Warga Wirun Mojolaban Lestarikan Reyog Ponorogo

Dok. Timlo.net/ Sahid
Sukoharjo – Di tengah ketatnya persaingan pelaku hiburan seni dan budaya, apalagi dengan menjamurnya tontonan modern, segelintir warga di Sukoharjo masih eksis dan mempertahankan hiburan seni Reyog Ponorogo. Yah, segelintir warga tersebut, adalah warga Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.

Selain terampil membuat gong, mereka juga sangat terampil memainkan Reyog dengan gerakan yang mengagumkan. Mengagendakan latihan dalam seminggu sekali, menjadikan Reyog Ponorogo ini terkesan tidak ada matinya.

Sebut saja M Sahli, salah satu pemain Reyog Ponorogo asal Desa Wirun yang masih eksis di Kecamatan Mojolaban. Berawal dari kecintaannya pada alat musik gong, hingga menjadikan gong sebagai mata pencahariannya di Desa Wirun, membawa pria ini pada rasa cinta kepada Reyog Ponorogo.

Sudah 10 tahun, Sahli bersama 20 temannya memainkan Reyog Ponorogo. Walaupun tidak banyak tawaran job yang datang ke grup mereka, namun tidak menyurutkan niat Sahli untuk terus melestarikan Seni Reyog Ponorogo.

“Awalnya saya merajin gamelan. Kemudian lama-kelamaan tumbuh rasa cinta terhadap Reyog. Lalu saya berniat ingin melestarikan seni ini, karena sudah mendarah daging dalam hidup saya. Saat ini saja saya sudah punya 3 dadak merak,” ungkap M Sahli.

Biasanya tim Reyog Sahli ini menggelar latihan di tanah lapangan dekat Polsek Mojolaban. Walaupun hanya latihan, tetapi mereka konsisten tampil lengkap sebanyak 20 kru Reyog. Terdiri dari pemain musik yakni terompet pecut, kendang, angklung, bonang, kempul, kepyek dan gong, 3 penari Penthul serta 3 pembawa dadak merak.

Tidak lupa, dipojok lapangan dimana tempat permainan Reyog, pasti ada jajanan pasar sebagai sesajen. Diakui Sahli, seni Reyog Ponorogo tidak terlepas dari unsur magis. Namun yang terpenting adalah niatnya nguri-uri budaya asli Jawa.

“Untuk mempertahankan seni Reyog ini memang cukup sulit. Terutama masalah regenerasi. Beruntung, meskipun butuh waktu lama, kini putra kami dan beberapa pemuda di Wirun mulai jatuh cinta dengan seni Reyog Ponorogo,” pungkasnya.

Untuk menyewa pertunjukan komplit Reyog Ponorogo Grup Sahli, dihargai Rp 2,5 juta. Sedangkan jika untuk sewa per bagian, misal hanya dadak merak atau penarinya saja, harganya akan lebih murah.(timlo.net)

Comments