Rusmin Ingin Anak Sulungnya Jadi Anggota TNI AU

[ Selasa, 26 Mei 2009 ]
Serpihan Asa Warga Geplak, Magetan, yang Menjadi Korban Jatuhnya Pesawat Hercules
Musibah datangnya bisa kapan saja. Termasuk jatuhnya pesawat Hercules di areal persawahan Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan. Apa harapan warga setempat paska-rampungnya proses evakuasi?

M. ARIF WIDIYANTO, Magetan

---

JALAN Desa Geplak dalam enam hari belakangan banyak dikunjungan orang. Ada yang yang mengendarai kendaraan roda empat atau sepeda motor. Lalu lalang masyarakat itu bertujuan menyaksikan reruntuhan pesawat Hercules nahas yang jatuh di areal persawahan desa setempat.

Memang sejak hari Rabu, 20 Mei 2009, suasana desa tersebut sangat ramai. Selain melihat, ada yang memanfaatkan momen jatuhnya pesawat guna menangguk untung. Ada yang jualan minuman, jajanan atau membuka lahan parkir.

Namun, sejak sore kemarin, suasana desa setempat, khususnya di kawasan lokasi jatuhnya pesawat, kondisinya berangsung normal. Tak ada lagi orang jualan atau yang membuka jasa parkir kendaraan.

Rampunya proses evakuasi yang ditandai pembacaan surat Yasin dan kalimat tahlil itu membuat suasana Desa Geplak kembali normal. Warga sekitar kembali ke sawah dan sore itu banyak yang duduk-duduk di teras rumah. Yang tersisa hanya rekam jejak keramaian serta bau anyir dari lokasi jatuhnya pesawat Hercules.

Di depan sebuah rumah yang atapnya rusak lantaran terserempet pesawat nahas, seorang bocah kecil asyik bermain. Beberapa orang warga yang datang melihat lokasi jatuhnya pesawat tidak tahu kalau bocah delapan tahun itu sekarang menjadi piatu. Ibunya, Sumiati tewas menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules, Rabu lalu.

Sesekali, Aris berlari-lari ditemani seorang sahabatnya. Ia lantas duduk dan mengambil buku yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Buku tersebut lantas dibuka-bukanya. Ia mungkin kangen, karena selama enam hari semenjak peristiwa kecelakaan tersebut, Aris tidak masuk sekolah.

''Bukunya pada rusak. Baju seragamnya hilang. Yang ada hanya baju batik,'' kata Aris saat ditanya koran ini sore itu. Entah lantaran trauma atau masih ngambek, putra kedua dari pasangan Rusmin dan almarhumah Sumiati, belum masuk sekolah di SD Geplak I, Kecamatan Karas.

Ayah Aris, Rusmin sore itu kelihatan khidmat mengikuti jalannya pembacaan surat Yasin dan kalimat tahlil. Bersama tetangga kanan kirinya, malam ini bersamaan dengan peringatan tujuh hari meninggalnya sang istri Sumiati dan almarhum Arif, putra Sulasmin, yang juga menjadi korban pesawat Hercules nahas.

Sebelumnya, Rusmin sempat menyampaikan satu keinginan kepada Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedra. Saat itu, pria 45 tahun itu berharap anak sulungnya kelak jika sudah dewasa bisa diterima sebagai anggota TNI AU. ''Pak, saya ingin anak saya nanti jadi tentara (TNI AU) atau polisi,'' harap Rusmin.

Danlanud yang disambati tidak mengiyakan atau menolak permohonan Rusmin. Namun, dia hanya titip pesan agar Deni Purwanto, putra sulung Rusmin menjaga kesehatan dan tetap semangat meneruskan sekolah, minimal hingga lulus SMA.

Rusmin sendiri, kepada koran ini sempat mengatakan bahwa pihaknya amat berharap bantuan dari TNI AU dan pemkab. Terutama untuk membangun rumah kembali di sebelah barat lapangan Geplak. ''Rencananya pindah mas. Kalau tetap di sini, saya trauma dna terus ingat istri,'' aku dia.

Kepala Desa Geplak, Subangi mengatakan, pihaknya tidak mengira desanya menerima bencana ini. ''Kami hanya berharap perhatian dari TNI AU dan pemerintah terhadap keluarga kami yang tertimpa bencana akibat jatuhnya pesawat Hercules,'' kata Subangi.

Pak lurah, demikian Subangi akrab disapa, tak pernah membayangkan kalau desanya akan kedatangan banyak petinggi. Baik pejabat sipil maupun militer. ''Walaupun ini musibah, tapi rasanya bangga karena banyak pejabat yang ke Geplak. Mudah-mudahan, setelah pembacaab surat Yasin dan kalimat tahlil, arwah korban pesawat diterima di sisi Allah SWT,'' ungkap dia. *****

Comments