Apakah reyog masih menjadi roh Ponorogo?

Salah satu komunitas reyog Ponorogo di Australia (Singo Sardjono)
Pertanyaan ini tiba-tiba muncul setelah beberapa hari menemani teman-teman sineas Ponorogo saat workshop sinematografi dalam rangka Festival Film Ponorogo (FEFO) 2014. Banyak sekali ide dari teman-teman sineas (mungkin lebih tepatnya calon ya hehehe) yang menyentil ‘keangkuhan’ reyog sebagai identitas Ponorogo. Saya sengaja memakai kata ‘keangkuhan’ karena satu hal, reyog hanya nempel seperti slogan dan tidak sadar sedang ditinggalkan oleh masyarakatnya. Ini satu ‘tuduhan’ serius yang harus dibuktikan dan sayangnya saya hanya bisa menuduh. Tuduhan ini saya lontarkan karena sampai saat ini saya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan seperti : Apakah perempuan boleh jadi bujang ganong? Apakah perempuan berjilbab boleh menjadi jathil? Apakah reyog harus memakai ritual? Apakah boleh reyog tanpa jathil? Dan apakah-apakah lain yang membuat anak-anak muda seperti enggan menyentuh reyog. Dan sangat bisa dimaklumi jika kemudian anak-anak muda lebih tertarik mendalami seni yang lain.
Saya pernah membayangkan Ponorogo menjadi kota karnaval yang besar. Mengapa karnaval? Karena reyog adalah karnaval. Jika kemudian reyog dalam Festival Reyog Nasional ditampilkan dalam format panggung dan sendratari, itu sudah proses kreatifitas yang tidak tertahankan untuk mengikuti jaman. Jember yang tidak punya akar karnaval bisa menjadi salah satu kota karnaval terbesar di dunia. Harusnya ponorogo yang mempunyai reyog sebagai roh kota bisa juga menjadi kota karnaval terbesar di dunia. Namun ada pikiran yang mengganggu saat berjalan menyusuri jalan kota, banyak jalan dibuat double way, jalan yang tentu saja tidak pas untuk sebuah karnaval. Ingatan saya langsung pada kirab pusaka tiap suro yang hasilnya ‘berantakan’ karena satu sebabnya jalan yang doubel way. Jalan double way membuat karnaval berada di pinggir yang tentu saja akan membuat berbagai masalah muncul. Saya hanya bergumam dalam hati, “dulu yang mendesain jalan double way di Ponorogo sepertinya tidak memikirkan arak-arakan reyog”. Jika reyog memang sudah menjadi roh ponorogo, hal pertama yang dipikirkan tentang jalan adalah bagaimana reyog bisa ‘melenggang’ indah di jalan-jalan kota. Namun jika pembuat jalan saja tidak kepikiran hal sekecil ini, saya semakin kuat menanyakan, Apakah reyog masih menjadi roh Ponorogo?
Semoga pertanyaan saya ini bisa terjawab dengan tegas oleh para sineas yang saat ini sedang bekerja keras mengatur waktu antara sekolah dan karya untuk FEFO 2014. Semoga. (Dimas Nur)

Comments