Reyog Meriahkan Program Keserasian Sosial

Reyog Meriahkan Program Keserasian Sosial
Aktualita.co – Para seniman Reyog Ponorogo menyambut kedatangan Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa untuk mencanangkan program keserasian sosial. Program keserasian sosial merupakan upaya untuk pencegahan terjadinya bentrokan warga yang disebabkan oleh persoalan SARA. “Sampai saat ini, penerima program sudah mencapai 21 provinsi, 136 kabupaten, dan 520 desa. Saya sering menyampaikan dari yang kecil kalau untuk perubahan besar. Jangan bicara skup nasional tapi rapuh di bawah,” ujar Khofifah usai meresmikan tugu keserasian sosial di RW 1, Kelurahan Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (30/12/2015). Lanjutnya, melalui program tersebut pemerintah ingin masyarakat bawah bisa hidup berdampingan dan melakukan pendeteksian konflik secara mandiri. Terlebih kebhinekaan, merupakan keniscayaan. Harapannya akan jadi multiplier effect bagi wilayah sekitar. keserasian sosial Sementara di tempat yang sama, Wakil Ketua Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), Suparno Nojeng mengatakan implementasi keserasian sosial sudah ada dalam nilai-nilai seni budaya reyog. “Nilai-nilai keserasian sosial sudah terimplementasi dalam reyog, seperti beragamnya suku dan agama para seniman pemain reyog. Termasuk kesetiakawanan sosial yang menjadi nilai luhur reyog,” kata Nojeng. Pada akhir acara, sebagai bentuk penghormatan, Khofifah didaulat untuk menaiki dadak merak reyog Ponorogo, diiringi suara gamelan yang membahana. (PR/Aktualita)

Pelajar Diminta Lestarikan Reyog Ponorogo

Pelajar Diminta Lestarikan Reyog Ponorogo
Jakarta, 27 November 2015 : Generasi muda, khususnya para pelajar, diminta ikut melestarikan warisan budaya takbenda nasional, seperti Reyog Ponorogo. Budaya reyog diketahui mengajarkan nilai-nilai moral, diantaranya solidaritas, guyub, persatuan, kesetiaan, pengorbanan dan keberanian.

"Melalui pagelaran seni budaya, pemerintah berharap akan terbangun sebuah harapan baru dalam upaya meletakkan kembali nilai-nilai dan sendi-sendi nilai luhur kebudayaan bangsa semangat cinta tanah air. Serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, kemudian semakin tertanamnya jiwa nasionalisme melalui kebudayaan," kata L Salman, dari Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) saat menghadiri Pagelaran Seni Budaya bertajuk "Memperkuat Ketahanan Budaya Nasional Nasional Melalui Seni Budaya Reyog Ponorogo", di SMP Labschool Rawamangun, Jakarta Timur, Jum'at (27/11)

Pagelaran tersebut merupakan hasil kerjasama Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) dengan Kemendagri. Sebelum pagelaran, lebih dulu dipaparkan peran penting seni budaya yang menghadirkan L Salman, Nursilah (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta) dan S Nojeng (Wakil Ketua Komunitas Reyog Ponorogo).

Nojeng mengatakan pengenalan reyog Ponorogo kepada generasi muda, khususnya pelajar merupakan program dari Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) yang berdomisili di Jakarta.

"Ini merupakan bentuk pelestarian warisan seni budaya dan bentuk cinta tanah air Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Dosen UNJ Nursilah mengatakan menikmati karya seni pertunjukan tari merupakan salah satu bentuk kegiatan apresiasi. Para siswa hendaknya dikenalkan dengan apresiasi yang terdiri dari dua yaitu memahami keindahan bentuk tari dan keindahan isi tari.

"Kategori pertama, memahami keindahan bentuk tari meliputi aspek keindahan koreografi tari dan aspek kemampuan penari. Sementara kategori kedua, keindahan isi tari dapat dilihat dari tema dan isi tari yang dibawakan," papar Nursilah.

Ratusan siswa SMP Labschool terlihat antusias menyaksikan pagelaran Reyog Ponorogo tersebut. Bahkan diakhir pagelaran Kepala SMP Labschool, Ali Chudori dan Ketua Osis SMP Labschool, Nurrahman Wahyu Firdaus diangkat oleh dadak merak.


Salam budaya,
M Syaiful Jihad (Sekretaris KRP)
0818889037

TEATER TOPENG dan TEATER TERMANIS di Pentas Teater Ponorogo

TEATER TOPENG dan TEATER TERMANIS di Pentas Teater Ponorogo
Pementasan Teater 2 bulan sekali yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata ,pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Paguyuban Seni Teater Ponorogo pada hari Sabtu tgl 12 September tersebut lancar dan sukses, dimana antusias penonton memenuhi Gedung Kesenian Ponorogo, setelah pementasan Paguyuban Seni Teater mengadakan Saresehan dimana saresehan tersebut berfungsi sebagai evaluasi, saran, kritik kepada Komunitas Teater yang selesai pentas malam itu dan juga untuk Panitia PSTP.

Pementasan Ke 1 : TEATER TOPENG

Naskah : Obrok owok – owok, Ebreg ewek – ewek | Karya : Danarto | Sutradara : Candra A. Rachman
Asisten Sutradara : Rochmad Dwi |Penata Musik : Bonnie & Friends
Pemain: Arnik Cahyawati, Almira Khansamelia, Niyan Bunga, Ghoffar Alanjati, Anjany Novella, Risky Devana Putra, Ikhsan Ega N, Widya kartikasari winarno.

Masa lalu, masa kini, masa yang akan datang menjadi satu, ruang dan waktu kumpul dalam satu suasana dan keadaan: pasar beringharjo yogyakarta adalah ruang ujian adalah kamar tidur adalah tempat ngamen adalah hari ketuaan menanti maut…. Adalah…. Adalah….
Dimana pasar tradisional tersebut akan digusur dijadikan pasar modern.

Pementasan Ke 2 : TEATER TERMANIS

Naskah APA? Karya: Andik Sukro | Sutradara :Andik Sukro | Penatas Musik : H Sutanto Bersama Si Manis Percussion
Pemain : Ferdian Budianto, Laila Nurul, Tyra Awalya, Theodorus Cahyo, Wildan Naim, Putri hayyu, Silvia Berlian, Fifi Arida, Anisa, Arohma Minasti

Naskah Berjudul "APA?" Ini menceritakan tentang pemilihan Ketua OSIS dimana ada 5 kandidat setiap kandidat mempunyai visi misi yg berbeda, unik, mengkritik dan dibalut banyolan, pemilihan ini tidak berlangsung lancar dan sukses dikarenakan dompet salah satu Calon Ketua Osis hilang, dompet tersebut berisi uang dana untuk proses pemilihan OSIS jika uang tersebut hilang Pemilihan OSIS akan dibatalkan, 4 Calon kandidat Ketua OSIS itu bahwa mencurigai calon ke 5 yang mencuri dikarenakan calon ke 5 saja yg belum kampanye, calon kelimapun dihajar oleh 4 Calon Ketua Osis tersebut. Calon Ketua Osis yang kehilangan dompet tersebut tertawa tebahak bahak karena saingan calon ketua osis berkurang satu, dibalik tertawa itu ternyata dompet hilang tersebut hanyalah politik kecurangan yang dilakukan Calon Ketua osis yg berpura pura dompetnya hilang dicuri..

Itulah sekilas ulasan cerita kedua pementasan Teater 2 bulan sekali yang diselenggarakan digedung kesenian ponorgo.(teg)

Nikmatnya Gethuk Golan Ponorogo

Nikmatnya Gethuk Golan Ponorogo

Pawaggo.com – Pernah dengar Nama Desa Golan ?. Jika anda orang asli Ponorogo tentu tak asing dengan legenda perseteruan desa Golan dan Mirah. Tetapi kali ini kita tidak akan membahas itu. Kita akan membahas makanan khas dari desa Golan Kabupaten Ponorogo yaitu “Gethuk Golan”.

Ada banyak alasan mengapa getuk Golan menjadi legenda. Dari segi tampilan dan rasa, getuk Golan memang berbeda dari getuk biasa. Jika getuk biasa adalah olahan singkong yang ditumbuk bersama gula jawa,getuk Golan disajikan bersama ketan/jadah ,taburan parutan kelapa dan cairan gula kelapa yang manis. Daya tarik kedua adalah dari segi harga.bayangkan,di jaman serba mahal ini getuk Golan dapat anda nikmati dengan harga 1000 rupiah. Di sajikan di atas daun pisang, tampilan tradisional sangat kental dirasakan.

Dahulu lebih dari 70% penduduk desa Golan membuat dan menjual gethuk ini. Waktu itu, gethuk yang di buat masyarakat desa Golan masih gethuk murni berwarna putih berbahan utama singkong tanpa ada tambahan gula merah. Namun saat ini hanya tinggal sekitar 12 orang yang masih bertahan memproduksi dan menjual Gethuk Golan.

Untuk mendapatkan gethuk Golan yang asli, mau tak mau anda harus pergi ke desa Golan. Dari pusat kota ( Pasar Legi ) lurus ke arah barat krg lebih 5 km hingga perempatan Kerun Ayu, belok ke utara 1 km sampai di desa Golan. Ada plang Getuk Golan di jalan Srikaton , masuk ke arah barat 100 meter. Anda tanya orang saja, banyak yang tahu.

Jika anda tidak berminat pergi ke desa Golan, anda masih bisa menikmati gethuk Golan yang dijual di kota Ponorogo. Tepatnya di jalan Singodemejo atau lebih dikenal dengan nama Jalan Baru, tepatnya disebelah selatan Stadion Batoro Katong Ponorogo. Di penjual yang satu ini ada 5 macam yang ditawarkan dari olahan gethuk. Yaitu Gethuk Ketan, Gethuk Gatot, Gethuk Thiwul, Gethuk Trio dan Gethuk Goreng. Gethuk Golan nan legit penuh histori ini bisa anda dapatkan dengan kisaran harga Rp.1500 hingga Rp.3000 saja.(teg)

DPRD Ponorogo Rapat koordinasi Mengenai hibah bansos dan Bank Pasar

DPRD Ponorogo Rapat koordinasi Mengenai hibah bansos dan Bank Pasar

Rapat koordinasi yang digelar di gedung paripurna DPRD Ponorogo antara legislatif dan eksekutif pada Jumat (18/09/2015) telah menelorkan sejumlah poin penting. Diantaranya, kejelasan mengenai hibah bansos, Bank Pasar, masalah alun-alun kota, realisasi aspal hotmix dan pembangunan infrastruktur, perizinan RSUD dr Harjono Ponorogo hingga perayaan Grebeg Suro. Para wakil rakyat mempertanyakan kejelasan langkah eksekutif terkait isu-isu krucial untuk masyarakat Ponorogo.

Terkait hibah, Pimpinan DPRD dan Eksekutif bersepakat dalam waktu dekat untuk lebih dulu konsultasi ke kantor biro hukum Gubernur Jawatimur. Sementara untuk masalah bank pasar, dari masukan sejumlah anggota dewan dan komisi yang terkait, Pimpinan Dewan meminta pemerintah lebih jeli lagi melihat siapa yang terzdolimi yang harus segera dicarikan solusinya.

“menurut ijtihad Saya, orang yang terdzolimi (terkait BPR) itu siapa, nah itu yang harus kita bantu,” kata Ali Mufhti saat memimpin forum rapat. “yaitu orang-orang yang punya titipan uang di bank itu dan tak bisa dikembalikan,” jelasnya.

Ketua DPRD Ponorogo, Ali Mufthi yang memimpin langsung rapat meminta Pj Bupati dan Sekda, menjelaskan langkah pemerintah daerah Ponorogo menyikapi masalah hibah dan bank pasar, serta kesediaan Pemda mengupayakan program pengaspalan di ruas-ruas jalan di beberapa kecamatan dengan aspal hotmix.

“jadi semangat kita bersama ini untuk membantu pemerintah daerah, mencari solusi satu persatu,”

Dia pun juga meminta komisi B yang juga membidangi masalah bank pasar ini bisa lebih detail merangkum masalah BPR.

“untuk komisi B, undanglah BPR ini, undanglah nasabah yang punya deposan di sana biar teman-teman komisi B lebih detail tahunya,” tegas Ketua DPRD kepada para anggota. Sementara terkait yang ngemplang masalah BPR itu, DPRD pun membiarkan hukum yang nanti akan berjalan.

Sementara itu, PJ Bupati Maskur menanggapi positif rapat koordinasi mencari solusi bersama terkait sejumlah poin penting bagi Ponorogo dewasa ini. Terkait masalah bank pasar, Maskur dalam waktu dekat akan mengevaluasi keseluruhan masalah tersebut. Termasuk dasar hukum BPR hingga proses pembayaran kepada para deposan yang selama ini dirugikan, apakah bisa melalui APBD atau sumber dana lain.

“ya sepanjang ada legal aturan yang mengarah kesana akan kita coba, tapi intinya ini akan kita evaluasi ulang dulu ya…” terang Maskur kepada wartawan.

Logo Resmi "Ethnic Art Of Java"

Logo Resmi "Ethnic Art Of Java"

Tema Global
Secara kasat mata dapat kita lihat kontur reyog Ponorogo dominan sekali dalam logo tersebut. Ini memang disengaja agar supaya brand Ponorogo dan reyognya bisa menjadi icon bagi kota Ponorogo itu sendiri. Pengejawantahan dari huruf O menjadi bentuk yang dibuat sedemikian rupa sehingga bentuk tersebut bisa mewakili reyog , budaya dan kearifan lokal Ponorogo.
Tag Line
"ETHNIC ART OF JAVA" sebagai tag line Ponorogo memberikan makna bahwa Ponorogo mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota yang lainnya khususnya dibidang seni budaya. Dimana reyog sudah menjadi icon Ponorogo yang kita tahu sudah menjadi budaya nasional. Dan menjadi kebanggaan tidak hanya masyarakat Ponorogo akan tetapi bangsa Indonesia.


Bentuk Logo
Bentuk logo yang menyambung dari huruf N, O,dan  R diharapkan semua elemen masyarakat Ponorogo bisa menjadi satu visi dan misi untuk Ponorogo yang lebih baik.

Kontur bentuk reyog jelas itu adalah icon Ponorogo dan diharapkan bisa menjadi branding Ponorogo yang mewakili semua aspek seni budaya dan pariwisata Ponorogo.

Bentuk tumbuhan yang menggambarkan kesuburan dan perkembangan, diharapkan bisa menjadi semangat untuk menjadi semangant untuk maju dan berkembang sehingga bisa mencapai cita-cita bersama.

Bentuk logo yang simpel, dinamis, dan tidak kaku menggambarkan bahwa Ponorog itu luwes, ramah, dan up to date terhadap perkembangan jaman.

KRP Siap Mengawal Reyog Segera Mendapat Pengakuan UNESCO

KRP Siap Mengawal Reyog Segera Mendapat Pengakuan UNESCO

Komitmen KRP untuk terus memperjuangkan produk seni budaya Reyog agar diakui United Nations Educational, Scientific adan Cultural Organization (Unesco) disampaikan saat menggelar syukuran Milad ke-1 Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) di kawasan Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat (21/08/2015) kemarin.

Ada puluhan grup reyog dan pegiat reyog yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya yang menghadiri acara tersebut. Dengan tema "Reyog Ponorogo Menuju UNESCO" KRP siap mengawal reyog mendapat pengakuan dari UNESCO.

"KRP siap mengawal Reyog agar segera diakui sebagai warisan budaya dunia. KRP juga meminta pemerintah untuk memfasilitasi proses usulan supaya reyog mendapatkan pengakuan dari UNESCO," kata Suyatno

Untuk memperjuangkan pengakuan reyog sebagai warisan budaya dunia KRP juga telah melakukan road show dengan menemui Bupati Ponorogo, M Amin, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, bahkan telah bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo.

"Walaupun KRP baru setahun didirikan, tapi kami sudah mempunyai kelengkapan organisasi, jadi kami bukan organisasi abal-abal atau ilegal. Bahkan Gubernur DKI mengapresiasi kelengkapan administrasi yang KRP miliki," tegas Suyatno

"Semua pejabat yang kami datangi memberikan apresiasi positif dan KRP akan terus mengkampanyekan Reyog Ponorogo menuju UNESCO," papar Suyatno yang juga pimpinan grup Reyog “Bantarangin”.

Sumber : jogjanews.com

Upacara Kemerdekaan di Desa Krebet, Warga Sangat Antusias

Upacara Kemerdekaan di Desa Krebet, Warga Sangat Antusias
Warga antusias upacara berlangsung khidmat
PONOROGO | Beginilah semangat warga desa Krebet kecamatan Jambon Ponorogo, saat melaksanakan upacara HUT Kemerdekaan RI ke 70 tahun yang digelar di tanah lapang di desa setempat. Upacara ini diikuti semua warga desa dan uniknya peserta upacara, dibebaskan mengenakan pakaian apapun sesuai dengan kesehariannya, ada yang bawa cangkul, Scrop,semprotan padi, Keranjang rumput. bahkan warga yang idiot pun dengan 2 jempol, ingin menunjukan kegembiraanya dalam ucpara peringatan hut ri ke 70 tahun tersebut. Meski pakaian seadanya dan alas kaki apa adanya, namum para warga desa Krebet ini sangat semangat mengikuti kegiatan upacara yang di gelar di desanya.

Meski upacara yang di lakukan di kampung idiot ini cukup sederhana namum tidak mengurangi kekhidmatan dalam upacara peringatan HUT RI ke 70 tahun tersebut.

Salah satu warga mengaku terharu, bangga dan sangat senang, sehingga sulit diungkapankan bisa ikut upacara di hari kemerdekaan tersebut, karena selama ini, ia tidak pernah melakukan upacara 17 san seperti orang kantor pemerintahan.

Menurut ketua panitia HUT RI ,kegiatan ini dilakukan untuk memberikan semangat kembali kepada warga desa atas kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diraih dengan pengorbanan darah dan nyawa oleh para pejuang kemerdekaan tersebut. Sehingga dengan kegiatan upacara ini, bisa kembali memperkuat rasa nasionalisme yang ada di masyarakat.

Mifrohadi menambahkan untuk menyemarakan peringatan HUT RI ke 70 tahun tersebut, seusai kegiatan upacara akan digelar berbagai lomba, dengan tujuan untuk memupuk kebersamaan dan kegotongroyongan.

Sumber : Pojokpitu.com

Pakai Kostum Khas Pedagang Pasar Songgolangit Mengikuti Upacara HUT RI ke-70

Pakai Kostum Khas Pedagang Pasar Songgolangit Mengikuti Upacara HUT RI ke-70
Unik. Pedagang Pasar Songgo Langit memakai Kostum khas ponorogo dalam upacara peringatan HUT RI ke-70
PONOROGO : Ratusan pedagang pedagang Pasar Songgolangit Ponorogo menggelar upacara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70 di halaman parkir pasar Songgolangit Selatan(pasar lanang).

Sebelum digelarnya upacara, diawali dengan prosesi dengan membuang sesaji ke empat penjuru berlangsungnya upacara.

Dalam upacara tersebut semua peserta sampai pada petugas upacara mengenakan pakaian khas Ponorogoan, yang juga diikuti dengan penampilan group Reyog Ponorogo. “Ini istimewa buat para pedagang pasar Songgolangit, ini tetap semangat dan optimis banget,” ucap Irianto, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Songgolangit, Senin (17/8/2015).

Dengan mengenakan pakaian ala Ponoragan, Irianto berharap ingin menunjukan bahwa dengan semangat Ponorogo dan para waroknya bisa memberikan penyemangat bagi para pedagang.

Iriyanto yang juga menjadi inspektur upacara dalam pengibaran bendera merah putih tersebut, juga mengkritisi para pejabat. Dirinya berharap adanya perhatian tidak hanya pada fisik bangunan pasar, akan tetapi juga penataan pasar sehingga para pedagangnya.

“Saya gabungkan seni Ponorogo ini dengan budaya dengan acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ini karena rasa nasionalisme rakyat sekarang telah pudar, dalam kemasan ini supaya tampil beda,” ucap Tyas Gunarto ketua panitia. (teg)

Sumber : Lensaindonesia

Cara Polwan Polres Ponorogo Rayakan HUT RI ke-70

Cara Polwan Polres Ponorogo Rayakan HUT RI ke-70
Polwan Anggota Polres Ponorogo saat meriahkan HUT RI ke-70
HUT RI– Polisi Wanita (Polwan) Kepolisian Resort Ponorogo Jawa Timur memiliki cara unik dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Mereka melakukan pertandingan futsal dengan mengenakan sarung. Hebatnya mereka bertanding melawan polisi laki-laki. Namun, sang polisi laki-laki harus menggunakan daster.

“Kami saat ini memang sedang merayakan Agustusan, dengan mengadakan berbagai lomba, salah satunya adalah lomba futsal ini. Kalau futsal itu kan biasa, tapi ini kami buat luar biasa karena kostumnya adalah sarung dan daster,” paparnya.

Pertandingan futsal antara Polwan bersarung dengan polisi berdaster tersebut digelar di halaman Markas Kepolisian Resort Ponorogo, Jumat (2015-08-14) pagi.

Wakil Kepala Kepolisian Resort Ponorogo Komisaris Polisi Suharnoto mengatakan, pihaknya memang sengaja menggelar perayaan HUT RI dengan cara yang unik.

Dalam laga itu, para wanita polisi yang cantik-cantik menunjukkan perjuangan yang hebat. Sebagai bukti mereka kalah tipis 3-4 dengan polisi laki-laki.[Responorogo]

Sumber : Tribatanews.com

Upacara Unik Peringati HUT RI ke-70 di Ponorogo

Upacara Unik Peringati HUT RI ke-70 di Ponorogo
Seniman reyog ikuti upacara HUT RI ke-70
Upacara unik dengan peserta seniman reog berkostum lengkap itu digelar di Desa Cekok, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Minggu (16/8/2015). Bukan hanya diikuti seniman reog, upacara benderea perayaan HUT RI itu juga melibatkan penabuh gamelan jawa untuk mengiringi lagu Indonesia Raya.

Kegiatan yang dilakukan warga Desa Cekok, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo itu dirancang khas karena reog ponorogo merupakan aset Negara sehingga para seniman harus ikut andil dalam melestarikannya. Upacara unik itu juga sebagai bentuk rasa hormat kepada pendahulu bangsa yang memerdekaan Indonesia.

Bukan hanya orang dewasa, sejumlah anak-anak tampak ikut serta dalam upacara bendera perayaan HUT RI itu. Anak-anak tersebut juga memakai baju bujang ganong, mereka dengan senang hati mengikuti upacara ini karena menghormati para pahlawan bangsa yang telah gugur membela negara Indonesia.

“Saya senang ikut upacara ini, lucu. Saya disuruh pakai baju bujang ngganong,” ungkap salah seorang anak.


Upacara unik memperingati HUT RI ke-70 
Meski memakai baju reog ponorogo dan topeng, bujang ganong, para seniman serta anak-anak sangat gembira dan bersemangat. “Kami semua sangat bangga karena masih bisa merasakan upacara bendera dengan memakai kostum reog ponorogo. Dan semangat seperti ini jangan lantas hilang, karena siapa lagi yang mau mempertahankan Reyog Ponorogo kalo bukan kita warga Ponorogo sendiri.”kata Agung Prianto, salah seniman Reog.

Dengan adanya kegiatan upacara bendera HUT RI itu, para seniman berharap negara indonesia semakin baik, serta sadar bahwa seni reog ponorogo adalah bentuk hiburan tradisional Indonesia yang bisa dikenal di seluruh penjuru dunia.(teg)

Sumber : Solopos.com

Semerbak Tempo Doeloe, Berburu Sate Setono, Pecel Tumpuk dan Sego Tahu di Kota Lama Ponorogo

Semerbak Tempo Doeloe, Berburu Sate Setono, Pecel Tumpuk dan Sego Tahu di Kota Lama Ponorogo

Sate Ayam dan Sego Tahu, kuliner khas yang hanya bisa kita dapatkan di daerah ini, sebenaranya di Ponorogo merupakan sentra sate ayam, namun sate ayam di daerah Kota Lama ini mempunyai ciri khas, dimana ayam direbus dulu sebelum di sunduk menjadi sate, sambal kacang dan bumbunya juga beda dengan sate di daerah Ponorogo kota, dan ke khasan ini diikuti oleh pedagang-pedagan sate di pinggiran dan desa-desa di Ponorogo, sate ini biasa jualannya dipikul sambil teriak "Teeeeee................ sate....................."

Namun begitu juga banyak pedagang sate yang mangkal di sekitaran kota lama, diantaranya di komplek pasar Pon dan di utara, timur, selatan, dan barat pasar Pon.

Sego tahu, nasi tahu yang khas nasi atau lonthong yang di kasih tahu goreng yang dikopyok dengan telur, sambal atau bumbunya kacang peda dan diberi kecap manis dan acar. Dan nasi tahu ini bisa kita dapatkan di selatan perempatan dan barat perempatan.

Ada juga pecel tumpuk dan soto santan khas pasar pon, yang akan memanjakan lidah pengunjung.

Rumah priyayi dan juragan batik, Di sepanjang jalan Batoro Katong dan sekita kota lama ini kita akan dibuat kagum oleh rumah rumah dengan arsitek lama, rumah khas Ponorogo seperti gambar di atas dan rumah yang menjulang tinggi dengan atap yang agak tegak dengan halaman luas.

Mirip bagunan jaman Belanda, dan hanya orang-orang kaya yang bisa memiliki bangunan ini. Dan daerah ini dulu menjadi rumah-rumah juragan batik, dan bangunan tersebut selain digunakan rumah hunian juga dibuat sekolahan dan perkantoran.

Nama jalan-jalan seperti sido mukti, cide wilis, ukel, parang menang, parang kusumo menjadi bukti kalau daerah sini menjadi pusat batik dan kota.

Dari kota lama ini pula kegiatan budaya di Ponorogo dimulai, seperti kirab budaya, kirab Grebeg Syuro, Kirap Pusaka, intinya adalah gambaran pindahnya pemerintahan dari kota lama ke kota baru yang sekarang ini yang berjarak kurang lebih 10 km.

Kota lama ini banyak group kesenian reyog dan sanggar tari tentang Ponorogo, yang bisa didatangi kapan saja. Kota lama juga menjadi sentra pembuatan batu bata dan gerabah, banyak asap dari perapian menjelang sore dari tempat tempat pembakaran batu bata dan gerabah.

Kegiatan ini sebagia besar sudah menjadi penghasilan utama di sela sela pekerjaan di sawah.

Artikel oleh : Nanang Diyanto
Sumber      : Kompasiana

"Pasar Pon" Kota Lama Ponorogo

"Pasar Pon" Kota Lama Ponorogo
Kawasan Kota Lama "Sar Pon" Ponorogo (Kompasiana/Nanang Diyanto)
Dalam sejarah berdirinya Ponorogo pernah mengalami perpindahan pusat pemerintahan, sebelum di tempat sekarang ini pusat pemerintahan berada di sekitaran Pasar Pon, orang lebih suka menyebut Kota Lama.

"Prapatan Pasar Pon" ini menjadi pusat kegiatan masyarakat, pasar ini berdiri sejak jaman Ponorogo berdiri sehingga sekarang, namun besar dan luasnya kalah dengan pasar Songgolangit yang menjadi pasar induk Ponorogo sekarang ini, prapatan (perempatan) ini menjadi batas 3 kecamatan yakni; Babadan, Siman dan Jenangan, dan menjadi batas 4 kelurahan yakni; Kadipaten, Singosaren, Mangunsuman, dan Patihan Wetan.

Beberapa bangunan serta peninggalan bersejarah masih bisa kita nikmati dan kita pelajari dan dirawat sehingga sekarang, berikut liputannya.

Makam Setono, komplek makam para bangsawan sekaligus para penyebar agama Islam berada ditimur perempatan belok ke kiri tepatnya di jalan Raden Katong kelurahan Setono Kecamatan Jenagan.

Ini menjadi salah satu tujuan wisata religi, di makam ini disemayamkan antara lain Sunan Katong (Raden Katong), beliau putra prabu Brawijaya yang merupakan utusan Raden Patah dari Demak untuk menyebarkan agama Islam sekaligus meredakan pemberontakan di Suru Kubeng (oleh daerah Jetis Ponorogo) yang dipimpin oleh Ki Ageng Kutu.

Disemayamkan juga, Ki Ageng Mirah (dari Demak), patih Seloaji, dan para istri Sunan Katong berikut keturunan serta pengikutnya.

Makam ini buka pada Kamis malam Jumat, dan bila ada peziarah diluar waktu tersebut bisa menghubungi juru kunci yang berada tidak jauh dari komplek makam.

Dalam jalan menuju makam ada 3 gapura (regol) seperti gambar diatas, dan ada 3 pintu menuju bangunan utama. Dan di komplek makam tersebut ada masjid dan madrasah yang menjadi kegiatan keagamaan sampai sekarang.

Masjid Kauman Kota Lama, berada diutara perempatan Pasar Pon belok kiri, bangunan masjid masih berdiri kokoh dan dipakai sampai sekarang. Angka tahun pembuatan 1560 dan dipugar tahun 1965 sesuai pada prasasti yang terdapat pada halaman masjid.

Dan dibelakang masjid ada komplek makam para pengurus masjid, dan salah satu makam yang bercungkup besar dan tidak terawat, karena ada kepercayaan tidak boleh menziarahi makam tersebut, entah bagaimana sejarahnya tentang hal ini, ketika bertanya pada orang yang diberada disekitar masjid dia hanya menggeleng tidak mau berpolemik dan tidak mau berandai-andai.

Mungkin dalam adat [norma] Jawa istri seorang raja tidak boleh kawin lagi sepeninggal sang raja, namun salah satu istri ada yang kawin lagi sepeninggal sang raja, dan ketika meninggal dan dikuburkan di komplek makam Setono jenasahnya tidak bisa masuk kedalam liang lahat, akhirnya dikuburkan di belakang masjid Kauman ini.

Ada kepercayaan perempuan yang merawat makam tersebut akan menjadi wanita nakal, dan tapi sering juga ada perempuan nakal yang berziarah disitu agar laris dan diminati lelaki hidung belang. Tapi entahlah kepercayaan itu masih berlaku sampai sekarang.

Artikel dari : Nanang Diyanto
Sumber       : Kompasiana.com

Serabi Kuah Asal Ponorogo

Serabi Kuah Asal Ponorogo
Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri, walaupun namanya sama-sama serabi, dan cara pembuatannya sama, tapi cita rasa yang tercipta berda-beda disetiap daerah.

Berikut ini saya ceritakan tentang serabi kuah asal Ponorogo, Jawa Timur.

Mbah Tini salah satu penjual serabi kuah di Ponorogo
 "Yah menten kok pun telas mbah?" tanya saya karena mbah Tini sudah mengoreti dan mengiringkan panci wadah adonan tepung beras dan santan langsung ke kereweng tanahnya.

"Nggih mas... la sampeyan pun kawanen, la wong lare sekolah pun sami bidal pra nggih pun meh jam 7...." jawab mbah Tini sambil membolak mbalik srabi di kerewengnya.

"Milai kapan sadeyan teng pojokan prapatan niki mbah?" tanya saya.

"Kulo sadeyan awit tahun 70-an bar gestok...., jane teng yogo ken leren leh sadeyan, tapi gek yo nyapo yen nganggur nek omah, kadung kulino tangi esuk, malah ora kepenak mas..." jawab mbah Tini.

Setangkap serabi terdiri 2 keping, tampak kuah gula kelapa dan santan, tampak pula lampu minyak sebagai penerangannya. (Kompasiana/Nanang Diyanto)

Di Ponorogo selain mbah Tini banyak lagi yang jualan serabi, hampir di pojokan perempatan ada yang jualan, seperti di perempatan Tonatan, dan perempatan Tambak Bayan.


Selain itu, padagang serabi juga mudah ditemui di perempatan Pasar Pon, perempatan pabrik es, bundaran timur pasar Legi dan perempatan depan kecamatan kota (Bangunsari) di atas.

Mbah Tini mulai jualan jam 3 pagi dan siap (matang) jam 4 pagi ketika orang-orang sudah keluar masjid.

Tidak tahu mengapa ciri khas jualan mereka di pinggir jalan, perempatan dan dekat masjid dan bukannya menjelang subuh sampai jam 6-an pagi.

Ketika ditanya ini sudah turun temurun sejak dari neneknya dulu.

Serabi Ponorogo dibuat dari bahan adonan tepung beras yang dicampur santan, encer mirip membuat jenang sumsum.

Hanya saja dikasih bumbu garam secukupnya untuk membuat gurihnya. Lalu dituang di kereweng yang dipanasi bara api dari arang.


Cara penyajianya ditaruh di mangkok dikasih kuah santan dan gula, bagi yang tidak suka manis cuma memakai santan, dan bila tidak suka santan dan manis menggunakan parutan kelapa muda.

Dan paling enak dinikmati ketika panas sambil duduk nongkrong di dekat penjualnya sambi menghangatkan badan di dekat perapian.

Sumber : (Kompasiana/Nanang Diyanto)

Ponorogo Prestasi Siaga 2015

Ponorogo Prestasi Siaga 2015

Peringati hari jadi pramuka ke-54, Kwartir Cabang(Kwarcab) Ponorogo gelar Prestasi Siaga Tahun 2015 di Taman Kota Ponorogo, dengan mengusung sebuah tema “Pramuka Garda Terdepan Pelaku Perubahan dalam pembentukan Karakter Muda”, Sabtu(08/08).

Tampak hadir menjadi undangan pada ceremonial pembuka, Kakak Andalan Kwarcab, Ketua Kwarran se-Kabupaten Ponorogo, Pembina Pendamping, peserta Prestasi Siaga serta tamu undangan penting lainnya.

Kegiatan ini berlangsung sebagai upaya Kwarcab Pramuka Ponorogo dalam meningkatkan mutu para Anggota Pramuka Siaga.

“Dalam rangka mengetahui pembinaan pramuka siaga, maka diselenggarakan kegiatan yang menarik menantang dan mengandung pendidikan dalam bentuk lomba yang disebut Prestasi Siaga. Sehingga upaya kita lakukan dengan meningkatkan frekuensi pertemuan baik di pangkalan maupun di jajaran kwartirnya, diantaranya dengan digelarnya prestasi siaga tahun 2015 ini,” terang Hj. Wiji Astuti, Ketua Panitia

Antusiasme sangat dirasakan dari peserta utusan Kwaran se-Kabupaten Ponorogo. Hal demikian bisa dilihat dari tingginya jumlah peserta dalam even ini.

“Sedikitnya 18 Barung (Regu), dengan setiap barung-nya terdiri dari 9 Anak Siaga,” terangnya.

Materi perlombaan Prestasi Siaga tahun ini dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu memupuk bakat dan minat serta keterampilan peserta pramuka siaga sesuai dengan golongan usianya. Macam perlombaan diantaranya; upacara pembukaan latihan siaga (UPLAS), halang rintang I dan II, KIM, spider transportaion game, mata angin, seni budaya, flowing ball game, sms/ IT, mengenal negara tetangga, karnaval, menyanyi lagu wajib dan lomba doa.

Sementara itu, Dr. H. Sumani, M.Pd., Sekretaris Kwartir Cabang Ponorogo berkesempatan membuka secara resmi rangkaian kegiatan Prestasi Siaga. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakan prestasi siaga ini bukan untuk saling menang-menangan tetapi untuk lebih memupuk rasa persatuan dan kesatuan.

“Dengan digelarnya kegiatan ini diharapkan dapat membentuk jiwa mandiri, bijaksana dan sukses di masa yang akan datang,” harapnya.

Lebih lanjut, pihaknya berpesan kepada para anggota pramuka dalam kontingen yang akan mengikuti Lomba kepramukaan di Pasuruan, untuk melakukan yang terbaik bagi Ponorogo.

“Bawa nama baik ponorogo dan semoga prestasi tertinggi bisa kalian raih sehingga tiket rekreasi ke Amerika bisa kalian dapatkan,” tutupnya.(teg)

Sumber: kanalponorogo.com

Sentra Kerajinan Sangkar Burung Desa Ketonggo

Sentra Kerajinan Sangkar Burung Desa Ketonggo
Sangkar burung, Produk unggulan desa Ketonggo
Desa Ketonggo merupakan sentra kerajinan bambu dengan berbagai item terutama sangkar burung. Usaha rumahan tersebut sudah ditekuni warga Desa Ketonggo sejak puluhan tahun silam. “Usaha sangkar burung ini memang turun temurun dan sudah ada sejak dulu, sebelum kami lahir,” ujar Miseri alias Banjir, salah satu pengrajin sangkar burung.

Bukan hanya itu ada beberapa warga Desa Ketonggo yang menekuni kerajinan tangan selain sangkar burung, yaitu miniatur pesawat terbang. Proses pembuatan sangkar burung di Desa Ketonggo memang dikenal sejak dulu dan ternyata proses pembuatannya mulai dari nol (barang belum jadi) berada di Desa 
Ketonggo. “Khusus rotannya kita datangkan dari luar kota, yaitu dari Solo,” paparnya.

Dia menerangkan usaha kerajinan sangkar burung bukan hanya ditekuni oleh orang tua saja, tetapi hampir semua pemuda di Desa Ketonggo rajin dan menggantungkan kehidupannya kepada sangkar burung. Hingga saat ini tercatat sekitar 100 KK di Desa Ketonggo yang menekuni usaha pembuatan sangkar burung atau kurungan (bahasa Jawa).

Lebih lanjut, Pak Banjir yang juga Ketua Kelompok Pengrajin sangkar Burung ‘Langit Biru’ menuturkan produk sangkar burung dari Desa Ketonggo saat ini mampu menembus pasar nasional, mulai Yogyakarta hingga pulau Dewata Bali. Produksinya pun mencapai ribuan setiap bulannya. “Kami sendiri yang setiap minggunya mengirim sangkar burung jadi ke luar kota,” akunya. 

Sangkar burung, tak ubahnya figura. Sebuah lukisan akan terangkat kualitasnya bila didukung figura yang sesuai dan berkelas. Hal ini berlaku pula pada seekor burung. Seekor burung akan terlihat berbobot bila berada di sangkar yang pas dan bagus. Apalagi burung tersebut derkuku, puter, poksay, cucakrowo, perkutut dan yang sekelasnya.

Dalam pembuatan sangkar burung menggunakan bahan baku bambu apus, kayu sengon laut, tampar agel dan rotan. Agar hasil sangkar bertambah bagus maka perlu ditambah asesoris seperti mahkota, kaki, gantungan dan thangkringan (tempat pijakan burung).

Selera pasar akan sangkar burung cenderung berubah-ubah. Apalagi pasca lomba. Pasti ada sangkar burung yang menjadi trend saat itu. Biasanya pada finishingnya. Pada bagian atas sangkar ada lukisan yang menjadi simbol trend. Seperti Naga, Arwana, Phoenix, Jatayu dan sebagainya, yang biasa dilukis secara halus dengan menggunakan airbrush dengan berbagai Ukuran mulai 40 cm 70 cm diameter 2mm 3,5mm.

Para pengrajin sangkar burung di Desa Ketonggo saat ini mengaku kekurangan permodalan. “Kami saat ini sangat membutuhkan dukungan modal usaha untuk mengembangkan usaha kerajinan sangkar burung ini,” keluhnya.

Lebih jelas Banjir menambahkan bahwa selain permodalan, saat ini para pengrajin juga membutuhkan peralatan usaha. “Alat yang kita gunakan untuk memproduksi sangkar burung ini sangat tradisional dan merupakan kreasi kita sendiri, dengan harga jual mulai 100 ribu hingga satu sampai dua juta rupiah tergantung jenis, model serta tingkat kesulitan pembuatan nya,” bebernya.

Oleh karenanya, ia bersama warga lainnya berharap kepada Pemkab Ponorogo maupun pihak lainnya untuk membantu merealisasikan keinginan para pengrajin sangkar burung di Desa Ketonggo. “Kami sangat berharap segera ada perhatian dari pihak terkait terkait permodalan usaha dan bantuan peralatan pembuatan sangkar burung,” pintanya penuh harap.

Sumber : Lingkar kota.com

Luar Biasa, 212 Dadak Merak Semarakkan HUT Ponorogo ke 519

Luar Biasa, 212 Dadak Merak Semarakkan HUT Ponorogo ke 519

Secara resmi bupati Ponorogo membuka secara resmi parade reyog masal ini dengan membunyikan cemeti Samandiman yang selanjutnya diserahkan kepada penari klono sewandono, sebagai pertanda untuk segera memimpin tarian reyog kolasal ini. Karena dalam tarian reyog klono sewandono adalah pemimpin rombongan dalam perjalanan sehingga tercipta cerita tarian reyog ini (versi kerajaan Wengker).

Setelah menerima cemeti samadiman penari klono sewandono langsung menuju ke tengah arena, gamelan dipukul bertalu-talu, semua reyog yang tadinya ditidurkan di lapangan segera diangkat dan ditarikan oleh pembarong, kencangnya angin membuat sebagian pembarong terpelanting karena lebar reyog tak mampu menerima terpaan yang mebuat berat semakin berlebih dari biasanya.

Para penari warog segera menengah dan dan menari mirip para jagoan yang sedang bertempur adu kesaktian antar warog satu dan lainya, panasnya lapangan dari paving tak dirasa oleh kaki mereka meski tanpa pakai pengalas,begitu juga penari ganongan menari berjumaplitan seperti akrobat, salto sana sini menunjukan kelincahannya sebagai telik sandi seperti cerita awal reyog diciptakan.


Sementara penari jathilan lemah lembut, ditarikan remaja-remaja putri yang ayu rupawan yang sedang mengawal klono sewandono, tariannya pun atraktif meski penarinya perempuan. Peluh mengalir dari rias pipinya maklum panas masih dirasa meski jam sudah menunjukan pukul 3 sore.

Tarian semakin jadi ketika gamelan ditabuh semakin kencang dan rancak membuat para menari meningkatkan tempo tarian. Sorak sorai penonton yang dipinggir semakin menyemangati mereka. Luar biasa penonton dan para pengambil gambar kali ini lebih teratur, mungkin pagar pembatas yang ditempatkan memutar seluar tempat menari membuat penonton tertip. Besar kecil, tua muda, lelaki perempuan tumplek bleg di alun-alun, mereka tidak mau ketinggalan moment langka ratusan reyog menari bersama.



Luar biasa memang kejutan yang dibuat panitia hari jadi Ponorogo yang ke 519 kali ini, 212 reyog tampil bersamaan, menari bersamaan memenuhi alun-alun Ponorogo sore kemarin (2 Agustus 2015).

Dari semua kecamatan yang ada di Ponorogo dibatasi 10 dadag merak, karena kalau tidak dibatasi bisa mencapai 500-an lebih kata mas Jarno pembarong dari Sukorejo, menurutnya dia bersama 9 pembarong lainya yang masih satu kecamatan ditugasi dari kecamatan Sukorejo untuk membawa dadag reyog dan menarikannya di alun-alun, dia datang naik pik-up untuk membawa dadag meraknya yang besar dan berat tersebut.

Imbuhnya lagi rata-rata di setiap dusun mempunya reyog, dan rata-rata setiap desa mempunyai 3-4 group reyog dan tinggal mengalikan jumplah di kecamatan atau sekabupaten kalau ingin mendapatkan angka kasar jumlah reyog di Ponorogo. Kesemua pengin keluar, pengin tampil unjuk diri dalam rangka peringatan hari jadi Ponorogo kali ini.


Suatu kebanggan bisa tampil spektakuler begini, imbuhnynya bangga. Mereka sudah siap 2 jam sebelum acara dimulai, bukan halangan meskipun cuaca panas pekerjaan keseharian di sawah terpanggang matahari membuatnya terbiasa.

Disamping itu dalam sambutannya kepala dinas pariwisata mengatakan, hajatan ini dilakukan dalam rangka memperingati hari jadi Ponorogo ke 519, parade reyog masal ini sebagai kebangkitan insan reyog untuk mencintai seni reyog agar kejadian sengketa reyog dengan negeri lain tidak terulang lagi. Kali ini seni reyog sudah mendapatkan pengakuan dari kemenhum. Dia berharap mendapatkan pengakuan dari UNESCO dan semua persyaratan sudah dipenuhi tinggal menunggu semoga dalam waktu dekat sudah mendapakan pengakuan tersebut. (Baca : Gubernur DKI Desak Presiden Daftarkan REYOG ke UNESCO)

Lebih lanjut dia memaparkan selain parade reyog masal ini masih ada kegiatan lain di hari jadi kali ini, pemilihan thole genduk, festival reyog mini setingkat SD-SMP, kirab budaya, dan pameran seni khas Ponorogo lainnya. Dan acara ini berlangsung seminggu kedepan, dia berharap semoga bisa menjadi hiburan dan motivasi untuk masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.

Dalam sambutannya bupati mengingatkan bila saat ini usia Ponorogo sudah tidak muda lagi, dia mengajak rakyat bersama-sama membangun Ponorogo baik lewat jalur ekonomi, sosial, budaya maupun pariwisata.

Ucapan terima kasih atas kejutan yang luar biasa reyog bisa ditampilkan secara masal, secara kolosal sehingga bisa membuat 'gemuyune wong cilik', yang artinya bisa membuat senang rakyat banyak

Sumber : PariwisataPonorogo.com

Gong Tumbeng Iringi Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo

Gong Tumbeng Iringi Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo

Untuk kali pertamanya pagelaran macapat yang diadakan di Rumah Dinas Bupati Ponorogo ini diiringi oleh kesenian gong gumbeng. Naman yang lucu mungkin, padahal tidak ada gamelan yang berupa gong ditemukan disana, namun ketika dimainkan terasa ada suara menggaung mirip gong, gooonng...... gooooonggg.... yang halus. Ternyata suara tersebut berasal dari bambu panjang yang ditiup, didalamnya ada bambu kecil lagi sehingga ketika ditiup suara menjadi menggema.

Gong gumbeng ini ada sejak belum adanya reyog, belum adanya kabupaten Ponorogo. Menurut sejarahnya ini adalah cara para leluhurnya yang mengalami keterbatasan dana atau situasi pada jaman intu sehingga membuat alat musik yang hasil suaranya mirip dengan gamelan yang ada pada era itu. Sungguh kreatif nenek moyang mereka.


Sedangkan suara melodi berasal dari 14 angklung mulai ukuran kecil sampai terbesar, yang digantung menjadi 1 pajangan mirip jemuran pakaian, yang dimankan oleh 4 orang, ditap orang memengang 3-4 angklung dan digerakan sesuai tugasnya masing-masing sehingga membentuk suara yang harmoni mirip kecapi dan kenong, ataupun kempul. Sedangkan pengendang tugasnya menjadi pemandu lagu atau nada.


Macapat dimulai dengan tembang Pambuko (pembuka) oleh ketua paguyuban macapat, menurutnya yang ditembangkan adalah tembang Dhandang Gulo, yang sayup-sayu petikan sairnya berikut ini;
Dhandhang Gulo
Niyatingsun arsa hamiwiti
Sarasehan kidungan macapat
Den udi murih manise
Allah kang maha agung
Maha rahman lan maha rahim
Mugi ngijabahana
hajad amba sagung
Ngleluri budaya jawa
Sastrajendra hayuningrat wus cumawis
Hanjog maring hakekat
Dan setelah tembang pembuka dilanjutkan tembang Ilir-ilir gubahan Sunan Kalijogo, dan selanjutnya diartikan makna tembang Ilir-ilir tersebut, yang merupakan petuah maupun nasehat yang luar biasa tentang beragama, bermasyrakat dan bernegara.

Selanjutnya tembang ditembangkan bergiliran, berkeliling ke arah kanan penembang pertama.Setiap orang mendapat giliran, meskipun usia mereka tua namun semnagatnya luar biasaya, mungkin karena faktor suka pada seni macapat sebelumnya. Begitu juga bupati maupun kepala dinas yang berada dalam lingkaran, tembang-tembang tersebut sudah disiapkan dalam bentuk buku scrib yang dibagikan ketika acara dimulai.
(Baca : Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo)
 



Dalam buku tersebut ada beberapa tembang diantaranya dhandang gula, mijil, kinanthi,sinom, asmaradana, dan pangkur. Yang telah digubah sesuai pakem tembang masing-masing, meski sair berganti-ganti namun cara menembangkannya tetap sesaui pakem tembang, yang tiap tembang tersebut mempunyai kosa kata terakir berkahiran sama dengan pakem setiap tembang.


Sair-sair tersebut sudah disiapkan oleh paguyuban macapat yang diberi judul "Pakarti luhur wedahring nur kang wening, kidung dumadine Ponorogo", yang menceritakan babad Ponorogo mulai datangnya Raden Katong di Ponorogo sampai terbentuknya kabupaten Ponorogo. Sair-sair tersebut berasal dari kata-kata serat Babad Ponorogo Bathoro katong, dari buku karangan Purwowidjoyo dan serat Babad Patah Panembahan Jimbun.

Tembang-tembang dimulai peristiwa kekacauan di Majapahit, perintah Raden Patah kepada Raden Katong untuk memadamkan pemberontakan Ki Ageng Kutu di ponorogo, sampai keberhasilan raden Katong sampai dianugerahi penghargaan menjadi bupati pertama Ponorogo. Berikut sebagian sair tersebut;
Sinom
Raden katong pinaringan
Pangkat dadi adipati
Seloaji pinaringan
Pangkat minangka patih
Mirah dipunparingi
Pangkat ninagka pengulu
Dene wewengkoniro
Kawasan kang wus den titi
Lawu-Wilis mengidul pantog segoro
Tembang yang berasal dari Serat Raden Patah tersebut bearti, Raden Katong dianugerahi pangkat adipati, Seolaji dianugerahi pangkat patih, Ki ageng Mirah dianugerahi pangkat kepala urusan agama, sedangkat wilyah barat dan utara mulai perbatasan gunung Lawu, timur gunung Wilis, sampai laut selatan.

Mereka bangga seni yang selama ini menjadi samben (sampingan) mendapat apresiasi dari pemeritah, apalagi diminta tampil mengiringi macapat di Pringgitan yang terkenal sakral dan dihadapan para pejabat Ponorogo, mereka juga bangga bisa ikut meramaikan hari jadi Ponorogo yang ke 519.

"Selamat Hari Jadi Ponorogo ke 519"

Sumber : PariwisataPonorogo.com

Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo

Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo

Suara tetembangan mengalun ditengah sepi dan dinginnya malam, maklum jam sudah menujukan jam 23:15. Tetembangan tersebut halus nadanya lembut tanpa sentakan, suaranya merdu dan sesekali mirip paduan sauara, sayup-sayupnya mirip tembang cokek-an tembang pesisiran hanya saja kali ini lembut melebihi lembutnya tembang keroncong. (Ponorogo, 1 Agustus 2015)

Diiringi suara gamelan mirip gamelan jawa, namun bila dicermati gamelan tersebut juga lebih halus tanpa kleningan, mirip suara kotekan bambu ketika menjelang sahur, namun lagi-lagi halus dan berirama pelan mirip kecapi.

Suara tersebut berasal dari Pringgitan, rumah dinas bupati Ponorogo, tepatnya pada ruang pertemuan yang terbuka dihalaman belakang. Tampak puluhan orang (mungkin sekitar 80-an orang) yang rata-rata berusia diatas 60 tahun, mereka berpakain adat Ponoragan lengkap dengan blangkon atau ikat kepala, sementara ada yang berbaju puih baju koko, Bupati dan kepala dinas pariwisata. 


Acara santai namun khidmad tanpa protokoler meskipun acara ini berada di dalam lingkup rumah dinas bupati. Dalam sambutannya bupati mengucapkan terimakasih kepada semua hadirin dimana pagelaran macapat ini bisa terselenggara, dan apresiasi pada paguyuban Songgo Buono yang telah membentuk wadah melestarikan tembang macapat di Ponorogo, begitu juga ucapan terima kasih pada paguyuban gong gumbeng dari desa Ringinanom Sambit yang terus eksis dan melestarikan kesenian yang alat musiknya tidak ada selain di desa tersebut.

Bupati mereview kembali tentang berdirinya Ponorogo (babad ponorogo), tentang datangnya Raden Katong (adik Raden Patah) putera Prabu Brawijaya, tentang sejarah kabupaten Ponorogo dari bupati pertama sampai terakhir secara singkat. Yang semua berasal dari berbagai ragam budaya, keyakinan, adat istiadat, asal-usul yang berbeda namun bisa membentuk Ponorogo sampai sekarang ini. Dan pada hari jadi kali ini menurut bupati jatuh pada tahun ke 519, jadi usia yang patut kita yukuri.


Kepala dinas pariwisata dalam sambutan singkatnya, juga mengapresiasi seni lokal yang sudah langka ini, dan berusaha memfasilitasi agar bisa dinikmati oleh semua kalayak baik orang Ponorogo maupun luar Ponorogo.

Pak Maryono, tetua orang kebudayaan di Ponorogo menyatakan ini adalah pagelaran macapat kali ke-3 dalam memperingati hari jadi Ponorogo, bersama para penggemar macapat menginventarisasi dari kecamatan satu ke kecamatan lainnya sehingga bisa terbentuk wadah macapat ini di setingkat kabupaten, sehingga pengelolaan dan pembinaanya bisa lebih serius dipantau.

 ”Ada banyak ajaran dari tembang yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tentang perilaku kita di masyarakat,” imbuhnya.

Sumber : PariwisataPonorogo.com

calon Bupati dan Wakil Ponorogo Pemilukada 2015

calon Bupati dan Wakil Ponorogo Pemilukada 2015
Sukseskan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Ponorogo 2015

Informasi dari KPU Kabupaten PONOROGO Provinsi JAWA TIMUR, Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang sudah mendaftar hari ini Senin, 27 Juli 2015 : 

1.
Cabup : Prof. Dr. Misranto, SH. M.Hum 
(laki-laki, pekerjaan : PNS, alamat Kab. Pasuruan)

Cawabup : Isnen Supriyono, S.Pd. MM. Pd. 
(laki-laki, pekerjaan : pensiunan PNS, alamat Kab. Ponorogo).

Calon perseorangan/independen

2.
Cabup : H. Sugiri Sancoko 
(Laki-laki, pekerjaan : Anggota DPRD provinsi Jatim, alamat : Kab Sidoarjo).

Cawabup : H. Sukirno, SH. 
(Laki-laki pekerjaan : Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, alamat :  Kab. Ponorogo).

Partai pengusung :
Golkar, 10 kursi, Demokrat 6 kursi, PKS 2 kursi, Hanura 1 kursi. 
Total 19 kursi. 

3.
Cabup : H. Ipong Muchlissoni. 
(Laki-laki, pekerjaan : Wiraswasta, alamat : kota Samarinda)

Cawabup : Drs. H. Soedjarno, MM. 
(Laki-laki, pekerjaan : Pensiunan PNS, alamat : Kab. Ponorogo).

Partai pengusung : Gerindra 6 kursi, PAN 6 kursi, Nasdem 1 kursi. 
Total 13 kursi. 

4.
Cabup : H. Amin, SH. 
(Laki-laki, pekerjaan : Bupati Ponorogo, alamat : Kab. Ponorogo).

Cawabup : Agus Widodo, SE. M.Si. 
(Laki-laki, pekerjaan : Anggota DPRD Kab. Ponorogo). 
Partai pengusung : PKB 7 kursi, PDIP 5 kursi. 
Total 12 kursi.

Kupatan - tradisi lebaran ketupat Ponorogo

Kupatan - tradisi lebaran ketupat Ponorogo
pojokpitu.com, Meski semakin menghilang karena tergerus budaya asing, tradisi lebaran ketupat ternyata masih bisa dijumpai disejumlah daerah. Salah satunya di Ponorogo. Tradisi lebaran ketupat yang dirayakan setiap lebaran hari ketujuh ini masih dijunjung tinggi warga desa. Selain membuat ketupat berbagai jenis, warga juga mengarak ketupat keliling desa diiringi tabuhan rebana dan dimakan bersama-sama.

Tradisi ini dilakukan puluhan warga dan pemuda Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, Ponorogo, Jumat (24/7/2015). Mereka mengarak ketupat keliling desa dan diiringi iringan musik sholawat yang dilengkapi dengan irama musik lebaran.

Tradisi yang dinamai lebaran ketupat ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari leluhur yang diadakan setiap 7 hari pasca lebaran. Tradisi lebaran ketupat ini biasanya juga menjadi pertanda serta wujud syukur karena berakhirnya bulan suci Ramadhan.

"Usai diarak keliling desa dan diberikan doa, ketupat lalu disantap beramai-ramai oleh warga desa lengkap bersama opor ayam dan parutan kacang," jelas Anwar, sesepuh desa.

Ia mengaku selalu mengadakan ritual lebaran ketupat setiap hari ke 7 lebaran karena ingin tetap melestarikan budaya leluhur yang kian hari kian ditinggalkan. "Padahal makna dari ketupat ini sangatlah tinggi, salah satunya mengikat tali silaturahmi antar umat beragama," ujarnya.(ern)

Kupatan - tradisi lebaran ketupat Ponorogo: https://youtu.be/FjGKsKAjcbo

Gubernur DKI Ahok Desak Presiden Daftar Reyog Ponorogo ke UNESCO

Gubernur DKI Ahok Desak Presiden Daftar Reyog Ponorogo ke UNESCO
WARTA KOTA, BALAIKOTA - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengapresiasi grup Reyog Ponorogo di Jakarta, yang kerap meraih juara di tingkat nasional maupun internasional. Ahok pun berencana, menggelar Festival Reyog Ponorogo, dengan Piala Gubernur.
Bahkan, ia berharap, agar Reyog Ponorogo tersebut, bisa didaftarkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan dunia.
"Selama ini komunitas reog yang ada di Jakarta paguyuban udah membawa nama harum Pemda DKI. Kalau Juara kan DKI, terus kita juga ingin kerjasama dengan Taman Mini (TMII) supaya ini dijadikan acara tahunan yang lebih meriah, ada piala Gubernur gitu kan," kata Ahok, seusai menerima Pengurus Komunitas Reyog Ponorogo Periode 2015-2020, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,  Balai Kota, Rabu (22/7/2015). 
Bahkan, lanjut Ahok, ia berharap, agar kesenian asal Jawa Timur itu, nantinya bisa didaftarkan ke UNESCO, sebagai warisan dunia.
Pasalnya, kesenian itu, pernah diklaim oleh Malaysia, sebagai kesenian dari negaranya.
"Kita juga berharap bisa mendaftarkan ke UNESCO, ini merupakan sebuah seni. Jakarta mau daftarkan, bila perlu kita bikin sebuah festival dunia reyog di Jakarta. Dulu kan udah ada silat, kita udah ada makanan rendang, kita harap reyog ini juga mendunia," katanya.
Namun, ia juga berharap, agar nantinya setiap setiap klub, komunitas, atau paguyuban reyog ponorogo juga memiliki akte.
Pasalnya, saat ini keberadaan para pecinta kesenian itu di Jakarta sendiri cukup banyak.
"Jadi kan dulu sempet ribut mau diambil Malaysia segala macam pada demo, bahwa reyog ini khas. Reyog Ponorogo udah terkena lah, di setiap festival pasti ada. Dan di Jakarta banyak sekali klubnya. Dulu kan paguyuban, ini dibuat komunitas ada akte, berbadan hukum, pengurusnya jelas, kita harap yang lain juga akan ikut atau mau bentuk lagi yang baru silahkan. Tapi kita berharap semua tentu berakte, jadi jelas seperti ini," jelasnya.
Dukung
Sementara itu, Anggota Dewan Pembina Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), Firmansyah, mengatakan, bahwa pihaknya mendukung rencana Ahok untuk mendaftarkan Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
"Karena yang perlu diingat adalah, bahwa Reyog Ponorogo merupakan salah satu warisan seni budaya kebanggaan Indonesia yang unik dan memiliki nilai jual pariwisata tinggi. Jadi perlu dukungan berbagai pihak," kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda (Kadisorda) DKI Jakarta, dalam acara tersebut.
Berbadan Hukum
Sedangkan, Ketua Badan Dewan Pembina Reog Ponorogo Singo Suryo Budoyo, Suryo Mulyono, mengatakan, bahwa pihaknya, melakukan pertemuan dengan Ahok untuk melaporkan, KRP telah memiliki badan hukum.
"Kami melaporkan kepada Pak Gubernur, bahwa saat ini, kommunitas kami, KRP telah berbadan hukum. Beliau menyambut baik. Bahkan, beliau  bersedia menjadi penasehat Komunitas Reyog Ponorogo ini," katanya.
Menurut Suryo, saat ini di dalam anggota KRP, terdapat 85 grup Reyog Ponorogo.
Masing-masing grup, terdapat 60 hingga 70 orang.
"Sejak tahun 1980, Komunitas Reyog Ponorogo telah menggelar berbagai macam pertunjukan ke Filipina, Rusia dan negara lainnya," katanya.

Wisata Alam Ponorogo, Air Terjun Coban Lawe

Wisata Alam Ponorogo, Air Terjun Coban Lawe
Coban Lawe Ponorogo, (foto by : wisataponorogo.com)
Ponorogo begitu banyak menyimpan potensi alam yang belum di ekspose, khususnya di daerah timur arah kota kecamatan Pulung, Kecamatan Pudak dan Kecamatan Sooko.

Coban Lawe, potensi alam tersebut masih asri dan "perawan", walau rute menuju lokasi masih jalan makadam dan jalan setapak, tidak menjadi masalah. Akan terbayar dengan keindahan dan segarnya air yg mengalir sangat deras walaupun musim panas.

Mencuri RAM di Warnet, Siswa SMA Diamankan POLSEK Ponorogo

Mencuri RAM di Warnet, Siswa SMA Diamankan POLSEK Ponorogo
Pelaku di amankan polisi usai kepergok (foto by: kanalponorogo)
Siswa berinisial RWA (17) warga Jln Cipto Mangunkusumo, Keniten, Ponorogo, diamankan polisi lantaran tertangkap tangan tengah melakukan pencurian perangkat computer di Warnet Semeru, Selasa(30/06).

“Petugas mengamankan pelaku pencurian di sebuah warnet yang berada di Jalan Semeru, dengan berpura-pura bermain di warnet, pelaku yang sudah membawa peralatan berupa obeng melakukan aksinya untuk melepas ram computer warnet, namun aksinya diketahui oleh penjaga warnet dan dilaporkan,”ucap AKP Yanto, Kapolsek Kota Ponorogo.

Tertangkapnya pelaku yang masih duduk dibangku kelas 11 sekolah lanjutan atas ini, berawal saat dia melakukan aksinya di warnet Semeru. Saat itu pelaku yang selalu menggunakan obeng untuk melancarkan aksinya terpergok petugas warnet. Mengetahui warnetnya menjadi sasaran pencurian, penjaga warnet langsung melaporkan ke polisi.

Mendapati laporan dari warga, petugas dari Polsek kota langsung menuju TKP dan mendapati pelaku masih berada di TKP beserta barang buktinya. Pelaku yang masih dibawah umur inipun langsung digelandang ke Polsek kota untuk dilakukan pemeriksaan.

Saat diperiksa pengakuan pelaku berbelit-belit, awalnya dia telah melakukan pencurian 24 buah ram computer warnet, namun setelahny pengakuanya berubah lagi yang katanya hanya delapan, ketika pemeriksaan pelaku juga sempat mengaku telah mengambil helm milik tetangganya.

Pelaku juga mengaku bahwa hasil kejahatanya dia pergunakan untuk kebutuhan sekolah dan mengembalikan uang yang dia pinjam dari teman-temanya.

“Uangnya saya pakai untuk keperluan sekolah, karena bapak saya tidak bekerja dan sebagian lagi saya pergunakan untuk mengembalikan hutang saya ke teman-teman,”ucap RWA saat di rung reskrim Polsek kota.

Untuk pelaku yang masih dibawah umur, polisi tidak akan melakukan penahanan, namun proses hukum tetap berlangsung.



Disadur dari : KanalPonorogo

Modus Pembobolan ATM Terungkap

Modus Pembobolan ATM Terungkap
Pelaku saat digelandang ke Mapolsek Jetis, (foto by: kanalponorogo)
Inilah modus yang ZA gunakan untuk membobol kartu ATM milik Pak Samuri, ustadz di Madratsah Tsanawiyah (Mts) Ronggowarsito.

“Awalnya saya nemu kunci motor, dan saya tahu kalau itu kunci motornya Pak Samuri, Ya kemudian kunci itu saya gunakan untuk membuka jok motor dan saya lihat ada dompetnya,” ucap pelaku saat diinterogasi petugas Polsek Jetis.

ZA hanya membuka jok dan tidak mengambil apapun dari dalamnya,sekalipun dilihatnya ada dompet dibawah jok motor milik korban. Lantas pelaku menutupnya lagi namun jok dibiarkan tanpa dikunci. Selanjutnya kunci motor yang sebelumnya ia pegang, ia masukkan kedalam kantong celana korban yang saat itu masih mandi.

Barulah saat korban menjalankan sholat Dzuhur, pelaku kembali mendatangi motor korban yang kondisi joknya tidak terkunci. Kali ini pelaku membuka-buka dompet milik korban yang tersimpan dibawah jok dan mengambil ATM yang ada dalam dompet. Disaat membuka dompet itulah, pelaku melihat ada beberapa deretan angka yang oleh pelaku diperkirakan sebagai nomer PIN ATM BRI yang ia ambil.

Sembari mengingat-ingat angka tersebut, pria yang saat ini dalam proses cerai dengan istrinya warga Jalan Kumbokarno Ponorogo ini, membawa kartu ATM BRI tersebut ke ATM BRI unit Siman, dicobanya dan ternyata bisa. Pertama dia ambil uang tunai Rp 100 ribu kemudian diulangnya menarik uang tunai lagi senilai Rp 100 ribu.

Merasa, kartu ATM yang ia curi itu bisa digunakan untuk menarik uang di mesin ATM, tersangka kemudian menuju ATM BRI yang ada didepan Pasar Songgolangit Ponorogo dan kembali dirinya melakukan penarikan uang tunai sejumlah Rp 1.250.000,-.

Pelaku semakin gelap mata saat melihat isi tabungan masih banyak dan kembali melakukan penarikan uang, di ATM BRI Mlilir sebesar Rp 3.500.000. Sehingga total uang yang berhasil diambil pelaku sebesar Rp 4.950.000. “Sudah saya gunakan Rp 950 ribu,” aku ZA, pada petugas.

Korban yang merupakan ustadz di Madratsah Tsanawiyah (Mts) Ronggowarsito yang berlokasi dikomplek masjid Tegalsari tersebut melaporkan kehilangan kartu ATM miliknya ke Bank, sembari meminta print out tabunganya. Korban terkejut saldo tabungan miliknya berkurang Rp 4,5 juta. Bersama dengan petugas Polsek Jetis, kemudian oleh petugas bank diperlihatkan rekaman CCTV sesuai data penarikan dari print out tabunganya tersebut.

Dari rekaman CCTV itulah korban mengenali pelaku yang sebenarnya juga tinggal di pondok Tegalsari mulai Januari tahun ini.

Bersama petugas Polsek Jetis, korban yang mengenali wajah pelaku, menghadang pelaku di masjid Tegalsari. Pelaku berhasil ditangkap saat ashar setelah dari pagi petugas melakukan penyanggongan. Tersangka dicokok usai mengantar teman ceweknya yang kerja di PCC.


Sumber : KanalPonorogo