Rute Kabur Masih Gelap

Ada belasan jalan tikus dapat dilalui komplotan perampok bersenjata api (bersenpi) yang menggondol 3,5 kilogram perhiasan emas dan uang tunai puluhan juta rupiah di Pasar Banu, Baosan Kidul, Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. foto hanya ilustrasi/google
Hingga hari ketiga kemarin (27/5), tim Cobra dan Walet dari Polda Jatim yang mem-back up anggota resmob Polres Ponorogo belum mendapat temuan berarti. ‘’Ada belasan jalan alternatif dari Ngrayun ke perbatasan Trenggalek, Pacitan, dan Wonogiri,’’ sesal Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Hasran.

Sejatinya begitu aksi perampokan yang menggemparkan itu pecah, pada Senin (25/5) lalu, penyisiran ke kawasan hutan di Ngrayun langsung dilakukan. "Saya meyakini satu dari belasan jalan yang hanya dapat dilalui sepeda motor itu menjadi rute pelarian,’’ imbuh kasat reskrim yang turun langsung memimpin penyisiran dengan motor trail.

Berbekal rekaman video amatir yang berhasil diabadikan salah seorang pedagang pasar polisi kemarin berupaya kembali menjumput informasi dari tempat kejadian perkara (TKP) untuk kembali mengumpulkan petunjuk. Hasran tidak menampik kawanan perampok itu cukup terlatih menggunakan senjata api. ‘’Setidaknya pernah mendapatkan pelatihan menggunakan senjata api,’’ duganya.

Yaimen, seorang saksi mata, mengaku melihat langsung saat seorang pelaku memegang dua pistol. Perampok itu memutar-mutar pistol dengan telunjuk tangan setelah memuntahkan peluru ke udara. Obral tembakan itu dari pistol di tangan kanan dan kiri. Moncong senjata juga diarahkan ke dinding. ‘’Setelah dor, pistolnya diputar-putar dulu. Terus dor lagi,’’ ungkapnya.

Hasran mengaku sudah mengantongi nama sejumlah resedivis yang patut dicurigai. Tanpa kecuali, daftar desertir anggota TNI atau Polri. Ditanya keterkaitan aksi perampokan dengan komplotan terorisme, Hasran enggan berandai-andai. ‘’Kami masih menunggu hasil labfor untuk mengetahui jenis dan asal senjata yang digunakan,’’ paparnya..

Disadur dari : radarmadiun.info

Comments