Kacamata nait en de

Nostalgia Ponorogo

Ilustrasi /galeryantik.blogspot.com
Pada suatu waktu di pertengahan era 60-an para pemuda Ponorogo nampak ganteng-ganteng. Mereka memakai kacamata cantik, elegan, dan serba guna. Siang malam bisa dipakai dengan nyaman sehingga namanya “Kacamata Night and Day”.

Bentuk tesmak ini memang bagus. Bingkainya persegi hitam. Ada dua hal yang istimewa di pelindung mata itu, pertama setengah dari kedua gagangnya terbuat dari logam tipis keemasan. Kedua, kacanya berwarna biru langit ringan, sejuk di mata. Pada siang hari dapat menyerap silau dan panas surya, pada malam hari dapat menerangkan gelap. Siapa yang memakai kacamata ini, nampak gagah, pokoknya gantenglah.

Pada saat itu, sangat sedikit variasi model kacamata. Yang paling banyak tentu saja tesmak, kacamata baca orang tua yang umumnya bingkainya tebal-tebal. Lantas ada lagi “kacamata gemblak”. Sebetulnya model ini cukup bagus juga, tapi karena waktu itu yang memakai umumnya para gemblak, jadi pemuda-pemuda kita “giris” memakainya.

Bentuk kacanya bulat, berwarna gelap, bahan bingkainya dari cangkang penyu. Belakangan dibuat dari bahan plastik yang waktu itu kami sebut “atom”, sejenis bakelite. Tangkainya agak lebar, tapi kemudian menipis di dekat telinganya. Pendeknya antik dan mengesankan seram seperti yang dipakai pembantunya Dracula dalam film karya Francis Ford Copolla itu.

Makanya sekali ada yang pakai kacamata istimewa macam si night and day ini, maka kota reog kita geger kalang kabut. Tentu saja yang pakai pertama adalah pemuda-pemuda anak juragan batik, pengusaha pertenunan yang masih maju waktu itu, pedagang antarkota dan sebagainya.

Duh, ganteng betul. Pagi, siang, sore sampai malam mereka berkendara skuter Kongo keliling kota pakai kacamata night and day. Tentu saja lama-lama pemuda lainnya kepingin pakai kacamata indah ini. Maka dalam tempo kurang dari enam bulan, hidung pemuda-pemuda kota reog ditongkrongi si night and day.

Lha, masalahnya kemudian para pemuda kebanyakan tentu kepingin pakai juga. Tapi problem utamanya adalah tak adanya uang terselip di dompet mereka. Akan tetapi nafsu untuk “bersaing” mejeng tentu enggak padam. Maka berkembanglah kreativitas yang menyedihkan.

Mereka beli kacamata biasa, murahan pun tak apa, lantas kedua gagangnya dibalut pakai grenjeng, atau kertas warna keemasan, bekas pembungkus rokok. Sudahlah itu cukup buat lelucon. Sembari naik sepeda rombeng, mereka mejeng ke sana kemari. Tak jelas berapa persen dari mereka ini yang betul-betul mendapatkan cewek lalu hyang-hyangan (istilah untuk pacaran waktu itu). Kalau memang ada, maka ceweknya tentu dari golongan nekad juga, tapi cukup “berseni”.

Pada tahun 80-an saya lihat kacamata night and day bekas dijual orang di pasar loak Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Kendati bekas, tapi ia barang asli. Ketika penjualnya menawarkan harga saya tersenyum. Ingat seorang teman nekad yang pakai kacamata nait en de grenjeng rokok dulu. Tolong mengaku siapa dia hahahaha.... (artikel ADJI SUBELA)

Comments