Sampah, Jadi Problem Serius di Ponorogo

[ Sabtu, 02 Mei 2009 ]

Meningkat Dua Kali Lipat dalam Tiga tahun




PONOROGO - Sampah masih menjadi problem serius di Ponorogo hingga kurun waktu lima tahun ke depan. Volume yang terus meningkat menjadi faktor utama perlunya prioritas penanganan. Padahal masalah tersebut terus menghantui seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan pembangunan fisik tata ruang kota.

Hasil survei Dinas Kimpraswil setempat, volume sampah mencapai 380,54 meter kubik per hari. Jumlah itu disinyalir akan terus meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun mendatang. Sebab semakin meningkatnya tingkat kepadatan penduduk dan pemukiman. Kondisi itu kini dicarikan solusi terbaik untuk menuntaskan dampak yang ditimbulkan.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Khasan Turmudi mengatakan, limbah dari pemukiman penduduk sebagai penyumbang terbesar. Besarannya menembus 74,80 persen dari jumlah total sampah di Kota Reyog. Atau sekitar 284,64 meter kubik per hari. ''Sisanya berasal dari sampah pasar, pertokoan, kantor, terminal, hotel dan, industri,'' terangnya.

Sudah banyak cara yang ditempuh pemkab sebagai antisipasi. Hanya, hingga sekarang belum menuai hasil memuaskan. Mengingat, masih sering terlihat menumpuknya sampah di jalan-jalan protokol. Bahkan, dengan pemasangan kotak sampah organik dan anorganik sejak dua bulan lalu kurang mendapat respon masyarakat. ''Memang harus ada sosialisasi ke masyarakat, jadi tidak hanya sekadar memberi fasilitas semata. Dengan demikian tidak percuma adanya kotak sampah di fasilitas umum,'' paparnya.

Untuk lebih efektif, pemkab juga bakal memberlakukan UU Nomor 28 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Aturan itu akan mengikat seluruh warga yang bermukim di Kota Reyog. Dengan demikian mampu merubah kesadaran masyarakat akan masalah sampah. ''Setahun ini masih tahap sosialisasi, setalah itu diberlakukan sesuai dengan peraturan yang tertera,'' tuturnya.

Hal senada juga ditambahkan Sulis Rianto, Kasubag Tata Usaha, bahwa untuk menekan pasokan sampah, sudah dioperasikan dua unit pengolahan sampah. Yakni di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di bekas stasiun dan TPA Mrican di Kecamatan Jenangan. ''Ya diharapkan bisa menekan seefektif mungkin,'' katanya.

Kapasitas kedua unit mesin pengolah sampah itu masing-masing mencapai lima meter kubik (satu truk) per jam untuk jenis sampah basah. Sedangkan untuk jenis plastik mampu mengolah 40 kilogram per jam. ''Hasilnya yang anorganik berupa kompos digunakan dalam pemupukan taman kota,'' pungkasnya.(dip/sad)

Sumber : Jawapos

Comments