INDONESIA FESTIVAL 2010 at Los Angeles

“ Edo..you are doing great…kamu jalan seperti biasa aja..its oke kok“ Sahut Marisa memberi semangat pada salah seorang peragawan. Bukan apa, si Edo satu-satunya yang paling amatir diantara 6 orang model yang  akan memperagakan batik Allure, yang dibawa oleh team dari Jakarta. Batik ini di gelari orang sebagai  batik Presiden, karena dalam beberapa kesempatan terlihat keluarga presiden SBY mengenakan batik ini. Mungkin juga karena Annisa Pohan yang merupakan mantu dari bapak SBY, adalah ambassador dari batik Allure ini. Ciri khas dari batik ini, banyak menampilkan warna-warna cerah seperti merah, ungu dan peralihan warna yang blending satu sama lain.


Indonesia festival 2010 yang diadakan di Los Angeles tgl 31 July 2010 ini memang dimeriahkan oleh rombongan dari Jakarta. Tidak tanggung-tanggung hampir 24 orang. Tadinya dalam rapat awal saya sempat pesimis, “Palingan juga ndak dapat visa..apalagi rombongan besar gitu…” sahut saya..Mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Tapi ternyata dengan lobby kuat dari pak Konjend kita kepada gubernur Jakarta yang merupakan teman baiknya, rombongan ini berhasil datang juga. “Aduh pak Butce..kita sebenarnya capek dan mendadak tapi karena  diperintah oleh pak gubernur yach kita berangkat…” sahut bu Yuni yang merupakan kepala bidang Pariwisata  Jakarta. Saya hanya mesem-mesem..maklum semua biaya sampai kesini ditanggung oleh mereka sendiri , luar biasa..

Disamping koleksi pakaian batik allure. Mereka juga membawa duta kesenian mereka 5 pemain music dan 5 penari jelita yang membawakan 5 macam tarian . Dan tentunya duta Jakarta yaitu Abang dan None Jakarta.  Walaupun yang datang bukan juara 1 nya tapi wakil satu yaitu Dani dan Garniasih. Karena abang none Jakarta juara 1, sibuk dalam acara pemilihan none Jakarta 2010.  Pikir-pikir untung juga jadi juara 2, malah bisa jalan-jalan keluar negeri. Yang menarik bagi saya selain ronggeng Jakarta adalah tari topeng. Topeng yang berbentuk kecil dengan wajah seorang wanita centil diperkuat dengan gerakan-gerakan lincah menggoda.Dan kesemuanya itu di iringi dengan live musik .

Seperti tahun tahun sebelumnya, tahun ini kita membuat 2 panggung . Panggung luar yang berada di jalan mariposa yang ditutup. Yang saya percayakan pada permias dengan Indra sebagai ketuanya. “Olin dan Indra sebagai senior tolong backup mereka ya “ permintaan saya pada mereka. Dan panggung dalam yang dipimpin oleh pak Heru,Mia, Anne dan Jefri.

Seperti biasa acara dibuka dengan reog Ponorogo di jalan Mariposa.Karena baru jam 10 pagi,  masih tidak terlalu banyak pengunjung untungnya Michael sebagai MC cukup bisa improvisasi ,dengan menceritakan sedikit sejarah Reog Ponorogo, lengkap dengan legenda macannya dia mecoba menghidupkan suasana. “ Butce , CD pencak silatnya ndak jalan..”bisik kordinator panggung. Untungnya Ciptoniong segera tanggap, “No problem kita pakai live music dan live gendang..” Dan jadilah pencak silatnya. Begitu pula acara lainnya, ada yang belum siap, ada yang belum datang, Ada yang minta diganti.. Untung saya mendapat ide, sehingga saya menarik satu persatu peserta pameran untuk diwawancarai di panggung begitu ada acara kosong.

Mulai dari booth wayang Bali, yang menampilkan wayang modern seperti wayang kulit pangeran kodok ( cerita princess and the frog). Juga  abang dan none Jakarta yang diberi kesempatan untuk menceritakan tentang diri mereka dan misi yang diembangkan  sebagai none dan abang Jakarta.  Pameran keris tidak ketinggalan menceritakan bagaimana sakralnya pembuatan keris tersebut dan kenapa keris dibuat berlekuk-lekuk karena dibuat menyerupai naga.  Yogi sebagai wakil world harvest menceritakan tentang peran mereka dalam membantu anak-anak di Indonesia dengan child sponsor supaya mereka bisa sekolah.Dan peran mereka ketika terjadi bencana-bencana besar di Indonesia seperti tsunami dan gempa padang.

Tahun ini pak Edi Suharto selaku konsul Ekonomi menjadi ketua panitia dari perayaan 17 Agustus 2010. Dimana salah satu kegiatannya selain, upacara bendera, resepsi diplomatik dan pertandingan olahraga, adalah Indonesia Festival. Tidak heran seluruh keluarganya terlibat dalam mengisi acara difestival ini. Putra putrinya memperagakan pencak silat dan jaipongan yang dilatih oleh ibu mereka sendiri. Adapun istrinya ibu Ria Suharto mempersembahkan lagu sunda “Es Lilin “ yang dibawakan dengan sangat bagus.

Tepat jam 4 pm, diadakan iring-iringan tamu VIP dari tempat penantian di belakang kearah tempat duduk kehormatan didepan panggung. Iring-iringan itu dibuka dengan tari cakalele yang dipersembahkan oleh masyarakat Minahasa. Disusul dengan abang dan none Jakarta yang menjadi ikon kita tahun ini. Dan pasukan penari Melayu yang sedikit membingungkan saya karena muka mereka tidak seperti orang indo.Saya sempat mengira mereka rombongan dari Malaysia.Kemudian diikuti dengan rombongan VIP yang merupakan rekanan pak Konjend, termasuk konsul-konsul beberapa negara sahabat.

Memang tahun ini untuk pertama kalinya festival kita mengundang beberapa negara sahabat untuk mengisi acara. Yang ditanggapi  engan serius oleh mereka terutama oleh kedutaan Malaysia.”Butce ..saya minta 20 menit ya..karena kita mau menari 4 lagu..” sahut Elly pimpinan rombongan Malaysia. Thailand juga tidak ketinggalan mempersembahkan 2 tarian, begitupula dengan Philipine. “Please arrange so we can dance before 4 pm because we have another program in  santa Clarita at 6 pm “ pinta pimpinan rombongan Philipine. Agak sulit juga karena kita mau atur supaya pertunjukan mereka bisa dilihat oleh konsul mereka. Namun kita mencoba sebisa mungkin supaya keinginan mereka dipenuhi dan mereka merasa diwelcome di acara kita.

Panggung utama yang berada di dalam parkiran di pimpin lansung oleh pak Heru Noer .Karena dipanggung ini banyak dilakukan pertunjukkan band dan kebetulan pak Heru mengenal betul setiap pemain band sehingga dia yang kita serahkan wewenang untuk mengatur band. Ternyata acara dipanggung utama molor 30 menit dari jadwal, padahal acara harus diakhiri sekitar jam 10.30 pm ,karena tetangga kita (rumah jompo diseberang konsulat akan complain ke polisi ).

Padahal tamu-tamu kita seperti group choir dari UNAI, group DKI Jakarta dan Heidi Yunus belum tampil. Terpaksa diambil kebijaksanaan bahwa home band yang seharusnya mengiringi  9 lagu di potong. “Mereka akan mengerti pak Butce, home band adalah band tuan rumah yang jaga-jaga kalau ada acara kosong mereka akan isi,kalau acara penuh mereka mengerti bahwa mereka akan dipotong” Jelas pak Heru pada saya.Namun tak urung saya dimarah-marahin juga oleh mereka. “Yach  sudahlah..kita terima saja..”

UNAI choir, anggota koor para mahasiswa dari Sekolah Advent Bandung ini seperti saya perkirakan tampil memukau penonton. Gerakan tari lagu mereka sangat lucu ketika membawakan lagu anak-anak “Kotek..kotek..kotek anak ayam ku tinggallah 2..” Dengan gerakan mengibas-ngibas kayak ayam bahkan sampai menangis karena anak ayamnya dimakan musang..mereka tampil memukau.  Festival musik ini dituttup dengan acara dangdut dengan mengajak seluruh masyarakat untu, ikut bergoyang.

This post was submitted by Butce.

Comments