Reog Dulu dan Sekarang : di Balik Tirai Warok-Gemblak

Grup Reyog Pawargo Batam
Ponorogo - Siapa yang tak kenal Reog. Kesenian dari Ponorogo, Jawa Timur ini sudah dikenal hingga ke luar negeri. Pementasan Reog terdiri dari banyak pelaku dengan peran masing-masing. Di antaranya adalah warok dan gemblak. Warok adalah pemimpin grup Reog, sementara gemblak adalah penari Jathilan pada pertunjukan itu. Di masa lalu terjadi pola hubungan yang dinilai kontroversial antara warok dan gemblak. Dipercaya, untuk mempertahankan kesaktiannya, warok memelihara lelaki muda belia yang menjadi gemblak, untuk melayani kebutuhan warok. Tradisi ini dihancurkan oleh nilai agama, sehingga Reog dinilai kehilangan makna. Benarkah demikian? Kontributor KBR68H Maratul Khasanah menemui sejumlah bekas warok dan gemblak, menuliskan kisah mereka.

Warok Mencari Peliharaan

Ratusan orang memadati Alun-alun Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Mereka mendekati panggung utama. Di sini pertunjukan Reog sedang dimainkan. Ini adalah pertunjukan bulanan yang digelar khusus untuk menyambut datangnya bulan purnama.

Pagelaran Reyog Malam Bulan Purnama
Enam penari Warok, sepuluh gemblak sebagai penari Jathil, dua Punjangganong, dua Dadak Merak, serta satu Kelono Sewandono, sedang beraksi di atas panggung.

Salah satu pelaku dalam pertunjukan reog adalah penari warok. Kata warok saat ini sudah jauh berbeda maknanya. Saat ini warok tak lebih sebagai seorang penari. Dulu warok mengacu pada pemilik atau pemimpin grup seni reog, orang yang disegani dan memiliki kesaktian seperti kebal senjata tajam.


Sesepuh Warok Bikan Gondowiyono
Bikan Gondowiyono, 67 tahun, adalah salah satu sepuh warok di Desa Plunturan, Ponorogo.

“Kalau dulu, itu seorang warok bertanggung jawab keamanan di waktu pentas. Dulu di waktu pentas Reog tugasnya warok itu menjadi keamanan pagas betis. Itu aslinya warok. Kalau sekarang, karena sekarang ini istilahnya ada pengembangan, akhirnya diadakan tambahan tari warok.”

Seseorang tidak menyebut dirinya sendiri sebagai warok, melainkan istilah itu disematkan oleh orang lain atau oleh kelompok reognya. Syarat menjadi warok pun tak mudah, lanjut Bikan Gondowiyono.

“Warok dulu itu orang jejaka atau orang yang sudah bekeluarga itu berguru ilmu. Ilmu itu mempunyai kekuatan, lahir dan bathin. Dalam arti lahir itu mempunyai daya kekebalan. Kekebalan kalau sekarang dinamakan kesendikan prawiran uleting kulit atosing balung, itu asli ilmu warok Ponorogo. Lha ilmu-ilmu itu didapat dari orang tua, didapat dari para kiyai.”

Istilah dalam bahasa Jawa itu bermakna kebal seperti perwira yang berkulit liat dan bertulang keras.

Untuk mempertahankan kesaktiannya, warok dilarang berhubungan seksual dengan lawan jenis.

Bekas warok Tobroni mengatakan, para warok dulu memilih memelihara gemblak, yaitu lelaki belia berwajah tampan.

Sesepuh Warok Tobroni
“Ada dari gurunya yang memberikan satu wejangan. Dia tidak ngumbar nafsunya itu dengan seneng wong wedhok (perempuan –red). Lha karena orang kalau waras itu mesti punya nafsu. Lalu warok jaman dulu itu ngingu (mengambil-red) bocah bagus. Bocah lanang sing ayu (lelaki muda tampan –red). Itu diingu (dipelihara –red). Disekolahi, dikek i ragad. Lha ini gunanya apa? Supaya dia itu tidak terlanjur..., birahinya itu lalu menuju pelampiasan nafsu itu.”

Tobroni pernah memiliki 4 gemblak yang tinggal bersamanya. Ia mengurus kebutuhan mereka: makan, tempat tinggal, hingga sekolahnya.

Jumlah gemblak untuk satu warok menjadi ukuran status sosialnya di masyarakat, lanjut Tobroni.

“Kalau saya menurut kebutuhan saya. Saya kebutuhan 4 penari Jathil ya sudah. Tapi waktu warok jaman dulu, itu menyesuaikan dengan status sosialnya. Mbah Mardi itu gemblaknya sampai 6. Karena dia warok yang kaya. Dia kepingin kondang. Wah kalau pergi mantenan dibawa semua enam. Lha ini ini untuk meningkatkan status waroknya.”

Gemblak Dikontrak

Seorang warok bisa mencari gemblaknya sendiri, atau mengutus kurir. Gemblak dicari tidak hanya di Ponorogo saja, namun juga dari luar Ponorogo. Setelah calon gemblak dipilih, dilakukanlah lamaran atau pinangan kepada orangtua.

Ini yang dialami Dirman, salah satu bekas gemblak yang kini mengajar seni tari di SMPN 1 Jetis Ponorogo.

“Kontraknya kan dua tahun biasanya. Dua tahun itu apa nanti sebagai kompensasinya kepada orang tuanya. Apakah diberikan lembu. Biasanya lembu. Kalau tidak lembu misalnya garapan sawah selama dua tahun.”

Dirman dan Koleksi Dadap Merak
Setelah kontrak disepakati, maka akan ada penjemputan. Upacara digelar di rumah orangtua gemblak terpilih dan mengundang para tetangga.

Lalu gemblak diboyong ke komunitas warok, tempat ia akan dilatih menjadi penari dan memberikan pelayanan, lanjut Dirman.

“Makanya gemblak itu identik anaknya memang harus cakep ya. Usia antara 12 sampai 17 tahun. Kulitnya bersih, tampan karena nanti kalau ketika dipoles untuk menjadi penari jathilan, dia menjadi cantik kelihatannya.”

Dirman dilamar menjadi gemblak ketika berumur sekitar 14 tahun.

“Anak-anak tidak ada rasa. Pokoknya ya penurut sama orang tua seperti itu. Biasa, mereka tidak memiliki rasa apa-apa. Hanya mungkin pindah rumah saja begitu. Jadi belum merasakan sesuatu apa. Hanya adaptasi. Biasanya bisa berjalan melenggak ke sana bermain, sama anak-anak sama teman-temannya bermain kotor gitu. Tapi di sini tidak. Semuanya harus diatur. Karena setelah di tempat baru itu dididik kepribadian.”

Dirman dikontrak selama 4 tahun oleh dua kelompok reog yang berbeda. Selama masa kontrak, dua hari sekali Dirman harus berpindah-pindah dari warok satu ke warok yang lainnya. Tugasnya, menemani dan melayani segala kebutuhan warok.

“Jadi menemani di manapun. Ya di manapun bapakan kita berada, kita harus selalu di sampingnya.”

Termasuk saat tidur?

“Ya. Tidur kan tidak-tidak selalu... dengan dia kan hanya dua malam ya. Kan waroknya ada juga yang masih bujang. Sinoman-sinoman itu masih bujang atau yang sudah berumah tangga. Karena ini merupakan budaya, misalnya saya akan tidur bersama warok yang sudah beristri. Justru istrinya itu nanti yang akan menyiapkan kamar saya bersama bapak saya. Itu kamarnya akan ditata indah, diberi pengharum, dan lain sebagainya seperti itu.”
Dirman, Saat Menjadi Gemblak Menari Jathilan
Dirman juga harus memenuhi kebutuhan biologis bapak waroknya.

“Ilmu kanuragan yang dimiliki warok itu tidak akan hilang apabila dia bercinta dengan gemblak. Dengan selain perempuan. Jadi mereka memelihara gemblak dalam rangka itu biar dia tidak berhubungan dengan wanita, selain dengan istrinya maksud saya.”

Namun, dua sesepuh warok Tobroni dan Bikan Gondowiyono tidak serta merta membenarkan cerita Dirman.

Tobroni mengaku tidak membiarkan gemblaknya satu rumah dengannya. Ia hanya membutuhkan gemblak untuk menemani ke acara tertentu, atau untuk pentas sebagai penari Jathil.

“Homoseksual? Tidak ada. Paling banyak ngambung Paling banter ngambung. Lha dia itu mencari gemblak itu untuk menghemat energi.”

Ngambung artinya mencium.

Sedangkan Bikan Gondowiyono mengaku tidak sekalipun menyetubuhi gemblaknya seperti warok-warok lain pada masa itu. Ia memilih menjadi lajang selama menjadi warok.

“Karena warok itu ya bertahan karna ilmu, yaitu dilarang untuk kumpul orang putri (perempuan -red). Lha kebiasaannya itu ya si jokonya (membujangnya -red) itu ya sampai lama. Sampai 15 tahun, 10 tahun, 20 tahun, itu ya karena kebanggaan gemblak itu.”

Pola hidup antara warok dan gemblak memunculkan kontroversi. Perubahan atas keberadaan warok dan gemblak terjadi pada akhir 1970-an. Seperti apa warok dan gemblak reog saat ini?

Perubahan Wajah Reog
Keberadaan gemblak dipandang miring, terutama oleh kalangan agama. Tradisi gemblak, yaitu lelaki muda tampan berperan sebagai penari jathilan, sekaligus hidup serumah dan mengurus kebutuhan warok atau pemimpin kelompok seni Reog, meluntur.
Warok dalam pentas reyog malam bulan purnama.
Reyog Malam Bulan Purnama di Alun-alun Ponorogo
“Dulu gemblak itu untuk menari Jathil di waktu pentas Reog. Nah, sesudah tahun diperkirakan tahun 70 ke atas, itu tari gemblakan itu kan seakan-akan istilahnya diwadani opo gimana, itu dilok-lokne ya, dicaci makilah. Dicaci maki, bahwa itu menurut dalil Islam, katanya ya itu lelaki seneng sama lelaki, katanya gitu. Lha itu yang menuntut itu pak Kiyai Gontor dulu. Inget saya.”

Pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo Yusuf Harsono mengatakan tradisi gemblakan dianggap sebagai sesuatu yang abnormal di kalangan masyarakat.

“Dari kaca mata sosial saya rasa begitu ya masyarakat. Karena memang norma yang berlaku ya namanya hubungan itu ya tetep hubungan laki perempuan ya. Hubungan intim itu. Tapi sekali lagi itu barangkali masa lalu. Masa lalu yang sekarang nggak mudah dijumpai. Ya sekali lagi nggak mudah dijumpai, itu bukan berarti tidak ada. Ya karena memang tidak mudah dieksplor. Dan mengapa tidak mudah dieksplor, ya sekarang karena memang kontrol sosial masyarakat begitu kuat ya. Jadi warok yang begitu dianggap oleh masyarakat tidak tidak benar ya.”

Sementara Sekretaris Yayasan Reog Ponorogo Budi Satrio berbeda pendapat soal tudingan perilaku homoseksual antara gemblak dengan waroknya. Menurutnya, tradisi itu tidak melulu berorientasi pada seks, namun lebih pada pengabdian.

“Nah mungkin ada juga satu dua warok yang homo. Nah itu kan beda. Tapi gemblakan secara umum tidak seperti itu. Gemblakan itu adalah abdi dalem. Karena warok itu butuh meditasi butuh bersemedi, nggak boleh bersentuhan dengan perempuan karena nanti syahwatnya akan muncul. Makanya dia menghilangkan sejenak kegatan-kegiatan apa keduniaan, dia berfokus pada kegiatan olah rasa, olah fikir. Nah untuk memenuhi kebutuhan itu, dia ada yang melayani itu. Lha itu yang disebut dengan gemblak.”

Desakan nilai-nilai agama memaksa kesenian reog memodifikasi diri. Para sepuh warok meyakini, kini tidak ada lagi warok sakti, sehingga tidak ada kebutuhan untuk memelihara gemblak.

Sekretaris Yayasan Reog Ponorogo Budi Satrio mengatakan, posisi seorang gemblak sebagai pasukan kuda penari Jathilan, saat ini dimainkan oleh perempuan.

“Reog itu semuanya sebetulnya identik dengan laki-laki. Termasuk Jathil tadi. Tapi karena kita ya kesulitan. Kalau ndak diganti, nanti suatu saat kesenian ini akan hilang, karena satu unsurnya nggak ada. Ya sudah kita lakukan itu. Yang penting pokoknya kesenian itu utuh. Ada perubahan memang dalam penggarapan itu, yang tadinya pasukan berkuda itu laki-laki yang kemayu, sekarang kebalikannya. Pemainnya perempuan tapi gagah perkasa.”

Sementara sepuh warok Bikan Gondowiyono mengatakan, komposisi jumlah pemain dalam satu pertunjukan pun sudah mengalami perubahan.

“Contohnya saja jumlah pemain ya. Jumlah pemain itu namanya Kelono Sewandono itu harus 1. Lha terus Ganongan itu harus 1. Nyatanya pentas lomba Ganongan ada 4 juga dimainkan. Lha ini yang nggak benar. Karena semua itu kan berdasarkan sejarah, cerita legenda.”

Perubahan-perubahan itulah yang membuat Reog saat ini sekedar festival tahunan Pemkab Ponorogo saja, tutup Bikan.

“Sekarang karena Reog itu sudah bernaung di bawah pariwisata, Ponorogo termasuk kota pariwisata Kota Reog, lha ini, ya hanya sebatas pariwisata. Untuk melestarikan Reog itu sudah luntur. Sedangkan pakem itu sendiri, yang dibawa ke lomba itu sudah luntur dengan kriteria yang ada.”

Bagi Dirman, tidak ada yang salah saat ia melakoni peran gemblak sekitar tigapuluhan tahun lalu. Namun Dirman terhentak dengan tayangan di televisi tentang kehidupan gemblak.

Di tayangan itu, seorang waria mengaku pernah menjadi gemblak. Dirman sangat yakin waria itu bukanlah bekas gemblak. Ia akhirnya mencari tahu soal itu, dan terungkap kalau waria pada tayangan itu adalah pemeran bayaran yang berbicara seolah dia bekas gemblak.

“Makanya itu saya minta tolong itu untuk diluruskan bahwa, setelah jadi gemblak, selesai masa kontrak, dikembalikan ke orang tuanya, dia menjadi anak-anak, remaja, ABG. Belum remaja. ABG. Setelah ABG remaja, setelah remaja mereka married (menikah –red), menjadi keluarga baru lagi. Seperti itu. Tanya yang lain. Tidak ada namanya waria, tidak ada namanya banci, tidak ada gay.”

Setelah pensiun, Dirman membuka sanggar tari Kartika Puri dan menjadi guru seni di SMPN 1 Jetis Ponorogo. Ia sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Mimpinya untuk terus melestarikan reyog.

“Saya memang punya mimpi, ingin memiliki suatu tempat untuk berkesenian Reog. Ya jadi saya membuat tempat sanggar seperti ini. Kemudian saya melengkapi dengan alat-alatnya seperti properti dadak merak, reog, kemudian gamelan, busana, tempat latihan, tempat untuk homestay, siapa pun bisa tidur di sini, datang di sini, ya silahkan ini dipakai. Karena saya pengen ya reog ini dikenal di mana-mana.”
Sumber : KBR68H
Kontributor KBR68H : Maratul Khasanah

Comments

  1. Saya kurang setuju kalau pola hubungan gemblak-warok itu tidak normal. Kapan? Oleh kacamata siapa? Kalau dari kacamata kalangan santri jelas tidak normal. Tapi masyarakat Ponorogo (dulu) menerima kenyataan itu, dan tidak pernah ada konflik antarpandangan. Perkembangan syiar agama (samawi) kemudian memberi penilaian pada pola itu. Dari yang saya serap dari para eks gemblak, betul kata Budi Satrio dan Bikan, hubungan itu bukan 100% homoseksual, tapi kasuistis. justru warok dilarang menumpahkan air mani karena "menipiskan kulit". Oleh karena itu kalau warok ingin mempertahankan kesaktiannya, ia harus wadat (selibat, membujang terus). Jaman dulu masih banyak dijumpai WAROK sejati seperti ini bukan WAROKAN. Warokan, sama seperti preman kita sekarang menumpang nama untuk kepentingan duniawiah, dangkal, bukan pada ritual kepercayaan mereka. Kita harus hati-2 menilai pola hubungan itu sebab usianya jauh lebih lama ketimbang kita ini, perlu meletakkan pada konteksnya yang sesuai.
    Bagaimana pun semua pandangan saya harapkan untuk kepentingan kota Tercinta Ponorogo, mendudukkannya pada "sejarah" yang sesuai dan bukan dimanipulasi untuk membenarkan pandangannya sendiri. Salam Hok'e asolo'eee (coba teriakan ASOLOLEEE sekarang ini jaman saya masih remaja adalah ASOLO'EEEE...Tapi saya menerima model sekarang dengan catatan anak sekarang harus mengakui kebenaran "sejarah" itu) Asolo'eeeee

    ReplyDelete
  2. Pandangan masyarakat atas hubungan warok-gemblak, berkembang seiring kemajuan pengetahuan publik. Hubungan sebenarnya waktu itu, selalu dinilai dari norma kekinian, Itu yang keliru. Saya prihatin banyak tokoh Ponorogo sendiri yang mengingkari sejarah warok-gemblak dan menganalisis memakai ukuran agama samawi yang muncul kemudian karena mungkin rasa "malu" ata ukuran kekinian itu. Kita tak usah malu pada sejarah warok-gemblak, karena itu kenyataan sejarah. Kalau ingin memperbaiki citra Ponorogo, ya pakailah ukuran kekinian. Banyak yang harus diluruskan mengenai hubungan itu. Salut atas dimuatnya artikel ini. Aaolo'eeee

    ReplyDelete
  3. Agama impor siapa yg jamin pasti paling benar???
    sy lbh percaya tradisi budaya leluhur yg membesarkan kita,
    Nenek moyang lbh mengenal Tuhan drpd oknum pemuka agama impor,

    ReplyDelete

Post a Comment

INDONESIA DANGEROUSLY BEAUTIFUL ....
Besar harapan kami dapat memberikan jembatan untuk dapat saling silaturahmi sesama warga Ponorogo dimanapun berada.
Tinggalkan komentar anda sebagai wujud partisipasi dukungan untuk kami. Terima kasih.