Gong Tumbeng Iringi Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo


Untuk kali pertamanya pagelaran macapat yang diadakan di Rumah Dinas Bupati Ponorogo ini diiringi oleh kesenian gong gumbeng. Naman yang lucu mungkin, padahal tidak ada gamelan yang berupa gong ditemukan disana, namun ketika dimainkan terasa ada suara menggaung mirip gong, gooonng...... gooooonggg.... yang halus. Ternyata suara tersebut berasal dari bambu panjang yang ditiup, didalamnya ada bambu kecil lagi sehingga ketika ditiup suara menjadi menggema.

Gong gumbeng ini ada sejak belum adanya reyog, belum adanya kabupaten Ponorogo. Menurut sejarahnya ini adalah cara para leluhurnya yang mengalami keterbatasan dana atau situasi pada jaman intu sehingga membuat alat musik yang hasil suaranya mirip dengan gamelan yang ada pada era itu. Sungguh kreatif nenek moyang mereka.


Sedangkan suara melodi berasal dari 14 angklung mulai ukuran kecil sampai terbesar, yang digantung menjadi 1 pajangan mirip jemuran pakaian, yang dimankan oleh 4 orang, ditap orang memengang 3-4 angklung dan digerakan sesuai tugasnya masing-masing sehingga membentuk suara yang harmoni mirip kecapi dan kenong, ataupun kempul. Sedangkan pengendang tugasnya menjadi pemandu lagu atau nada.


Macapat dimulai dengan tembang Pambuko (pembuka) oleh ketua paguyuban macapat, menurutnya yang ditembangkan adalah tembang Dhandang Gulo, yang sayup-sayu petikan sairnya berikut ini;
Dhandhang Gulo
Niyatingsun arsa hamiwiti
Sarasehan kidungan macapat
Den udi murih manise
Allah kang maha agung
Maha rahman lan maha rahim
Mugi ngijabahana
hajad amba sagung
Ngleluri budaya jawa
Sastrajendra hayuningrat wus cumawis
Hanjog maring hakekat
Dan setelah tembang pembuka dilanjutkan tembang Ilir-ilir gubahan Sunan Kalijogo, dan selanjutnya diartikan makna tembang Ilir-ilir tersebut, yang merupakan petuah maupun nasehat yang luar biasa tentang beragama, bermasyrakat dan bernegara.

Selanjutnya tembang ditembangkan bergiliran, berkeliling ke arah kanan penembang pertama.Setiap orang mendapat giliran, meskipun usia mereka tua namun semnagatnya luar biasaya, mungkin karena faktor suka pada seni macapat sebelumnya. Begitu juga bupati maupun kepala dinas yang berada dalam lingkaran, tembang-tembang tersebut sudah disiapkan dalam bentuk buku scrib yang dibagikan ketika acara dimulai.
(Baca : Tembang Macapat di Rumah Dinas Bupati Ponorogo)
 



Dalam buku tersebut ada beberapa tembang diantaranya dhandang gula, mijil, kinanthi,sinom, asmaradana, dan pangkur. Yang telah digubah sesuai pakem tembang masing-masing, meski sair berganti-ganti namun cara menembangkannya tetap sesaui pakem tembang, yang tiap tembang tersebut mempunyai kosa kata terakir berkahiran sama dengan pakem setiap tembang.


Sair-sair tersebut sudah disiapkan oleh paguyuban macapat yang diberi judul "Pakarti luhur wedahring nur kang wening, kidung dumadine Ponorogo", yang menceritakan babad Ponorogo mulai datangnya Raden Katong di Ponorogo sampai terbentuknya kabupaten Ponorogo. Sair-sair tersebut berasal dari kata-kata serat Babad Ponorogo Bathoro katong, dari buku karangan Purwowidjoyo dan serat Babad Patah Panembahan Jimbun.

Tembang-tembang dimulai peristiwa kekacauan di Majapahit, perintah Raden Patah kepada Raden Katong untuk memadamkan pemberontakan Ki Ageng Kutu di ponorogo, sampai keberhasilan raden Katong sampai dianugerahi penghargaan menjadi bupati pertama Ponorogo. Berikut sebagian sair tersebut;
Sinom
Raden katong pinaringan
Pangkat dadi adipati
Seloaji pinaringan
Pangkat minangka patih
Mirah dipunparingi
Pangkat ninagka pengulu
Dene wewengkoniro
Kawasan kang wus den titi
Lawu-Wilis mengidul pantog segoro
Tembang yang berasal dari Serat Raden Patah tersebut bearti, Raden Katong dianugerahi pangkat adipati, Seolaji dianugerahi pangkat patih, Ki ageng Mirah dianugerahi pangkat kepala urusan agama, sedangkat wilyah barat dan utara mulai perbatasan gunung Lawu, timur gunung Wilis, sampai laut selatan.

Mereka bangga seni yang selama ini menjadi samben (sampingan) mendapat apresiasi dari pemeritah, apalagi diminta tampil mengiringi macapat di Pringgitan yang terkenal sakral dan dihadapan para pejabat Ponorogo, mereka juga bangga bisa ikut meramaikan hari jadi Ponorogo yang ke 519.

"Selamat Hari Jadi Ponorogo ke 519"

Sumber : PariwisataPonorogo.com

Comments