Assakinah, utara terminal Seloaji, Ponorogo.

Menurut korban Yayan (17) pelajar SMK, kepada petugas kepolisian, saat itu dirinya bersama puluhan temannya tengah melaksanakan kegiatan pondok Ramadhon. Dan, diperkirakan saat korban bersama rekan-rekannya menjalankan sholat Tarawih, pelaku memasuki ruangan siswa dan mengambil kunci moto korban yang ditaruh dalam tas. Selanjutnya pelaku membawa kabur motor korban.

Kemarin (26/06/2015) AZ dibekuk petugas kepolisian lantaran membobol ATM milik Samuri (55), warga desa Nambangrejo, kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo saat korbannya beribadah di Masjid Tegalsari.
Mencuri dan membobol ATM untuk mengurus perceraian dengan istrinya. (foto by : reog.tv/joss)
ZA mengaku, dia nekat melakukan pencurian pada kartu ATM sekaligus membobol uang sejumlah Rp 4.950.000 milik korban itu didasari kebutuhan biaya mengurus perceraian dengan isterinya. “Jadi sebagian sudah saya transfer ke rekening istri saya untuk mengurus perceraian saya,” ucap ZA.

Menurut ZA, saat diinterogasi, mengaku dirinya sudah sejak Januari 2015 mondok di Masjid tersebut sambil menunggu proses perceraian dengan isterinya.

ZA sendiri diringkus petugas Polsek Jetis pada sore hari, usai mengantarkan kekasihnya yang menurut pengakuannya bekerja di PCC. Pelaku berhasil diringkus setelah wajahnya berhasil dikenali oleh para saksi dan korban, melalui rekaman CCTV yang ada di ATM

Disadur dari : Reog.tv

Apa Kegiatan Ramadhanmu ?

Bingung mau ngisi kegiatan ramadhanmu biar lebih berkah ? Kegiatan unik dan tentunya bermanfaat warga Ponorogo ini mungkin bisa menjadi referensi untuk anda ikut gabung.
Anggota thethek ranger . (foto by : setenpo)

Thethek Ranger
Thethek Ranger demikianlah nama komunitas musisi ini. Berangkat dari Maestro Music Studio jalan Wibisono jam 01:30 WIB. Mereka mengambil Rute kawasan kota dan sekitarnya untuk membangunkan warga untuk sahur yang biasa dikenal dengan sebutan thethek/tektur/patroli.

“Silahkan bagi siapa saja yang ingin ikut,kegiatan ini terbuka bagi semua kalangan. Intinya kita ingin melakukan kegiatan positif meski sederhana yakni membangunkan orang sahur” ucap mereka.

SahurOnTheRoad
Sebuah kegiatan berbagi nasi sahur kepada kaum duafa dan pekerja keras dijalan atau yang mereka sebut SahurOnTheRoad. Kegiatan yang di kepalai oleh @oktacoffelogica ini membagikan nasi sahur setiap hari Selasa dan Jum'at selama bulan ramadhan, hasil dari sumbangan dari para donatur berupa uang maupun nasi bungkus.
pembagian nasi sahur kepada yang berhak.  (foto by:@oktacoffelogica)

Sudah Siapkah UMKM Ponorogo menghadapi MEA


Pagi ini, disela-sela sarapan. Iseng-iseng saya baca harian Jawa Pos Radar Jogja. Mata saya segera tertarik dengan berita yang kalimat judulnya ada kata "MEA". Harap maklum, meskipun tidak tergolong handal, jelek-jelek begini saya juga mahasiswa ekonomi lho. Segera saya serius membaca uraian berita yang judul lengkapnya begini. Hadapi MEA, Berikan Perlindungan UMKM?.

MEA yang merupakan kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN itu bukan tidak memiliki dampak pada daya saing produk lokal. Untuk itulah maka Pemprov DIJ mempersiapkan langkah-langkah antisipatif. Salah satunya adalah dengan memberikan perhatian khusus kepada pelaku UMKM dan industri kecil. Meskipun UMKM dan industri kecil tidak akan terlalu terpengaruh oleh anjloknya nilai tukar rupiah ataupun inflasi, namun sangat rentan terhadap persaingan global.

Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Raja Keraton Jogja mengungkapkan bahwa dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka produk-produk UMKM negara ASEAN juga akan membanjiri pasar Indonesia. Tak terkecuali DIJ. Maka dari itu, langkah antisipatif perlu diadakan agar pelaku UMKM DIJ tidak menjadi pihak yang kalah dalam persaingan global tersebut.

Lantas bagaimana dengan Ponorogo, menghadapi MEA? Jangan-jangan malah belum tau apa itu MEA. Untuk pertanyaan yang terakhir ini saya yakin jawabannya masyarakat Ponorogo sudah mengenal apa itu MEA. Meskipun belum semuanya tau, setidaknya para petingginya tau lah. Kalaupun para petingginya tau tapi cuek-cuek saja, kan masih banyak pemuda-pemudi yang nggak kudet.

Nah mereka yang tau itu memiliki semacam tanggungjawab untuk memberi tahu mereka yang belum tahu. Sudah jamak kita ketahui bahwa pemerintahan yang berlaku di Indonesia saat ini sifatnya adalah pasif. Mananti rakyat bergejolak terlebih dahulu baru pemerintah akan mengambil keputusan. Nah kalau kita sudah sadar dengan sistem pemerintahan yang demikian itu, sebagai rakyat apalagi sebagai makhluk Tuhan yang dikaruniai wawasan berlebih, sudah semestinyalah kalau kita bersikap aktif. Tidak pasif dan hanya menanti-nanti pemerintah turun tangan. Seiring dengan datangnya kekuatan yang besar datang pula tanggung jawab yang besar. Begitu kata orang bijak.

Silakan bagi pelaku pasar dan pemilik usaha memberikan komentarnya di kolom komentar.!


Artikel oleh : Didin Putra Mahardi
Sumber : kotareyog.com

Masjid Jami’ Kauman Kota Lama Pasar Pon

Masjid Jami’ Kauman Kota Lama Pasar Pon, Jejak Perkembangan Islam di Ponorogo. foto by : setenpo
Jika kita menelusuri Kota Lama Pasar Pon Ponorogo, maka kita akan menemukan bangunan bersejarah yakni masjid Kota Lama Pasar Pon.

Letaknya sekitar 150 M dari perempatan, 50 M ke utara lalu 100 M ke arah barat. Bangunan masih bernuansa tradisional, dengan peninggalan berupa prasasti di depan masjid yang menandai tahun pembangunan masjid.

Selama sekitar 341 tahun pusat pemerintahan Ponorogo memang terletak di sekitar kota lama Pasar Pon.

Setelah 4 generasi ibukota Ponorogo berpusat di perbatasan Setono-Kadipaten (Dusun Tinggen), pada era Adipati Sepuh pusat kota Ponorogo bergeser 500 meter ke arah selatan. Alun alun Ponorogo saat itu terbentang dari Pasar Pon hingga Jeruksing

Di sebelah barat alun alun di bangun masjid agung Kadipaten Ponorogo pada tahun 1580 M di bawah pimpinan Adipati Sepuh. Lingkungan sekitar Masjid Agung di sebut Kauman, sehingga di Ponorogo ada beberapa Kauman seperti Kauman kota lama (Pasar Pon), Kauman kutho tengah (lokasi barat alun alun sekarang), maupun Kauman Somoroto (karena Sumoroto pernah berdiri menjadi suatu kabupaten tersendiri).

Pusat Kota Ponorogo berpindah ke lokasi sekarang sekitar tahun 1837 M

Referensi: Babad Ponorogo.

Sumber artikel : semuatentangponorogo 

Masjid Jami’ Bathoro Kathong

Masjid Jami' Bathoro Katong, foto by : SETENPO
Masjid Jami’ Bathoro Katong terletak di kelurahan Setono kecamatan Jenangan kabupaten Ponorogo, berdekatan dengan area Makam Batoro Katong sebagai pendiri kota Ponorogo. Untuk masuk ke area masjid kita harus melewati beberapa regol (gerbang).

Tahun pendirian masjid tidak tertera pasti, namun diperkirakan antara tahun 1486-1496 M pada era berdirinya Kadipaten Ponorogo.

Di sekitar masjid inilah yang menjadi saksi ketika para pengikut Bathoro Katong diserang Prajurit Ki Ageng Kutu dari Kademangan Surukubeng penguasa Wengker . Meski kalah jumlah, Bathoro Katong dan pasukanya dapat bertahan.

Serangan dilakukan pada hari Jum’at Wage yang menurut para ahli klenik adalah hari nahas kota Ponorogo.

Anggapan ini lahir dari perhitungan neptu Jum’at 6, Wage 4,huruf Po aksara Jawa 11 semua dijumlah jadi 21,dibagi 3. Jika sisa 1 artinya hidup, sisa 2 artinya pengantin (jodoh) sisa 3 artinya mati. 21 di bagi 6 = 18 sisa 3 (mati) maka di anggap hari itu akan hancur. Kehendak Allah berkata lain, ramalan ahli klenik tidak terbukti, pasukan Ponorogo dapat bertahan.

Di timur masjid terdapat makam Bathoro Katong. Bathoro Katong berpesan agar ia dimakamkan di tempat beliau meninggal. Beliau wafat saat akan mengambil air wudhu untuk sholat di sebuah sumber air dekat masjid yang sekarang menjadi area makam beliau.

Referensi: Babad Ponorogo karangan Purwowijoyo Jilid I

Sumber : SETENPO

Menggemukkan Sapi, Untung Ratusan Juta Perbulan

Pak Faruqi saat memandikan sapinya (foto by : reyog.tv)
Pembaca ingin juga meniru kesuksesan Pak Faruqi dalam bisnis penggemukkan sapi miliknya. Berikut kami sajikan liputan ini untuk anda. Anda bisa mencontek formula bagaimana Pak. Faruqi dapat sukses di bisnis ini. Berikut liputannya.

Kisah sukses Faruqi berawal dari hobi memelihara sapi sejak kecil, namun masih dengan cara tradisional. Sekitar tahun 80-an, ia menggagas penggemukan sapi. Walau berulangkali gagal, akhirnya ia menemukan formula khusus untuk menggemukkan sapi dengan cepat. Salah satu komponen pakannya dengan menggunakan jerami kering dan konsentrat, sebagai pakan sapi. Hasilnya fantastis, berat badan sapi bisa naik hingga 2 kilogram setiap hari, atau 60 kilogram per bulan. Jadi bisa dibayangkan dahsyatnya bisnis ini, karena jika dipelihara selama empat bulan, berat badan sapi akan naik sekitar 240 kilogram.

Dalam bisnis ini, rupanya tidak mengenal adanya limbah atau sisa hasil produksi, karena dari berbagai limbah yang dihasilkan, juga bisa diciptakan keuntungan lain, seperti penjualan pupuk organik dari kotoran sapi dan pupuk cair dari fermentasi urin (kencing) sapi. Omset penjualannya pun tidak sedikit, bisa mencapai ratusan juta rupiah pula.

Faruqi pun tak segan buka-bukaan soal teknik, yang membuatnya berhasil menggeluti usaha penggemukan sapi yang membuatnya makin bersemangat.

Tekniknya ternyata sederhana, Faruqi membeli sapi jantan kurus, tapi berperawakan bagus, kemudian digemukkan sekitar 4 bulan, lalu dijual lagi. Dari teknik ini, ia bisa meraup keuntungan besar. “Perbulan, sekitar Rp 200 juta, per seratus ekor sapi,” ungkapnya. Padahal, sapi yang dimilikinya sekitar 300 ekor mulai dari jenis lomousin, brahman,dan brangus. Jadi tinggal hitung saja berapa omzetnya.

Meski sapi peliharaannya sudah sangat banyak, namun, menurut Faruqi, masih selalu kurang untuk memenuhi suplai kebutuhan konsumen. “Permintaan konsumen di Indonesia, khususnya Jakarta, Sumatera, kalimantan dan kota kota besar lainya, masih sangat kurang,” jelasnya.

Masih terbukanya peluang usaha penggemukan sapi, membuat bapak dua anak ini makin giat mengembangkan usaha. Ia menggandeng pensiunan PNS, Pensiunan Polisi, TNI dan petani sekitar, untuk ikut menggemukkan sapi dengan program kemitraan. Tidak hanya di Ponorogo, namun juga warga di Wonogiri dan Sukoharjo Jawa Tengah. Sudah ratusan warga dan pensiunan yang ikut kemitraan, dengan jumlah sapi sekitar 200 ekor.

Banyaknya warga yang tertarik dengan ternak sapi, karena bisnis penggemukan sapi dianggap lebih mudah dan kecil resiko. “Sapi lebih kebal penyakit, dibanding ayam, atau ternak lainnya. Selain itu, dibanding memelihara ayam seribu tentunya lebih mudah memelihara sapi satu, yang jika dikonversi harganya adalah sama,” tambahnya.

Melihat potensi yang masih terbuka lebar, ia terus mencari mitra baru yang mau bekerja sama dalam penggemukan sapi ini. “Siapapun bisa, asal dengan kemampuan dan memiliki faslitas untuk penggemukannya. Kami siap membantu, berbagi ilmu, bekerja sama. Sama-sama untung,” pesannya.

Selain itu, pertumbuhan sapi lebih cepat sedangkan kebutuhan daging sapi terus meningkat. Sementara, suplai daging sapi dalam negeri masih kurang dan harus dicukupi dengan impor. Ia yakin, berapapun sapi yang digemukkan, berapapun banyak peternaknya, sapi dipastikan tetap akan laku terjual.


Sumber artikel ini dari situs: Reog.tv

Koramil Renovasi Rumah Penduduk Miskin Tak Layak Huni

Istirahat usai membenahi rumah mbah Sarbin . foto by: suarakumandang
Tak tanggung-tanggung rumah milik seorang kakek yang saat ini kondisinya sudah sakit parah disulap menjadi rumah yang layak huni, kurang lebih satu bulan lamanya warga Pomahan dusun Krajan dan Koramil Pulung telah melakukan renovasi rumah milik Sarbin (70) warga Dusun Krajan, Desa Pomahan RT.2, RW.1, Kecamatan Pulung.

Sebelum ada bantuan dari TNI Koramil Pulung rumah Sarbin masuk katogori sangat tidak layak huni. ”Sebelum adanya bantuan dari para bapak-bapak tentara rumah mbah Sarbin ini bisa dikatakan seperti kandang ayam bahkan tidak layak huni,”jelas Budi Santoso ketua RT 2 Pomahan Krajan.

Kondisi mbah Sarbin juga sangat memprihatinkan, saat ini mbah Sarbin mantan pemain reog kesenian Ponorogo hanya mampu berbaring di kamar tidur dengan sekujur tubuhnya membengkang karena sakit yang belum diketahui penyakitnya.

Warga silih berganti dalam membantu pembenahan rumah mbah Sarbin. Seperti Salam tetangga mbah Sarbin bila meski tak setiap hari membantu, namun setiap longgar setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah, Salam selalu membantu.”Sayakan juga punya pekerjaan rumah, ya kalau saya pas tidak ada kerjaan pasti saya bantu, entah itu hanya sekedar membantu angkat-angkat material” ungkapnya kepada suara kumandang.

“Jujur ae mas, saya pribadi kasihan melihat kondisi mbah Sarbin, kalau saya menilai mbah Sarbin memang layak dibantu untuk pembenahan rumah,”terangnya.

Sesuai keterangan dari Budi ketua RT 2 mbah Sarbin mempunyai anak semata wayang yang saat ini tinggal di Surabaya bersama keluarganya. Sedangkan Mbah Sarbin sendiri tinggal bersama Bagus cucunya berumur 17 tahun.

Karena himpitan ekonomi bagus yang mempunyai tinggi 170 cm belum merasakan di bangku SMP. Saat ini kedua orang tuanya tinggal di Surabaya, pulang setahun sekali pas hari raya saja “Bagus itu anaknya tinggi, gagah, pinter, tapi sayang, sekolahnya hanya sampai di SD,” kata Pamuji jogoboyo Pomahan Krajan.

Rumah mbah Sarbin sekarang sudah hampir selesai. Bagus sendiri sangat berterima kasih kepada warga Krajan Pomahan, khususnya koramil Pulung yang telah membantu memperbaiki rumah kakeknya. “Yang jelas saya senang, karena rumah kakek saya telah diperbaiki, saya matur nuwun sama warga sini dan pak tentara yang telah memperbaiki,”ungkapnya usai mengaduk semen..

Sementara hasil kegiatan Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) yang dilakukan para prajurit TNI bersama-sama komponen masyarakat berharap dapat mengentaskan kemiskinan khususnya di wilayah Jawa Timur.


Disadur dari: suarakumandang.com