Nonton Sepak Bola di Alun-alun

Stadion Bathoro Katong/panoramio.com
Nostalgia Ponorogo
- Ponorogo pernah menyumbang seorang pemain timnas, Waskito

Persatuan Sepabola Seluruh Indonesia (PSSI) sedang dirundung masalah, penggemar olahraga sepakbola harap-harap cemas menanti hasil Kongres akhir Juni. Penggemar olahraga yang satu ini memang istimewa jumlah maupun semangatnya.

Tak ketinggalan, kota Ponorogo pun dilanda demam sepakbola bila menjelang dan selama event-event besar. Beruntung sekali orang jaman sekarang gampang menonton pertandingan di Eropa, Amerika Latin, dan lain-lain belahan bumi berkat jaringan televisi dan internet. Di awal tahun-tahun 60-an kami sudah cukup puas menonton pertandingan sepakbola antarklub di alun-alun Ponorogo.


Ketika itu Ponorogo belum memiliki stadion, jadi pertandingan diadakan di alun-alun di tengah kota baru. Kadang-kadang pertandingan itu gratis, terbuka, sehingga penontonnya pun membludak. Sesekali pertandingan tertutup dan penonton harus membayar untuk masuk ke alun-alun. 

Kami anak-anak tahu akan ada pertandingan “profesional” kalau di sekeliling alun-alun – biasanya di bagian baratnya – dikelilingi tumpukan bethek atau gedeg bambu tebal-tebal. Bethek itu nanti akan menjadi dinding penutup “stadion Wembley” Ponorogo, dipasang berkeliling rapat-rapat, dengan penguat tiang-tiang bambu ori yang terkenal tebal dan kuat.

Di sisi timur dibuat jalan masuk, dengan sejumlah loket karcis. Pada waktu itu karcis seharga serupiah sudah terlalu mahal untuk kami anak-anak. Maka cara yang paling memungkinkan adalah “nginjeng” atau mengintip lewat lubang-lubang bambu. Selalu ada cara untuk membikin lubang itu lebar setiap hari selama pertandingan.
Dalam pada itu, kami menjadi “musuh” OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat) atau Hansip di jaman sekarang. Mereka rajin mengusir para pengintip ini dengan memukul-mukul bethek memakai kenut (tongkat karet). Supaya aman dari operasi OPR sebagian dari kami naik pohon trengguli yang berbunga majemuk warna kuning, atau pohon bungur yang bunganya berwarna ungu cerah, yang ditanam di sekeliling alun-alun. Dulu di sekeliling alun-alun ditanami pohon kenari, tapi kemudian ditebang pada akhir era 50-an karena sudah tua. Maka selama pertandingan pada sore hari, pohon-pohon itu berbuah manusia.

Skornya hebat-hebat
Boleh dikatakan pada masa itu hampir setiap desa di Ponorogo memiliki klub sepakbola. Ada yang bagus ada yang tidak, dan bintang klub itu sering berganti-ganti, sesuai prestasi mereka. Sekali waktu Mangkujayan menjadi top, karena klubnya menang, lain kali Surodikraman, dan lain-lainnya. Dinamikanya cukup tinggi.
Pertandingan tertutup kalau itu menyangkut klub-klub terkenal dari daerah-daerah atau dari luar kota. Dulu klub yang menonjol dan sering menjuarai turnamen adalah dari pesantren Gontor. Para santri dari luar daerah sering menjadi bintang lapangan.

Tentu saja banyak kejadian lucu di pertandingan itu. Kalau soal main curang, itu sudah biasa. Ada saja akal supaya klubnya menang, halal atau haram. Fair play benar-benar dikesampingkan. Menyodok, memukul dari belakang, memegangi celana lawan sampai kedodoran, menjadi tontonan tambahan yang membikin ketawa. Ya namanya jaman dahulu di Ponorogo, maka ada juga yang main magic. Ada pemain yang dijuluki Gareng katanya kakinya disusuk pakai linggis, sehingga membikin lawannya kelojotan bila adu kaki dengannya. Benar tidaknya tak jelas.

Jangan kaget skor yang dihasilkan dari klub-klub “ndeso” ini mencengangkan. Ada yang 0-0 tapi sering pula terjadi 8 – 10, bahkan ada yang 11 – 14. Entahlah ini skor hasil kesebelasan yang trampil-trampil, pandai, atau malah sebaliknya sehingga gawang malah gampang kebobolan.
Alun-alun Ponorogo

Selain tegang dan bergembira, penonton sering pulang dengan ketawa sampai air matanya berlinang-linang karena kelucuan di lapangan. Pernah pada suatu waktu, Persatuan Sepak Bola Ponorogo (Persepon) bertanding di kandang melawan kesebelasan dari kabupaten lain di Jatim. Nampaknya pemain tamu sering kerepotan mengambil alih bola dari kaki pemain Persepon. Sangking jengkelnya seorang supporter mereka masuk lapangan mengejar pemain Persepon sambil mengancam pakai pisau. Tentu saja ini adegan seru yang membikin penonton dan pemain tuan rumah malah terpingkal-pingkal. Kalau wasitnya curang, dulu disebut “engko”, dia pun dikejar-kejar pemain atau penontonnya.

Waskito
Kendati keadaannya seperti itu, Ponorogo patut bangga sebab pernah menyumbang seorang pemain tim nasional bernama Waskito, di awal era 70-an. Pemuda ini agak pendek tapi berbadan kekar dan sangat pandai berolahraga. Pada jaman itu, pertandingan antarsekolah berupa kasti, mirip softball sekarang ini. Waskito yang duduk di bangku Sekolah Rakyat (sekarang SD) Diponegoro menjadi momok. Tak ada lawan yang tak bisa ia kejar ke mana pun. Larinya sangat cepat dan gesitnya minta ampun.
Dalam salah satu pertandingan Waskito menarik perhatian salah seorang pengurus PSSI, sehingga ia ditarik ke timnas. Prestasinya lumayan bagus dan di lapangan ia sering mendapat julukan si Botak. Dia sering bermain di sayap karena larinya seperti setan itu tadi. Adiknya, Wisnu, juga pemain bola andal, tapi tidak mengikuti jejak abangnya.

“Bola besi”
Berbahagialah pemain sepakbola jaman sekarang, sebab selain sepatunya sudah enteng, kuat dan bagus, bolanya pun sudah ringan dan tinggi daya lentingnya. Di tahun 60-an bola dibuat dari kulit sapi, tebal dan beratnya minta ampun. Tidak ayal kalau leher kurang kuat dan tengkorak kepala kurang tebal, sekali menanduk bola ini langsung matanya berkunang-kunang, dan risikony lainnya leher keseleo. Sepatunya pun berkualitas serdadu. Terbuat dari kulit, tebal, dan di sol bagian bawah dipasang paku jamur seperti sepatu milik tentara jaman dahulu. Kalau kita menonton di pinggir lapangan dan pemain kurang kendali, jika terinjak sepatu ini kaki kita bisa langsung bengkak dan sakitnya minta ampun.
Melihat setumpuk kesengsaraan seperti itu, sepatutnya prestasi sepak bola kita bertambah baik. Bayangkan kalau harus pakai bola dan sepatu macam itu. Bengkaklah kaki. (artikel Adji Subela)

Comments